Berubah (Ekstra Part)

4.4K 131 10
                                        

-Revisi-

Matahari bersinar lembut di luar sana, cahayanya menerobos masuk ke dalam kamar Deva, menembus gorden putih bermotif garis hitam hingga menimbulkan guratan putih di kamar gelap lelaki itu.

Ia tahu hari menjelang pagi, tapi matanya enggan terbuka meski sebenarnya ingin segera terjaga. Dan untuk yang kedua kalinya alarmnya berbunyi, sontak saja tangannya meraih benda bulat di atas nakas. Dimatikannya suara bising yang menyebalkan itu dengan satu gerakan saja.

Setelah kebisingan di kamarnya kembali tenang barulah ia tersenyum lebar, baginya mungkin inilah yang disebut dengan kebahagiaan. Pasalnya sudah berhari-hari rasanya ia tidak bisa tidur nyenyak. Maklum saja, Deva harus bekerja keras sebagai fotografer profesional, sering begadang dan jarang pulang ke rumahnya sendiri karena padatnya jadwal pekerjaan. Kini ia lega karena bisa menghabiskan waktu luangnya untuk tidur. Menjadi budak korporat memang melelahkan meskipun ada reward yang sepadan untuk hasil akhirnya.

Ketika matanya kembali terpejam, tiba-tiba saja dia teringat sesuatu. Ia heran karena alarmnya berbunyi, memangnya sejak kapan seorang Deva menyetel alarm?

"Astaga!" Ia terperanjat. Kini lelaki itu terbangun lalu beranjak dari ranjang empuknya, melompat dari atas ranjang sampai tersandung selimut dan jatuh. Ia sempat mengadu sakit sebelum akhirnya kembali berdiri, bukan Deva namanya jika tidak tergopoh-gopoh seperti biasanya.

Sambil berlari Deva memasuki kamar mandi. Dengan kecepatan luar biasa ia membasuh badannya, tak lupa ia menggosok gigi dan mencuci rambutnya. Dalam hati ia terus mengumpat kesal. Ia tahu ini akan terjadi, dia yakin akan terlambat untuk kesekian kalinya. Bahkan bersedia mengakui bahwa dia pun sangat membenci diri sendiri. Kenapa dia tidak pernah berubah? Kenapa selalu mengecewakan orang lain? Bahkan dalam hal apapun. Rasanya sifat pemalasnya belum lenyap meski sebenarnya dia ingin. Itulah yang terus berputar di kepalanya. Berulang kali seakan mengutuknya.

Begitu selesai mandi, ia segera berlari menuju kamarnya, menyahut pakaian dan celana pendek di lemari kemudian mengenakannya.

Di tengah kepanikan yang luar biasa, lamat-lamat lelaki itu mendengar suara dari arah dapur. Suara dentingan gelas semakin terdengar jelas hingga membuatnya bergidik ngeri.

Tunggu?! Di dapur ada orang yang lagi bikin minuman? batin Deva dengan ekspresi tegang. Ia berharap itu bukan sesuatu yang menyeramkan, apalagi sesuatu itu berbentuk hal mistis. Sudahlah ini bukan film horror.

Meski sebenarnya ada sedikit rasa takut, tetapi lelaki itu tetap menuntun langkahnya menuju dapur.

Sampai di dapur ia dikagetkan dengan seseorang di sana. Sedang berdiri dengan bibir mengerucut seolah sengaja menunjukkan ekspresi kesalnya.

"Kenapa te-"

Deva lantas memeluknya erat. Membuat seseorang itu tidak bisa meneruskan kata-katanya.

"Maaf," kata Deva sembari mempererat pelukannya. "Aku minta maaf, Ra."

"Iya. Nggakpapa."

Mendengar suara lembut itu membuatnya merasa bersalah sekaligus malu. Bagaimana tidak? Bahkan setelah beberapa bulan tidak bertemu, Deva masih saja menyempatkan diri untuk kata terlambat untuk menemui gadis itu.

Perlahan ia merasakan lembutnya elusan tangan Kiera di punggungnya, bergerak teratur seolah berniat menenangkan Deva. Jujur saja, inilah yang sangat dirindukan Deva. Bahkan ia ingin lebih lama lagi dalam suasana seperti ini. Memeluknya erat seolah tidak berniat melepaskan gadis itu.

"Kangen," gumam Deva.

Kiera terkekeh mendengarnya.

"Aku juga," Kiera hendak melerai pelukannya namun, Deva semakin mengeratkan tangannya.

Unvoice [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang