Bab 35

82 8 0
                                    

Velandra Victoria POV

Tidak mendengar jawaban dari Alex, rasanya lebih menyakitkan dari apa yang kurasakan saat ini.

"Terus?" Kudengar, Alex bertanya dengan nada datar.

Astaga! Sekarang bukan saatnya bernada datar, tolol!

Hampir saja, aku meneriaki kalimat itu.

Aku segera melepaskan diriku dari pelukkannya. "Kamu tuh ya..."

Ehm, tunggu. Memangnya dia kenapa ya?

Alex mengangkat alisnya sebelah. "Gue kenapa?" tanyanya datar.

Rasanya aku batal menangis karena sekarang, aku cenderung ingin marah padanya.

Apa dia tidak sadar bahwa aku mencintainya? Apa dia tidak sadar bahwa aku tidak mau dijodohkan dengan perjodohan sialan itu karena dirinya? Apa dia...

"Kamu tuh ga peka ya?" Hanya pertanyaan itu yang bisa kulontarkan setelah beberapa saat mencari pertanyaan yang cocok.

Alex mengernyit heran. "Ga peka apanya?" tanya Alex.

Ini anak ingin memancing emosiku atau supaya aku mengatakan yang sebenarnya sih? Rasanya ingin marah-marah saja menghadapi anak sejenis ini.

"Kamu..." kataku sambil memelototinya. "Kenapa responmu datar begitu sih?!"

Alex tertawa kecil. "Emangnya, gue harus ngerespon apa? Kan yang dijodohin juga elo," katanya.

"Kamu juga," sahutku singkat.

"Iya deh," katanya lagi. "Tapi, gue harus ngerespon apa? Kalo lo jadi gue, lo pengen ngerespon apa?"

Aku terdiam sambil mengusap air mataku yang masih tersisa. "Yah, aku sih...ga bakal ngerespon," kataku pelan.

"Ya udah," kata Alex. "Jadi, gue ga perlu ngerespon kan? Respon gue cukup datar aja kan?"

"Tapi kamu orangnya ga datar kayak gitu!" seruku kesal.

"Emang, biasanya gue gimana?" tanya Alex.

Nah loh mampus. Aku bingung mau jawab apa.

Aku buru-buru menunduk karena tidak tau harus menjawab apa dan terdiam. Kenapa di saat aku mulai mencintainya, dia malah bersikap begini? Apa aku aja kali ya yang kege-eran Alex suka sama aku?

Tapi Kila, Cindy, dan Nita yang ngomong begitu! Dan juga Alex sendiri!

Kudengar Alex tertawa kecil dan menyelipkan rambutku ke belakang telingaku. "Gue tau kok, biasanya gue gimana," katanya sambil tersenyum.

Aku menatapnya. "Gimana?" tanyaku menantang.

Alex segera menekan kedua pipiku hingga mulutku membentuk seperti mulut ikan. "Jadi, kenapa lo bisa dijodohin kayak gue?" tanyanya santai.

Aku tersenyum dalam hati. Ini Alex yang biasanya.

"Mana aku tau," kataku susah payah, karena pipiku ditekan oleh Alex. "Waktu kamu pulang dari rumahku, aku disuruh ke ruang keluarga dan ternyata mau bicarain soal perjodohan tolol itu."

Alex tersenyum. "Jangan bilang gitu. Nanti, kalo lo beneran sayang sama jodoh lo gimana?" tanyanya iseng.

Aku melotot. "Ga akan ya," kataku spontan. "Lagian, kenapa sih masih dijodoh-jodohin? Kenapa orangtuaku ga ngijinin aku cari pasangan sendiri? Memangnya, aku ga bisa dipercaya soal begituan ya?"

{#MGF1} My Girl Friend My Soulmate--CompletedTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang