BAB 5 ー Peringatan dari Rigel

16.5K 1.4K 39
                                        

[AURORA BELLVANIA / RARA]

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

[AURORA BELLVANIA / RARA]

***

"Nih, silakan liatin muka gue sampai lo kobam."

***

Waktu masih menunjukan pukul 6.30 pagi, dan Stella sudah menginjakan kakinya di sekolah. Ia berjalan di koridor hati-hati dengan bantuan kruknya. Pandangan Stella tertuju ke lapangan basket, ada anak basket yang sedang latihan pagi di sana. Ia menangkap sosok paling mencolok di sana, lelaki berambut kecokelatan yang sedang serius mendribel bola basket.

Dipikir-pikir, Bara memang ganteng jika sedang serius bermain basket seperti itu. Stella jadi ingat, dulu banyak sekali siswi dari SMA Global yang mengidolakan Bara karena pemuda itu begitu keren saat di lapangan. Namun sayang, sosok Bara ternyata memiliki sikap asli tukang ngomel dan menyebalkan. Membuat Stella selalu melihat Bara yang berwajah masam dan jauh dari kata tampan.

Sampai di depan lift, Stella menunggu hingga pintunya terbuka. Ia masuk ke dalam lift sendirian, tidak ada orang lain lagi, sekolah masih sangat sepi. Saat pintu lift akan tertutup, seorang menahannya.

Pagi ini gue beruntung, batin Stella.

Sosok yang menahan pintu lift itu sempat beradu pandang dengan Stella sebelum ia masuk dan berdiri di samping gadis itu.

Pintu tertutup, lift mulai naik. Hening, Stella ingin mengajak Rigel berbicara, tapi ia malu dan bingung untuk memulai. Pada akhirnya, hanya keheningan yang terjadi di antara keduanya hingga lift sampai di lantai kelas 12.

Stella keluar terlebih dahulu, ia bimbang untuk mengucapkan kalimat atau sapaan apa pada pemuda berwajah superdatar itu.

"Stella," panggilnya.

Stella yang sedang melamun kaget saat mendengar panggilan itu. Sial, jantung gue.

"Ya?" Stella menoleh setelah tersadar.

"Jauh-jauh dari Bara," ucapnya dingin.

Stella mencoba meresapi suara Rigel, membandingkan dengan suara Bintang yang berusaha ia ingat. Lelaki itu jarang sekali bersuara, jika menjawab sering pendek-pendek, bergumam, dan menggunakan suara rendah. Hanya malam itu Bintang banyak berbicara itu pun teredam suara hujan sehingga tidak begitu jelas, dan Stella tiba-tiba putus asa, ia merasa suara Rigel berbeda dengan suara Bintang yang berbicara banyak malam itu.

"Stella," panggil Rigel lagi. Gadis itu malah terdiam dengan alis berkerut seperti memikirkan sesuatu.

"Eh, ya?" Stell mengerjap. "Sorry, tadi lo bilang apa?" tanyanya lagi.

Rigel diam sesaat, menatap Stella lurus ke bola matanya. "Jauh-jauh dari Bara," ulangnya.

"Bara? Kenapa?" tanya Stella bingung.

StarlightTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang