03 • Chaos [2]

3.6K 505 25
                                        

Ternyata cukup banyak yang menentang Arkan-Zira ya wkwkwkk

Endingnya bagaimana? Well, lets see.

Happy reading!✨

---

Langit diluar masih berwarna oranye yang terkesan hangat saat Alvaro memasuki gedung perusahaan Kakeknya dengan penampilan acak-acakkan seperti biasa. Beberapa helai rambutnya yang menyentuh kening, baju seragamnya yang tidak dikancing menampilkan baju kaus putih yang ia pakai, juga sebatang rokok yang berada di celah bibirnya. Cowok itu berjalan santai melewati satpam yang berjaga di depan. Tak ada yang perlu repot-repot bertanya siapa dirinya, karena semua orang jelas tahu, cowok yang baru saja masuk ke dalam gedung dengan santai itu adalah Alvaro Pradipta, cucu Alex Pradipta, sang pemilik perusahaan.

Alvaro masuk ke dalam lift, menekan lantai 15, dimana ruangan Kakeknya berada. Cowok itu mengetuk-ngetukkan sepatunya di atas permukaan lantai lift, menunggu beberapa saat sebelum pintu bergeser terbuka, membawanya ke lantai yang ia tuju.

Ia berjalan menyusuri lorong yang membawanya ke ruangan Alex. Cowok itu bahkan tak ingin repot-repot mengetuk dan langsung membuka pintu dari kayu jati itu begitu saja membuat Alex yang tengah membaca beberapa dokumen perusahaan di mejanya langsung mengangkat wajahnya. Pria itu menggeleng melihat rokok yang diapit bibir Alvaro, juga penampilan cowok itu yang terkesan urak-urakkan. "Sudah berapa kali Kakek bilang untuk mengubah kebiasaan kamu Alvaro?"

Alvaro tak menjawab, namun cowok itu memilih membuang rokoknya di tempat sampah yang ada di sudut ruangan, lalu duduk di hadapan Kakeknya. "Ada apa Kakek manggil saya?"

Alex melepaskan kacamata bacanya dan meletakannya di atas meja yang membatasinya dengan cucunya itu. "Kakek baru mendapat laporan dari sekolah tentang nilai-nilai kamu. Alvaro, kamu tidak bisa lulus dengan nilai dan absensi yang kosong seperti itu. Ditambah dengan perkelahian dan kabur di jam pelajaran seperti yang sering kamu lakukan."

Di luar dugaan Alex, Alvaro tergelak. "Kakek yang dapat laporan, atau perempuan itu yang memberitahu Kakek?"

"Alvaro, bukan seperti itu cara untuk menyebut Ibu kamu," sela Alex dengan nada memperingati untuk kesekian kalinya, namun tentu saja, untuk kesekian kalinya juga Alvaro tidak peduli.

"Saya nggak perlu repot-repot belajar untuk lulus," balas Alvaro. "Karena perempuan itu sudah sukses membuat saya terlihat lemah di mata satu sekolah."

"Alvaro--"

"Mereka memandang saya hanya mampu menginjakkan kaki di sekolah karena bantuan perempuan itu, bukan karena kemampuan saya," sela Alvaro. "Perempuan itu sukses membuat saya dianggap remeh oleh seisi sekolah--"

"Alvaro!" Hardik Alex. "Kamu jelas tau kamu sama sekali tidak mempunyai hak untuk berbicara seperti itu mengenai ibu kamu."

Alvaro menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, lalu mengusap wajahnya kasar.

"Berhenti menyalahkan siapapun atas apa yang terjadi di masa lalu. Apa yang terjadi bukan salah siapapun Alvaro, bukan salah ibumu, atau siapapun. Kamu tidak bisa terus tinggal dalam kebencian," cecar Alex.

Alvaro mengepalkan tangannya. Tidak, Kakeknya tidak paham apa yang ia rasakan. Jelas tidak ada seorang pun yang paham. "Kakek nggak paham apa yang saya rasakan."

"Alvaro, Kakek paham. Begitu juga dengan Ibu kamu."

Alvaro menatap Alex tidak percaya. "Kek, lama kelamaan saya benar-benar kehilangan orang yang mampu saya percaya. Di dunia ini, hanya Kakek yang mampu saya percaya. Tapi kalau Kakek justru berada di pihak perempuan itu, saya nggak tahu lagi harus percaya pada siapa."

Lost [Completed]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang