"Eh, La. Yang cowok tadi itu beneran pacar lo?" tanya Vina kalem.
"Bukan," sahutku enteng. Kudengar hembusan nafas lega dari Axel. "Yang tadi itu adiknya Axel. Emangnya, kamu ga denger kalo tadi dia bilang "kakak gue dan gue"?"
"Denger. Cuma gue baru sadar sekarang," kata Vina. "Terus, nih bajingan mau diapain?"
Aku tersenyum sinis. "Gitu-gitu juga kembaranmu," kataku sinis.
Vina mendecak sebal. "Gitu-gitu juga pernah jadi sahabat lo, keles."
"Karena pernah jadi sahabat, aku jadi nyesel punya sahabat sejenis dia," kataku dingin. "Udah, dia ga usah diapa-apain. Nanti kuberitahu ke Sheina, Tiara, dan teman-temanku yang udah ikut mencari pelaku penulis surat."
Vina manggut-manggut. "Oke," katanya padaku lalu menatap Ria. "Elo, ga usah masuk ke rumah!"
"Na, tapi gue..."
"Ga usah ada tapi-tapian," kata Vina dingin. "Lo belom puas udah matahin hati Vela? Lo belom puas udah berhasil manipulasi otak gue? Lo belom puas..."
"Jelas belom puas lah!" seruku jengkel. "Alex kan belom jadi milik dia."
"Oh iya ya," kata Vina sambil berkacak pinggang. "Alex bakal jadi milik lo setelah apa yang lakuin ini terbongkar? Jangan ngarep!"
"Kata gue." Tiba-tiba Axel angkat suara. "Itu namanya obsesi, bukan suka deh," kata Axel pada Ria.
Vina mendengus sinis. "Lo mempermalukan diri lo sendiri di depan gebetan lo secara tidak langsung," katanya sinis. "Udah, lo keluar gih!
"Lo juga keluar, Na!" seru Ria tajam.
"Emang," kata Vina. "Gue emang berniat keluar. Ga kayak lo. Yang berniat di sini dan mendengarkan pembicaraan Vela dan Axel dengan penuh minat dan membuat rencana picik lainnya."
Aku tersenyum sinis mendengar ucapan Vina yang benar adanya itu. "Jadi, lebih baik kamu keluar sekarang atau aku sate kamu pake pensil," kataku sambil mengacungkan pensil yang tadi dilempar Ria.
Ria buru-buru keluar dari kamar. Vina menatapku dan Axel. "Gue juga keluar dulu ya."
Aku mengangguk pelan dan melihat Vina hingga pintu kamar itu tertutup rapat kembali. Setelah benar-benar tertutup rapat, aku membalikkan badanku menghadap Axel.
"Jadi, apa yang mau lo omongin sama gue?" tanyanya dengan nada yang mirip dengan Alex.
Aku menatapnya datar. "Bukannya kamu juga harus ngomong sesuatu denganku?" tanyaku balik.
Axel terlihat salting. "Eh, iya sih. Tapi, bukannya yang mau ngomong duluan tuh elo ya?"
"Ga tuh," kataku enteng. "Aku ngomong kayak gitu di depan Vina biar kamu bisa ngomong sama aku, hal apa yang perlu kamu omongin."
Axel menarik nafasnya. "La, gue mau minta maaf sama lo."
"Minta maaf buat apa?" tanyaku datar.
"Yang soal di mall waktu itu...itu bukan mau gue. Gue dipaksa sama Vina buat nemenin dia ke mall," kata Axel.
"Kenapa kamu ga bisa bantah? Kenapa kamu ikutin paksaannya?" tanyaku sinis. "Kenapa kamu ga bisa ngebantah dia kalo saat itu kamu masih sayang sama aku?"

KAMU SEDANG MEMBACA
{#MGF1} My Girl Friend My Soulmate--Completed
Fiksi RemajaCover by : @tehucupae Rank 204 #kisahremaja (28/8/18) Rank 162 #anaksekolah (28/8/18) Rank 14 #pengkhianat (28/8/18) Ini bukan soal Velandra Victoria dengan Viktor Alexander. Ini bukan masalah cinta saja. Ini juga masalah pertemanan dan persahabatan...