BAB 32 ー Maaf

11.8K 1.1K 23
                                        

[Selamat membaca

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

[Selamat membaca. Pelan-pelan bacanya jangan kebut dan cuman baca dialognya doang ]
***

Stella dan Rara yang baru saja keluar dari kelasnya langsung dihadang oleh adek kelas resek bernama Antares Ardiatama. Antares dengan wajah songongnya bersidekap di hadapan kedua gadis itu. Rara memandang dengan tampang tidak suka, sementara Stella biasa-biasa saja.

"Ngapain lo?!"

"Kenapa lo yang nyolot? Gue ada urusannya sama dia," ujar Antares sambil menunjuk Stella.

"Ada apa?" tanya Stella dengan nada supertenang.

"Nih," Antares menyodorkan kotak berwarna kuning pada Stella, "dari Alta."

Stella menerima kotak kuning itu. Antares tidak bersuara lagi dan langsung berbalik saat Sella sudah menerima kotak titipan Altair.

"Gila ya, itu anak beneran enggak tahu sopan santun," gerutu Rara sambil memandangi Antares yang mulai menjauh.

Stella memandangi kotak berwarna kuning di tangannya, ia penasaran dengan apa isinya. Langsung saja Stella membuka kotak kuning itu dan menemukan foto-fotonya bersama Altair dulu. Stella meraih foto-foto itu dan menatapnya lama, Rara yang melihat apa yang dipegang Stella hanya diam, ia melirik pada Stella yang ekspresi wajahnya terlihat kusam.

Foto-foto itu menunjukan betapa mereka bahagia dulu. Senyum Stella dan Altair terlihat bahagia di sana, dan Stella tiba-tiba merasakan gelombang aneh di hatinya karena foto itu. Dulu, Stella sangat jatuh cinta pada Altair, tapi rupanya Altair hanya menjadikannya bahan permainan bersama teman-temannya. Altair hanya bersandiwara, ia hanya menjadikan Stella objek taruhan.

"La, elo enggak apa-apa?" tanya Rara mulai prihatin. Ia melihat raut wajah Stella yang muram melihat foto-foto itu.

Stella memaksakan sebuah senyum dan ia berikan pada Rara. "Enggak apa-apa," jawabnya lembut.

Rupanya masih ada secarik kertas di kotak itu. Langsung saja Stella mengambil kertas itu dan membuka lipatanya. Menarik napas lalu dihembuskan dengan perlahan, ia pun mulai membaca deretan kalimat yang tertulis di sana.

Stella, gue tahu lo sangat kecewa sama gue. Gue sadar, apa yang udah gue lakuin ke elo itu memang keterlaluan.

Lo pasti berpikir selama ini gue hanya sandiwara, gue akuin awalnya memang begitu, tapi setelah gue jalan dan ngabisin banyak waktu sama lo, gue menyadari hal itu bukan sandiwara lagi.

Foto-foto itu enggak berbohong, lo bisa lihat sendiri gue benar-benar bahagia sama lo, Stella. Lo enggak perlu berpikir tentang lo yang bahagia sendiri di foto itu, gue juga sama bahagianya. Lo jangan berpikir lagi bahwa hanya lo sendiri yang menaruh hati, karena saat itu kita sama-sama jatuh hati. Telat, ya? Sekarang gue udah terlanjur dibenci.

Gue harusnya jujur waktu itu, gue harusnya sesegera mungkin untuk berhenti dari taruhan anak-anak, tapi berengseknya gue malah bikin taruhan itu makin menjadi-jadi, dan gue benar-benar nyesel karena gengsi gue yang gede itu malah bikin gue nyakitin lo.

StarlightTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang