-Revisi-
Seharian ini Deva dibuat putus asa karena Kiera, bagaimana tidak? Sampai malam begini Kiera tak kunjung keluar dari kamar. Dari balik kamar hanya terdengar beberapa kali hentakan kakinya diiringi musik yang mengalun tanpa henti, ia tahu Kiera sedang apa. Gadis itu selalu melakukan dance jika sedang kesal, sedih atau lainnya. Kiera cenderung mengarah ke sana untuk melampiaskan sesuatu yang tak bisa dikatakan olehnya.
Sudah berjam-jam Deva mendengarnya, melarangnya juga tak digubris sama sekali. Menggedor pintu keras-keras juga tak bisa dilakukan karena takut Kiera akan lebih marah dari sebelumnya, apalagi mendobrak pintu. Lupakan saja, Deva hanya bisa memanggil Kiera ratusan kali sambil masang wajah lesu meski Kiera tak dapat melihat tampangnya yang memohon dengan sangat.
"Ra, kamu berhenti dong, kamu nggak capek cuekin aku? Kamu nggak capek nge-dance di kamar berjam-jam? Kamu belum makan siang, belum makan malam juga. Keluar sebentar, ya?" bujuk Deva tetap memohon.
Kiera mendengarnya, tetapi tak peduli dan lebih menganggap suara Deva bagian dari musik yang didengarnya.
Meski Kiera merasa lelah namun, tak ingin berhenti sebelum ia benar-benar ambruk. Badannya berkeringat, seluruh sendinya terasa mati rasa, telapak kakinya berdenyut hebat seakan ada jantungnya di sana, napasnya menderu dengan tubuh yang semakin gemetar. Saat hendak berputar ia jatuh terduduk hingga hampir membentur dinding.
Merasa tenaganya melumpuh, perlahan Kiera menempelkan punggungnya ke dinding lalu memejamkan mata untuk meredam lelah, gadis itu mengolah napasnya agar kembali normal, kakinya diluruskan meski terasa berat. Jika sudah begini sudah dipastikan Kiera menjadi lemas sekaligus lega. Lemas karena kepayahan dan lega karena sudah melampiaskan kekecewaanya. Hari ini benar-benar menyebalkan.
Kiera membuka mata lalu mematikan musik membuat suara Deva terdengar lebih jelas. Jika saja bisa berdiri, mungkin ia akan membuka pintu dan membuat Deva tak lagi berdiri di sana agar ketenangannya tidak terganggu, tapi sekarang kakinya tak sanggup lagi berdiri. Itu hanya sekedar angan untuknya. Bagaimana Kiera berdiri sedangkan tenaganya saja terkuras habis, benapas pun kuwalahan, sungguh ingin mengambil sesuatu untuk menutupi telinganya.
Meski penat Kiera berusaha meraih amplop di atas nakas di dekatnya bersandar, merogoh amplop itu dan mengeluarkan semua isinya. Ada empat lembar foto dan ada kartu ucapan juga di sana.
Kiera menautkan alis saat membaca kartu itu.
Thanks untuk kerja samanya, Deva.
Setelah membacanya membuat hati Kiera teremas hingga tak berbentuk, sangat menyakitkan sekaligus memuakkan. Kiera meremas kartu ucapan dengan penuh kekecewaan. Menyalahkan keadaan yang terus saja tidak berpihak pada Kiera. Sungguh, Kiera sangat benci ini. Kenapa tidak ada habisnya? Kenapa semua orang sama saja? Begitu pikirnya.
"Ra, aku tahu kamu denger suaraku. Keluar ya, kita omongin dulu apa masalahnya?"
Kiera tetap bungkam, ia memperhatikan dengan benar foto Deva bersama orang yang dikenalnya itu. Foto pertama memperlihatkan Deva tersenyum sambil merangkul seseorang itu, foto kedua menunjukkan seseorang itu memberikan sejumlah uang yang terlihat cukup tebal padanya, foto ketiga memperlihatkan Deva yang mengantongi uang di saku jaket, foto terakhir memperlihatkan dengan jelas keduanya bersalaman layaknya begitu akrab sembari saling melempar tawa. Dalam foto itulah yang menjadi alasan kenapa Kiera mengacuhkan Deva. Di punggung tangan seseorang itu terlihat ukiran tato yang sama persis seperti tato seseorang yang ia jumpai beberapa waktu lalu. Dengan melihat foto itu, Kiera tak perlu bukti apapun untuk memperkuat dugaannya.
Flashback on...
Deva membuka pintu dengan buru-buru sementara Kiera mengekor di belakangnya dengan raut kuatir yang ketara.
Begitu menangkap basah seseorang yang baru saja menjatuhkan potnya, Deva segera berlari mengejar.
