45 • Someday

4.3K 348 42
                                        

Halo🙆

Happy reading!✨

---

I learned that people leave. Even if they promised a thousand times they won't.

Sudah satu bulan. Sudah satu bulan semenjak Zira pergi meninggalkan semua orang di kehidupannya. Terlalu banyak hal yang berubah semenjak sosok gadis itu tidak lagi ada. Carel memutuskan untuk mengambil cuti lebih lama untuk menemani Bram yang sangat terpuruk, walau pemuda itu juga sama hancurnya karena kepergian adik perempuannya yang terlalu cepat. Arkan yang setelah berhari-hari mengurung dirinya di kamar akhirnya mencoba menjalani harinya seperti biasanya walau rasanya begitu berat, karena dimanapun ia berada, sosok bersurai hitam dengan mata yang berbentuk bulan sabit saat tersenyum itu akan hadir di benaknya, menjelma menjadi rasa sesak tak berujung. Ia juga tak pernah sekalipun absen untuk mengunjungi makam Zira setiap pagi.

Sedangkan Alvaro, sosok pemuda itu terasa hilang walau raganya masih ada. Alvaro tidak menangis, bahkan di pemakaman gadis itu sekalipun—dimana hampir semua orang yang hadir disana tak luput dari air mata, termasuk Reno yang bahkan tak terlalu sering berbicara dengan gadis itu. Alvaro tidak mengamuk, tidak melampiaskan emosinya sekalipun. Pemuda itu hanya berdiam diri di apartemennya. Orang-orang terdekat Alvaro sudah mencoba untuk membuat pemuda itu kembali hidup, namun sia-sia, cowok itu tetap membisu, mengabaikan semua kata-kata yang mungkin juga tak didengarnya.

Langit sudah berubah gelap di luar sana, menandakan malam yang sudah tiba. Seorang wanita berusia 40-an melangkah masuk ke dalam gedung apartemen Alvaro, menekan lift dan menekan tombol lantai dua, kemudian melangkah menuju ke kamar yang berada di paling kanan sesuai dengan apa yang Alex beritahu.

Wanita itu, yang tak lain adalah Ranti, ibu Alvaro, berhenti tepat di hadapan pintu yang bertuliskan angka 18 itu. Tangannya sudah berada di knop pintu, namun keraguan menelusup masuk ke dalam hatinya. Ketika mendengar apa yang terjadi kepada anak semata wayangnya itu, hal pertama yang ingin ia lakukan adalah menenangkan anaknya, seperti yang biasa ia lakukan ketika Alvaro kecil terjatuh dari sepeda dan menangis, atau ketika robotnya rusak. Namun Ranti tahu, Alvaro yang sekarang bukanlah Alvaro yang dulu. Pemuda itu sudah beranjak dewasa, dan hubungan mereka jauh dari kata baik membuat Ranti mengurungkan niatnya.

Ia hadir di pemakaman Zira, gadis yang sudah membantu Alvaro bangkit dari keterpurukannya. Gadis yang sudah memberikan Alvaro alasan untuk memaknai hidupnya. Dan gadis itu pergi sebelum Ranti sempat berterima kasih kepadanya.

Dan setelah satu bulan berlalu, Ranti tak lagi dapat menahan dirinya untuk tidak menemui Alvaro setelah mendengar dari Alex bagaimana keadaan anak laki-lakinya itu.

Dengan satu helaan nafas, Ranti menekan knop pintu yang tak dikunci, dan keheningan menyambutnya. Apartemen Alvaro terlihat sangat rapi, seperti tak ada kehidupan di dalamnya. Ranti melihat ke sekeliling dan tak melihat Alvaro. Setelah merapatkan pintu kembali, Ranti melangkah masuk lebih jauh dan berjalan mendekati salah satu pintu. Ranti menekan gagangnya, kemudian menengok masuk dan mendapati Alvaro yang terduduk di lantai kamarnya dengan menandarkan punggungnya ke sisi tempat tidur.

Dalam sekali lihat, Ranti tahu anaknya jauh dari kata baik-baik saja. Alvaro terlihat begitu... Hampa.

Saat mendengar bunyi pintu yang terbuka, Alvaro menoleh. Ranti pikir Alvaro akan mengusirnya, namun pemuda itu tidak melakukannya. Ekspresinya tidak berubah, dan kembali menoleh menatap selembar kertas lusuh yang ia pegang. Saat Ranti berjalan semakin dekat, ia mampu melihat sketsa yang terbentuk disana. Wajah Alvaro. Wanita itu duduk berlutut di sisi Alvaro. "Itu gambar Zira?"

Alvaro tak menjawab.

Tangan Ranti terulur untuk mengelus helaian rambut anaknya lembut. "Mama turut sedih dengan apa yang terjadi dengan Zira."

Lost [Completed]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang