[FOLLOW SEBELUM MEMBACA]
[COMPLETED]
Kecelakaan yang dialami Stella membuatnya merasa berada di dasar terendah dalam hidup. Saat itu, Stella membenci hidupnya. Ia juga teramat membenci dalang dari hilangnya pengelihatan dan fungsi satu kakinya.
Na...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Stella nyaman gue selipin di keteq.
***
Satu kelompok dengan Bara bisa dibilang musibah bagi Stella. Bukan hanya harus bersama dengan Bara dan terus mendengar omelannya, tapi Stella juga harus mengerjakan tugas yang seharusnya berkelompok itu sendirian. Bara sama sekali tidak membantu, selain mengomel terus-terusan, pemuda berambut kecokelatan itu malah asyik memainkan ujung rambut Stella.
"Stella," panggil Bara.
"Hmm," sahut Stella. Gadis yang rambutnya sedang dimainkan Bara itu terus menulis tanpa mau repot-repot menoleh pada Bara.
"Stella," panggil Bara lagi.
"Hmm."
"Stella," panggil Bara sedikit menarik rambut gadis itu.
"Apa, Bara?" sahut Stella lebih halus meskipun masih enggan berpaling dari tugas yang sedang dikerjakannya.
"Lo cantik," celetuk Bara. Stella yang mendengar itu langsung menghentikan gerak tangannya dan menoleh pada Bara dengan tatapan heran.
Bara hanya tersenyum miring menyambut tatapan aneh Stella. Gadis itu tidak bersuara dan terus menatapnya dalam diam.
"Tapi boong," lanjut Bara dengan santainya. Hal itu malah membuat Stella kesal dan berhasrat ingin memukul wajah Bara pakai pantat panci.
Stella kembali melanjutkan pekerjaan kelompoknya dan mencoba mengabaikan Bara yang menyebalkan itu.
"Stella," panggil Bara lagi saat Stella sudah kembali fokus dengan tugasnya. Stella mendengar panggilan itu, tapi ia malas menjawab dan meladeni Bara yang menyebalkan.
"Kenapa lo dengan begonya mau aja dideketin Rigel?"
Mendengar nama Rigel, telinga Stella langsung menajam. Gerakan tangannya terhenti lagi dan ia menoleh pada Bara sambil bertanya, "Kenapa emangnya?"
Bara mengangkat bahu cuek, tidak membalas tatapan Stella dan malah sibuk memainkan ujung rambut gadis itu di tangannya. Idiot sekali.
"Lo harusnya jauhin dia," jawab Bara pada akhirnya. Stella dibuat mengerutkan alis dengan ucapan Bara itu. Ia jadi teringat kembali peringatan serupa pernah Rigel berikan padanya.
"Memangnya Rigel kenapa?" tanya Stella penasaran. Kedua orang itu meminta Stella menjauh dari lawannya masing-masing, ia jadi penasaran ada apa sebenarnya di antara Rigel dan Bara.
"Dia berengsek. Lo kalau enggak mau sakit hati, mending jauhin itu cowok bangsat," ujar Bara dengan sedikit rasa kesal.
Stella jadi bingung, peringatan dari siapa yang harus ia turuti? Rigel memintanya jauh dari Bara entah karena apa, dan sekarang Bara memintanya menjauh dari Rigel karena katanya lelaki itu berengsek. Entah Stella harus percaya siapa, yang jelas, peringatan dari Bara tidak bisa ia lakukan, sebab Stella tidak mau menjauhi Rigel.