Sebelum keduanya saling beradu lari dengan kecepatan luar biasa, sekilas Kiera melihat tato bergambar kepala elang di punggung tangan seseorang itu, terlihat pula orang misterius ini membawa kamera dengan hati-hati. Saat itu Kiera tahu jika kemungkinan besar keberadaannya akan segera diketahui orang lain.
Flashback off.
Kiera mendesah pelan sambil merobek foto Deva dan membiarkan serpihanya tergeletak di lantai.
Karena ingin ke toilet Kiera mencoba berdiri meski sedikit kesulitan. Ia berpegangan pada ujung nakas. Badannya terasa berat membuatnya tak leluasa bergerak normal. Ia melangkah tertatih-tatih, tangannya berpegangan pada dinding untuk menopang tubuh. Kiera membuka pintu hingga menampakkan badan menjulang Deva yang berdiri di ambang pintu, raut lesu di wajahnya mendadak berganti menjadi raut kuatir yang begitu ketara.
"Kamu kenapa? Sakit?" Deva membantunya berjalan namun, Kiera menepisnya. Ia mendorong Deva dengan sisa tenaga yang dimiliki.
Deva tahu Kiera mencoba menyingkirkannya, tetapi gadis itu tak punya cukup tenaga untuk mengusirnya. Dorongan tangannya saja sama sekali tak terasa hingga tetap membuat Deva berdiri tegap di depannya.
"Ku bantu."
Kiera menggeleng lemah sambil berjalan kembali, ia tetap berpegangan pada dinding dan kembali menepis tangan Deva yang lagi-lagi memaksa untuk membantu berjalan.
"Kamu nggak kuat, Ra."
Dengan lemah lembut Deva menopang pinggangnya, ia mengalungkan tangan Kiera di bahu, "Kamu mau kemana biar ku anterin."
Kiera masih berontak meski lemah, karena tak berhasil lepas dari Deva gadis itu menautkan alis padanya membuat Deva menatapnya memohon.
"Biarin aku bantu kamu, setelah ini terserah mau nampar aku kek, jambak aku kek, atau apalah terserah."
Tapi ekspresi kemarahan Kiera terpampang jelas di wajahnya, gadis itu menarik tangannya dari bahu Deva, lalu mengerahkan seluruh sisa tenaganya untuk mendorong Deva sampai lelaki itu bergeser sedikit ke belakang.
Deva mengerti kekesalan Kiera, dan menyadari Kiera tak butuh bantuannya. Ia mencoba memahami situasi gadis itu.
"Oke, aku nggak akan maksa kalau kamu nggak mau," Deva menatapnya teduh.
Merasa aman akhirnya Kiera kembali berjalan menuju kamar mandi.
Sedangkan Deva tetap berjalan di belakangnya berjaga-jaga kalau gadis rapuh ini terjatuh kapan saja.
Yang diikuti dari belakang malah tak tahu sama sekali karena dirinya terlalu lelah untuk memperhatikan sekitar. Jika tahu pun dapat dipastikan Deva akan menerima amarahnya lagi.
Kiera sampai di toilet, gadis itu menutup pintu tanpa berbalik hingga tak mengetahui Deva masih berdiri sambil bersandar di dinding untuk menunggu.
Beberapa menit berlalu Deva masih menunggu, sedangkan Kiera yang baru saja membuka pintu toilet terkaget dengan keberadaan Deva. Meski sedikit kesal, tetapi Kiera lebih memilih mengabaikan Deva karena harus menghemat tenaga. Kiera berjalan mendahului dengan langkah yang masih tertatih.
Gadis itu terhuyung lalu berhenti sejenak berpegangan pada dinding.
Tangan Deva terulur mencoba membantu namun, diurungkan sebab teringat Kiera tak menginginkan bantuannya. Ketika gadis itu kembali berjalan, pelan-pelan Deva mengikuti dari belakang.
Karena rasa pusing menyerangnya Kiera terhuyung lemas, beruntung Deva sigap menangkap tubuh ringkihnya. Gadis itu tak sadarkan diri dengan wajah pucat pasi.
"Ra? Sadar, Ra." Deva mengguncang pelan bahu Kiera berharap gadis itu masih tersadar.
***
Berapa hari aku nggak update? Nggak sempet edit lagi, wkwk. Tapi kalau typo tandain aja. Oke? Oke. :3
KAMU SEDANG MEMBACA
Unvoice [COMPLETED]
Ficção AdolescenteTerkadang orang yang hatinya sering disakiti akan sulit baginya memberikan kepercayaan lagi untuk orang lain. - Keira Zee Jika dulu sebelum dilahirkan bisa memilih antara menjadi bisu atau bisa bicara, lebih baik menjadi bisu karena tak harus bicar...
![Unvoice [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/153778962-64-k157570.jpg)