-Revisi-
Entah apa sebabnya Nisa berteriak heboh pada Kiera yang saat ini sedang berjalan ragu mendekatinya. Meski rasa takut menyelimuti, Kiera tetap melangkahkan kaki lalu berhenti di depan Nisa yang masih dipegangi Taris, seakan jika dilepas gadis itu akan mencabik Kiera secara brutal.
"Lepasin, Ris! Aku mau ngomong sama dia!" Nisa berteriak kesal.
"Lo kenapa?" Deva berdiri di samping Kiera berjaga-jaga agar Nisa tak sampai melukai gadis itu. "Ngomong aja, tapi nggak usah emosi."
Nada santai khas Deva membuat Nisa mendengus remeh, "Kenapa sih kalian belain dia? Kenapa kalian sembunyiin dia dari orang-orang? Dibayar berapa? Imbalannya apa?!" Nisa masih meronta meski tak sekuat sebelumnya.
Mendengar itu lantas Taris mencengkram kesal tangan Nisa, "Nisa, kamu jangan asal dong. Aku tahu kamu suka sama Dion dan nggak suka Kiera, tapi nggak harus maki dia kan? Kamu mau aku maki Dion kalau aku ketemu sama dia?!"
Nisa menyentak tangan Taris kuat-kuat hingga terbebas, "Iya! Aku emang nggak suka sama dia!" Nisa berjalan mendekati Kiera yang terlihat ketakutan.
"Santai dong, Nis," Lukman yang berhasil menangkap tubuh Taris mencoba menengahi.
Deva berdiri diantara Kiera dan Nisa mencoba menghadangnya, "Lo bisa ngomong lebih halus nggak? Lo cewek kan? Dia juga." Deva menoleh kearah Kiera.
"Iya, tapi aku nggak suka dia!" Nisa menekankan kata terakhir penuh amarah tertahan. "Minggir, aku cuma mau ngomong sama dia sambil lihat wajahnya. Please!"
Kiera menarik baju Deva dari belakang seakan isyarat untuk membuat lelaki itu menyingkir sejenak, sementara Deva berbalik dan menunduk menatapnya dalam-dalam.
"Tapi," cegah Deva, ucapannya tercekat melihat senyuman Kiera, senyum memohon. Kali ini terpaksa Deva menurut.
Deva memejam satu detik sambil menarik napas lalu mengangguk setelah memahami. Ia menyingkir meski hanya setengah jengkal saja.
Kini berganti Taris berusaha melarikan diri dari Lukman. Lelaki itu mencegahnya mendekat apalagi bicara, mulutnya dibekap oleh seseorang yang harusnya membantu aksi heroiknya untuk sang idola, tapi niatnya sirna karena Lukman berhasil menahannya. Ia sebal sekaligus marah.
"Biar dia ngomong dulu," ucap Lukman lembut, Taris diam seketika, berhenti meronta dan berusaha menenangkan diri.
Begitu mendapat kesempatan Nisa menyilangkan tangan di dada seraya memandang remeh Kiera, ia mendesah pelan, "Taris emang fansmu, tapi jangan paksa aku kayak dia yang sangat memuja banget. Sejak awal Dion jadi pacarmu juga udah kelihatan kalau dia kepaksa dan sekarang aku seneng banget kalian putus karena Dion tahu kamu cuma numpang tenar sama dia. Satu lagi, aku paling benci penyanyi yang nggak punya bakat sama modal tampang doang!" Nisa mendengus meledek kemudian berlalu pergi meninggalkan Kiera yang masih tertegun sekaligus tertusuk dengan semua ucapan Nisa yang tertuju padanya.
"Nisa?!" Taris mengejar Nisa setelah Lukman melepasnya. Sebelum pergi Taris menyempatkan diri menginjak kaki Lukman dan berhasil membuat lelaki itu mengumpat karena menahan sakit.
Deva mengelus puncak kepala Kiera lembut mencoba menenangkan agar wajah sedih Kiera berubah lebih tenang, "Dia cuma emosi," suaranya pelan, tapi ada nada yakin di dalamnya.
Kiera mendengarnya, tetapi tak berniat mendongak untuk melihat wajah Deva. Kiera yakin Deva sedang menatapnya penuh iba, Kiera benci tatapan itu seolah secara tak langsung Deva mengasihani dirinya. Sungguh Kiera sangat tidak suka dikasihani, seperti dirinya terlalu lemah saja. Dia kuat, tidak selemah yang seperti dikatakan semua orang. Ia terlalu benci dianggap lemah. Meski begitu dia tetap kuat untuk diri sendiri. Setidaknya itulah yang selalu dipikirkan Kiera.
"Nggak usah dipikirin, Ra," ingin sekali Deva memeluk Kiera, tetapi tak berani melakukannya. Ia berusaha menahan diri.
Ucapan Deva tak akan berpengaruh padanya, Kiera menyingkirkan tangan Deva lalu berjalan menuju kamar.
"Kak Ra?!" suara serak Yuri menghentikan langkah kecil Kiera, ia menoleh dan mendapati Yuri bersama Tika berjalan menghampiri seusai menutup pintu.
"Wow, siapa lagi ini yang dateng?" Lukman mengernyit menatap keduanya, ia heran melihat adiknya yaitu Tika. Datang kemari padahal Tika paling anti keluar rumah seperti Deva, dia memang pemalu dan tak suka berpergian kecuali dalam keadaan mendesak.
"Dan seorang Tika pada akhirnya ke sini?" Lukman merangkul adiknya dengan memasang tampang jail, tetapi yang dia dapat hanya respon berupa tatapan muram adiknya karena merasa diledek dan malu tentunya.
"Dia pembimbingku," Tika berujar pelan, sangat pelan seakan tak ingin didengar Kiera yang sekarang berjalan mendekat.
Sementara Yuri berusaha mengendalikan antusias dirinya pada Kiera agar tak langsung meremas tangan Kiera gemas, "Astaga aku nggak nyangka selama ini yang ngajarin kita Kak Kiera Zee. Aku suka sama semua lagu kakak." Yuri otomatis memeluk Kiera yang tersenyum tipis padanya, senyumnya terlihat samar. Bahkan hampir tidak terlihat.
Kiera mencoba melebarkan senyumnya meski terasa berat.
"Kakak tahu? Aku tadi di luar nunggu lama banget buat gantian lihat kakak di sini. Tapi kakak tenang aja kita udah hati-hati banget kok biar nggak mencurigakan." Yuri berujar setelah melepas rangkulannya.
"Kak, besok latihannya libur lagi kah?" suara Tika terdengar ragu.
Kiera diam sejenak lalu mendongak menatap keduanya, sedetik kemudian dia menggeleng.
"Asyik besok latihan dance! Yuhuu!" Yuri kegirangan sampai melompat senang.
Deva memandang lekat wajah Kiera, ia melihat kesedihan masih tercetak jelas di wajahnya. Meskipun Kiera menyembunyikanya dengan senyuman Deva masih bisa membacanya.
"Tapi ingat jangan kasih tahu ke siapapun kalau dia masih di sini. Ngerti?" Deva mastikan membuat keduanya otomatis mengangguk.
Kiera teringat sesuatu dan menulisnya di note.
Mulai besok latihannya di sini. Jam lima sore. Cuma kalian berdua aja.
Kiera menunjukkan tulisan itu.
"Siap!" Yuri menjawab pasti sementara Tika mengangguk paham.
***
"Nggak peduli, yang jelas besok aku bakal balik," Nisa berujar seraya mengunyah roti.
Taris berekspresi geram, "Kamu tahu nggak kalau dia dari dulu sampai sekarang berjuang sendirian? Dia selalu sembunyi dari semua orang. Itu nggak cukup buat kamu? Menurutmu itu nggak nyiksa dia?"
Pertanyaan beruntunnya hanya ditanggapi Nisa dengan akat bahu malas. Kini gadis itu menuangkan air dalam gelas dan meneguknya.
Taris berdecak atas respon Nisa, "Kamu tahu kan aku akan selalu dipihak Kiera? Jadi kalau kamu tetep bilang ke orang lain Kiera masih di sini jangan harap aku akan tinggal di sini sama ibu. Silakan pilih antara kebencianmu atau kepedulianmu sama aku dan ibu."
Nisa terdiam mendengar kalimat terakhir, ia tahu Taris mengetahui kelemahannya dan sengaja menggunakannya untuk Kiera. Sejujurnya dia hanya mengancam Taris agar menjauhi Kiera, dia tak peduli Kiera masih di sini atau tidak, yang diinginkannya hanya satu, Taris tak boleh lebih dekat dengan Kiera. Tapi sayangnya sekarang dia mati kutu, dan tak bisa menjawab Taris yang menatapnya dalam diam, tatapan yang memohon sekaligus menunggu.
***
Lagi? Oke, besok. 👌
KAMU SEDANG MEMBACA
Unvoice [COMPLETED]
Teen FictionTerkadang orang yang hatinya sering disakiti akan sulit baginya memberikan kepercayaan lagi untuk orang lain. - Keira Zee Jika dulu sebelum dilahirkan bisa memilih antara menjadi bisu atau bisa bicara, lebih baik menjadi bisu karena tak harus bicar...
![Unvoice [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/153778962-64-k157570.jpg)