Terbiasa

1.7K 103 0
                                        

-Revisi-

"Bukti apa?" Deva memastikan.

Lukas duduk di depan keduanya. "Lihat ini," ia menunjukkan rekaman pada hari dimana Kiera diusir dari rumah, ditampar Reina, dan setelah itu Reina malah terlihat bahagia sambil memeluk Dion. Beberapa bukti chat, video, rekaman suara dari Reina juga ditunjukkan Lukas kepada keduanya. Seakan menyesali perbuatannya kemarin, Lukas beralih ke sisi mereka hari ini.

Kiera membeku di tempatnya, matanya terlihat berkaca-kaca dengan bibir sedikit bergetar, seperti ingin menangis namun, tertahan. Ingatannya kembali ke beberapa waktu yang lalu, seakan masih merasakan lara itu mengikat dirinya.

Sedangkan Deva hanya bisa menatap Kiera dalam diam, sekarang paham bagaimana masa lalu Kiera.

"Mereka nggak pantes dimaafin," kata Lukas.

Deva menoleh, "Jadi lo udah sadar sekarang?"

Lukas mengangguk, "Maaf. Sebelumnya udah ngelakuin hal bodoh. Gue pikir dengan nurutin semua kemauan Reina, nasib gue bakal lebih bagus, kepopuleran gue makin naik, tapi ternyata salah. Dia cuma memeras gue, manfaatin gue, dan bodohnya gue mau dibegoin kayak gitu." Lukas mengusap wajahnya resah.

Deva hanya menatap Lukas lalu berkata, "Gue tahu posisi lo. Nggak dianggap sama keluarga sendiri itu menyakitkan, tapi usahakan selalu lakuin hal yang bener, apalagi buat gapai cita-cita lo selama ini. Biar ada kemudahan kedepannya."

"Makasih, Dev," kata Lukas. "Ini masih ada beberapa video rekaman cctv dan lainnya. Gue taruh di sini, karena sekarang gue harus pergi." Lukas berdiri dari sofa sambil menatap Kiera meski gadis itu masih membeku di tempatnya.

"Makasih bantuannya," Deva berkata.

Lukas tersenyum simpul, "Sorry, tadi nggak bisa bantu waktu Dion pukulin lo, Dev. Gue cuma bisa lakuin ini." Ia berlalu pergi setelah Deva menganggukan kepala.

Deva berbalik menatap Kiera, "Kamu nggakpapa kan?" Bukannya menjawab, Kiera malah meneteskan air mata saat menatap Deva. "Tenang, Ra." Deva mengelus puncak kepala Kiera lembut.

***

Entah apa yang dipikirkan Lukas, setelah pulang lelaki itu hanya mengunci diri di kamarnya, bahkan tidak berniat bicara dengan siapa pun. Berulang kali Lukman mengetuk pintu kamarnya, tapi tak digubris sama sekali. Sepertinya Lukas sedang kesal.

"Kas, ayo makan malam bersama. Ada Mama sama Papa di meja makan. Kita nungguin lo," Lukman mengetuk pintu. Merasa tak ada respons, Lukman menurunkan tangannya. Ia hendak berbalik namun, terdengar suara pintu terbuka membuatnya otomatis berbalik.

Lukas berdiri di sana lalu menatap Lukman begitu dingin. Tanpa berkata sepatah pun, Lukas berjalan menuju meja makan. Sementara Lukman mengekor di belakangnya.

"Ayo, Kas!" tiba-tiba Lukman merangkul bahunya, tapi Lukas segera menepisnya.

Lukas menatapnya tajam dalam kebisuan, di mata orang lain mungkin terlihat mengerikan namun, tidak untuk Lukman. Mungkin karena sudah terbiasa.

Bagi Lukman, meski mereka kembar dan tidak memiliki paras yang sama, tapi ia tetap menyayangi saudara kembarnya itu. Akan selalu begitu. Walaupun terkadang kedua orangtuanya membedakan antara Lukas dan dirinya namun, ia tak bisa menerima begitu saja. Kerap kali Lukman diberi kepercayaan oleh Papanya untuk mengurus pekerjaan di kantor, tapi tidak untuk Lukas. Mungkin karena sikapnya yang selalu terlihat dingin membuat Papanya enggan bicara, dan lebih sering bicara dengan Lukman yang lebih terbuka dengan beliau. Kerap kali Lukman meminta Papanya untuk menyerahkan tanggung jawabnya pada Lukas, tapi yang terjadi malah sebaliknya. Lukas menolak dan pergi begitu saja tanpa berkata apapun. Seakan terlalu sulit untuk berkomunikasi dengan Lukas. Lelaki itu tetap keras kepala dan begitu dingin.

"Kak Lukas?!" Tika terlihat berbinar kala melihat Lukas yang baru saja duduk di samping kirinya. Mungkin karena Lukas mau makan bersama, padahal biasanya lelaki itu tak pernah bersedia. Bahkan meski bumi sedang gonjang-ganjing.

Kedua orangtuanya menoleh bersamaan, kini Lukas diperhatikan keberadaannya.

"Lukas, ini Mama masakin sayur sop kesukaanmu," wanita paruhbaya itu mendekat. Ia mengelus puncak kepala Lukas.

Lukas merasa aneh diperlakukan demikian. Ia segera menurunkan tangan beliau dari kepalanya. Tingkahnya itu lantas dihadiahi tatapan dingin dari Papanya. Meski begitu Lukas tidak berniat melihat ke arah beliau.

Lukman yang duduk di samping Papanya hanya terdiam melihat tingkah Lukas, sementara Tika berekspresi muram sambil menunduk. Seakan takut pertengkaran akan terjadi diantara mereka.

Lukas mengambil nasi ke piringnya sendiri, lalu hendak menyendok sayur sop namun, dihentikan Mamanya.

"Biar mama yang ambilin," Mamanya menuangkan sayur itu ke piringnya, mengambilkan lauk lalu menuangkan minuman untuk Lukas.

"Katanya single kamu udah keluar? Kenapa nggak kasih tahu Papa sama Mama?" suara berat Papanya menggema di ruang makan. Terdengar tegas seperti biasanya.

Lukas hanya tersenyum miris, lalu menyendokan nasi ke mulutnya. Ia enggan menjawab rupanya.

"Papa nanya kamu, Nak," Mamanya memegang bahu Lukas, membuat Lukas menoleh ke tangan beliau.

Sekali lagi, Lukas menyingkirkannya, "Kenapa sih kalian? Kenapa berbeda dari biasanya? Kenapa Mama pura-pura peduli sama aku?"

"Lukas!" bentak Papanya, membuat suasana menjadi tegang dalam sekejap saja.

Lukas hanya diam sejenak sambil menatap dingin Papanya. Sendok di tangannya di jatuhkan ke piring hingga menimbulkan dentingan nyaring di meja makan, Mamanya sampai terkaget karena ulahnya. Lukas beralih menatap Mamanya. "Kenapa Mama sampai repot-repot masakin makanan kesukaanku? Apa karena sebentar lagi aku bakal terkenal?"

Mamanya menutup mulutnya dengan mata berkaca-kaca, ia merasa tersakiti dengan kata-kata Lukas. Tidak habis pikir dengan apa yang dikatakannya.

"Aku udah terbiasa nggak dianggap di rumah ini, Ma. Jadi tolong bersikap sewajarnya saja," Lukas berdiri dari tempat duduknya.

"Lukas!" Papanya berdiri dari tempat duduknya, tapi tak membuat Lukas berhenti dari langkahnya.

"Mau kemana, Kas?! Makan dulu." Lukman memanggil.

"Kak Lukas?" Panggil Tika lirih. Sangat berharap yang dipanggil segera menoleh dan berhenti.

Sementara Lukas tak menggubrisnya, lelaki itu meninggalkan ketegangan di meja makan yang baru saja dia ciptakan sendiri.

Di kamar, Lukas membuka jendelanya lebar-lebar, ia berjalan menuju balkon dan duduk di sana.

"Lukas?! Buka pintunya!" Terdengar suara Papanya dan ketukan pintu yang cukup keras, sepertinya beliau mengetuknya dengan amarah hingga suara ketukannya bergema ke setiap sudut kamar.

Lukas menoleh kesal, merasa begitu terganggu Lukas menaiki balkon. Berniat melarikan diri rupanya. Ia mengambil ancang-ancang bersiap untuk melompat ke atap sebelah, tapi yang terjadi malah sebaliknya, kakinya terpeleset lumut karena licin setelah hujan. Alhasil ia terjatuh dari sana, tangannya patah dan tidak sadarkan diri.

***

Unvoice [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang