[FOLLOW SEBELUM MEMBACA]
[COMPLETED]
Kecelakaan yang dialami Stella membuatnya merasa berada di dasar terendah dalam hidup. Saat itu, Stella membenci hidupnya. Ia juga teramat membenci dalang dari hilangnya pengelihatan dan fungsi satu kakinya.
Na...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Rara
***
Rara duduk dengan bosan di bangkunya, ia beberapa kali membuka buku pelajaran dan mulai merasa pusing karena semalaman pun ia sudah belajar mati-matian.
Suasana kelas 12 IPA 7 tidak terlalu kondusif, sebab guru-guru sedang mengadakan rapat di jam pertama sehingga murid-murid diminta untuk belajar sendiri. Namun, tidak semua murid-murid 12 IPA 7 itu rajin, sebagian memang ada yang belajar, tapi mayoritas murid memilih untuk bersantai sambil bersenda gurau.
Mengembuskan napas lelah, Rara lagi-lagi menoleh ke bangku di sampingnya, ia tidak melihat Bara atau Stella di sana. Bahkan tas keduanya pun tidak ada, Stella juga tidak memberitahu jika dia akan absen, jika terlambat datang pun ini sudah lebih tiga puluh menit dari bel masuk berbunyi, agak tidak mungkin Stella terlambat sampai setengah jam begitu. Rara jadi khawatir Stella ke mana, ia tadi sempat mengirim chat, tapi tidak ada tanggapan.
Rara benar-benar merasa kesepian di tengah suasana kelas yang cukup ramai. Rara memang menjaga jarak dengan beberapa teman sekelasnya, ia merasa tidak menemukan kenyamanan berteman dengan mereka. Ada kubu penggosip, kubu anak-anak Einstein, kubu anak-anak aneh yang rusuh, dan Rara tidak menemukan kenyamanan bergaul dengan salah satu dari kubu-kubu itu.
Pandangan Rara beralih ke bangku di depan tempat duduk Stella dan Bara. Bangku itu kosong juga, Aldi dan Andre bilang ingin pergi ke rooftop beberapa saat yang lalu. Rara sempat diajak, tapi ia tidak menemukan alasan bagus untuk ikut bersama dua kuman itu. Pada akhirnya, Rara harus bosan sendiri di kelas.
Rara memutuskan untuk pergi ke taman saja sambil membaca buku di sana. Ia langsung bangkit dari duduknya sambil membawa buku. Baru saja ia dua langkah menjauh dari tempat duduknya, Stella datang dengan kepala yang sedikit menunduk. Rara diam di tempatnya, membatalkan niatnya pergi ke taman, ia memperhatikan ada hal yang aneh dengan Stella.
"La, lo kenapa?" tanya Rara saat Stella sampai di tempat duduknya dan langsung menaruh tas sekolahnya. "Lo baru dateng? Emang gerbang dibuka?" tanya Rara lagi penasaran sambil mendekati Stella di tempat duduknya.
"Gue ... tadi di toilet lama," jawab Stella lesu. Ia memang berdiam diri di toilet lama sekali, sambil menangis.
"Lo nangis, ya?" tebak Rara dengan wajah iba, ia bisa melihat jelas wajah Stella yang habis menangis.
Stella menatap Rara, melihat Rara yang terlihat iba padanya, Stella menarik bibirnya untuk tersenyum kecil. "Udah enggak apa-apa," jawabnya kemudian.
"Kenapa, La? Kok nangis, harusnya hari ini wajah lo berseri-seri karena udah jadian sama Rigel."
Stella lagi-lagi hanya tersenyum kecil. Ia juga merasa harusnya ia bahagia dan berseri-seri karena resmi berpacaran dengan Bintang. Namun, nyatanya ia sangat kesulitan untuk melakukan hal itu. Sedari awal, Bara selalu saja merecokinya, membuatnya kelewat kesal hingga terus-terusan memikirkannya. Stella bahkan tidak bisa fokus memikirkan Rigel yang ternyata sosok Bintang. Pikiran Stella dominan diisi oleh Bara dan hanya tentang Bara. Hari ini pun, Stella lagi-lagi dibuat kelewat kesal dengan tingkah Bara, lelaki berambut kecokelatan itu benar-benar keterlaluan dan sangat menyakiti hatinya.