[SELAMAT MEMBACA, SEMOGA SUKA!]
***
Stella tidak mengerti apa yang ada di dalam otak Bara saat ini. Lelaki berambut kecokelataan itu sudah merecokinya dari beberapa hari yang lalu dan memaksanya untuk kencan—Bara sendiri yang bilang kencan, tapi Stella hanya mengartikannya dengan jalan biasa. Stella sudah menolak beberapa kali, tapi Bara kukuh dan terus memaksanya untuk kencan—jalan saja.
Stella bukannya tidak mau, ia hanya terlalu malu dan takut Bara melakukan hal yang aneh-aneh lagi seperti yang terakhir kali mereka pergi bersama. Sejujurnya, kata kencanlah yang membuat Stella agak sensitif, ia sudah tahu dari Verona tentang perasaan Bara padanya, dan Stella mendadak bingung harus bersikap bagaimana. Ada satu hal yang ia takutkan, dan Stella tidak mau hal itu terjadi terlalu cepat.
"Jangan bengong, entar kesambet," bisik Bara tepat di telinga Stella.
Stella merasa bulu halusnya meremang karena bisikan Bara, ditambah suasana horor dari tempat yang saat ini mereka datangi. Hal yang sedari tadi membuat Stella tidak habis pikir dengan Bara, lelaki itu malah mengajaknya ke sekolah, Stella tidak mengerti kencan yang dimaksud Bara itu bagaimana karena datang ke sekolah malam-malam. Mungkin Bara ingin mengajak Stella kencan bersama dengan hantu-hantu penghuni sekolah yang suka gentayangan saat malam. Sungguh, Stella sudah merasakan perasaan tidak nyaman itu sedari tadi.
"Bar gue enggak mau ke sini, balik aja yuk, takut," rengek Stella sambil menarik lengan Bara. Saat ini mereka sedang berjalan di koridor menuju tempat tujuan yang disiapkan Bara.
"Takut apa?" Bara menoleh pada Stella dan tersenyum miring. "Kan ada gue," lanjutnya sambil merangkul Stella agar lebih dekat denganya. Modus.
"Ih!" Stella melepaskan lengan Bara yang merangkulnya, itu bahaya. "Gue mau balik pokonya!"
"Mau balik?"
Stella dengan wajah kusut mengangguk cepat.
"Gih, sana balik sendiri," titah Bara dengan entengnya. Jelas Stella tidak mau, berjalan menuju gerbang sendiri saja ia tidak berani jika tidak ada temannya.
"Gue enggak mau kencan di sekolah tau! Lagian apaan sih, malem-malem gini ngajak gue ke sini? Mau ngajak uji nyali? Yang bener aja, Bara. Gue takut, enggak usah diuji lagi nyali gue emang enggak ada."
"Berisik, Stella. Lo kalau ngerengek-ngerengek gitu yang ada hantunya malah kesel sama lo. Mau lo diculik hantu terus dipaksa makan mie goreng yang ternyata belatung?" ancam Bara.
Stella semakin menekuk wajahnya dan memilih untuk tidak bersuara lagi. Mereka terus berjalan di koridor sepi menuju rooftop. Tentu saja lorong-lorong yang mereka lewati terasa sangat menyeramkan saat malam hari, Stella bahkan sampai komat-kamit membaca doa agar tidak melihat penampakan sesuatu yang mengerikan sedang merayap di ujung lorong.
Mereka sudah sampai di dasar tangga menuju rooftop dengan selamat tanpa melihat penampakan mengerikan di koridor yang sebelumnya mereka lewati. Stella naik tangga terlebih dahulu dengan hati-hati, dan Bara menjaganya di belakang gadis itu. Jika Stella mau, Bara bisa mengendongnya untuk ke rooftop, tapi gadis itu menolak mentah-mentah tawaran Bara dan memilih untuk naik tangga sendiri dengan hati-hati.
Sampai di undakan tangga terkahir, Bara tersenyum pada Stella, dan Stella malah membalasnya dengan alis berkerut bingung.
"Ngapain lo senyum?" tanya Stella curiga.
"Gue lupa bawa kuncinya di satpam," ujar Bara dengan senyum kecil tanpa dosa. "Lo tunggu sini ya, gue ke bawah dulu."
"NO!" teriak Stella takut. Ia menarik lengan Bara dan mencengkramnya kuat-kuat hingga membuat Bara meringis kecil. "Jangan tinggalin gue sendirian, please. Batal aja batal, kita pulang sekarang," rengek Stella nyaris menangis.
KAMU SEDANG MEMBACA
Starlight
Novela Juvenil[FOLLOW SEBELUM MEMBACA] [COMPLETED] Kecelakaan yang dialami Stella membuatnya merasa berada di dasar terendah dalam hidup. Saat itu, Stella membenci hidupnya. Ia juga teramat membenci dalang dari hilangnya pengelihatan dan fungsi satu kakinya. Na...
