Prolog

21.5K 719 7
                                        

-Revisi-

Author's POV

Siang itu seorang gadis berparas cantik dengan raut sendu sedang menatap langit, langitnya begitu petang dipenuhi awan abu-abu. Entahlah, langit seakan turut merasakan hatinya yang kini benar-benar redup seakan hampir mati. Hari ini perasaannya hancur sempurna, semakin dirasakan hanya akan menyiksa diri.

Suara petir menggelegar hebat, sepertinya sebentar lagi hujan segera turun. Ia berdiri di depan sebuah rumah berukuran besar yang pernah ia tinggali. Gadis itu melepas tangannya dari koper berisi pakaian dan barang-barangnya. Tubuhnya seakan lemas tanpa tenaga. Hancur. Hanya itu yang tersisa.

Terdengar suara guntur dan petir saling bersahutan, bergemuruh memekakan telinga. Kilatan petir menyilaukan mata namun, sekali lagi itu tidak membuatnya bergidik ngeri. Tidak sedikit pun. Yang dirasakan hanyalah kekecewaan. Ingin sekali ia berteriak sekeras mungkin agar sesak di dadanya terlepaskan, namun ia tak bisa, itu terlalu menyakitkan dan tiada daya untuk melampiaskannya.

Air langit mulai jatuh dengan derasnya, bersamaan dengan itu gadis berambut panjang bernama Kiera ini mulai menangis, ia menangis tanpa suara, ia jatuh terduduk menatap langit, memandang jauh ke atas sana seolah meminta jawaban. Gadis itu merasa jatuh ke jurang yang begitu dalam, sampai merasa tak seorang pun bisa melihatnya, tiada seorang pun yang akan menolongnya dari sana, tak seorang pun akan mengingat dirinya pernah ada. Seakan mengatakan pada diri sendiri bila tak akan mempercayai siapa pun untuk kehidupan selanjutnya, bahkan ia sendiri menganggap dirinya telah hancur dan benar-benar mati. Atas tindakan orang lain, kenapa hanya dirinya yang disalahkan? Kenapa harus dia yang diharuskan menerima kesalahan? Dunia apakah selalu sekejam ini?

Jika dulu sebelum dilahirkan bisa memilih antara menjadi bisu atau bisa bicara, aku lebih memilih menjadi bisu sebab tak perlu bicara, ataupun menunjukkan suaraku, daripada akhirnya dibuang sia-sia seperti ini, sesal gadis bernama Kiera Zee itu dalam hati.

Kiera itulah nama panggilannya, ia gadis yang ceria dan ramah. Namun saat ini ia terlihat jauh berbeda dari biasanya, bahkan matanya tak lagi menyinarkan keceriaan apalagi harapan untuk hidup. Mungkin benar, seseorang bisa berubah ketika dunianya dihancurkan.

Ibu? Ibu? ia memanggil dalam hati.

Rasanya sakit ... sangat sakit.

Ibu ... Ra rindu, gadis itu memanggil dalam hati, ia terisak dalam putus asa.

Namun, tiba-tiba Kiera seakan merasakan pelukan dari mendiang ibunya, dia mendengar suara beliau yang memanggilnya. Suaranya sangat jelas, membuatnya tertegun begitu mendengarnya. Suara lembut itu membuatnya semakin deras meneteskan air mata.

"Ra, jangan menangis." Suara itu semakin jelas, mengalahkan suara hujan di sekelilingnya.

Ibu? gadis itu memanggil dalam hati, ia terdiam, merasakan pelukan yang ia rasakan. Entah dari mana rasa hangat itu mengelilingi tubuhnya. Lalu, sedetik kemudian ia tersenyum, senyum yang terlihat bahagia, seakan ia lupa jika baru saja menangis tersedu.

Benar. Dia merasa seakan semuanya baik-baik saja.

Tidak! Aku masih hidup! Dan aku akan kembali hidup! Aku bukan lagi Kiera Zee, aku adalah Ra. Ya! Hanya Ra, Kiera Zee telah mati dan digantikan olehku ... Ra! batin gadis itu penuh semangat.

Gadis itu lantas berdiri, menatap langit dengan yakin. Dia memantapkan hati, bersiap akan memulai hidup yang baru. Dengan status yang baru dan harapan baru. Ini akan sulit, tapi dia akan tetap bertahan. Setidaknya dia tidak menyerah.

Hari ini aku akan menjalani hidupku sesuai dengan keinginanku dan mulai hari ini aku tak akan pernah mempercayai seorang pun selain diriku, ucap gadis itu dalam hati.

Tetaplah bersamaku ibu, batin gadis itu. Ia menitikkan air mata saat memejamkan mata, gadis itu mengatakannya dengan sepenuh hati. Semangatnya tidak akan pudar begitu saja.

Perlahan ia membuka mata, tangannya meraih koper, lalu menyeka air mata yang bercampur dengan air hujan. Ia mulai melangkahkan kaki meninggalkan rumah besar itu, rumah yang dulu sangatlah ia sayangi, yang di dalamnya ada banyak kehangatan serta kenangan dari mendiang sang ibu.

Tak sedikit pun ia menoleh ke belakang agar langkahnya tak sekali pun terhenti, supaya ia tetap yakin untuk kembali melanjutkan hidupnya yang baru.

***

Cerita ketiga aku nih, suka nggak? :3

Kalo suka silakan tinggalkan komentar.
Saran dan dukungan sangat membantu. ^-^

Thanks.

Note:
Jangan lupa baca cerita baru author:

I See You

Masih baru banget. Bakal rajin update nih, jadi jangan lupa kasih vote ya buat semangatin author. Makasih banyak man teman.🌼❤️

Unvoice [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang