Halo🙆
Akhirnya bisa update jugaaa
Happy reading!✨
---
Seperti malam-malam lalu, Zira menghabiskan waktu sekitar 2 jam di apartemen Alvaro untuk mengajari cowok itu. Ujian sekolah sudah hampir tiba membuat Zira memutuskan untuk lebih fokus mengajari Alvaro tentang soal-soal yang diprediksikan keluar di ujian sekolah nanti.
"Lo udah ngerti, kan?" Tanya Zira memastikan seperti biasa. Alvaro mengangguk, kemudian menatap Zira lamat-lamat tanpa Zira sadari karena gadis itu sibuk mencatat sesuatu di dalam bukunya.
Wajah gadis itu terlihat tenang, seperti biasanya. Bagi Alvaro, Zira terlalu misterius. Terkadang Alvaro hanya mampu menemukan keteduhan di dalam mata gadis itu, namun beberapa kali Alvaro menemukan luka disana, seperti saat kakak laki-laki Zira datang ke apartemen gadis itu. Zira sangat susah ditebak. Ia tersenyum secukupnya. Jarang menunjukkan emosinya.
Gadis itu seakan tak tersentuh.
Zira kembali mengangkat wajahnya lalu menatap Alvaro. "Oh iya, tadi gue dipanggil Pak Rendra. Jadi katanya, setelah beberapa hari ke depan gue nggak perlu ngajarin lo lagi."
"Kenapa?" Tanpa sadar, Alvaro menanyakannya. Zira yakin ia salah dengar saat mendengar rasa sedih menyelimuti pertanyaan sederhana Alvaro.
"Karna kita udah mau ujian, dan bakalan ada bimbel juga setiap pulang sekolah. Jadi Pak Rendra mau gue fokus belajar aja," tutur Zira.
Alvaro hanya mampu mengangguk. Diam-diam, ia membayangkan bagaimana Zira tidak lagi datang ke apartemennya untuk mengajarinya, dan jujur, cowok itu tidak menyukai ide itu.
"Dan tadi pak Rendra juga bilang kalau nilai-nilai lo udah mulai bagus. Nilai-nilai tugas juga udah banyak yang mulai keisi," kata Zira. "Nggak ada yang nggak mungkin, kan? Kalau lo belajar lebih keras, gue yakin lo bisa dapat lebih dari itu," ucap gadis di hadapan Alvaro dengan senyum lebar yang merekah di wajahnya, hingga memperlihatkan deretan giginya yang rapi. Mata gadis itu melengkung layaknya bulan sabit.
Ini mungkin pertama kalinya Alvaro melihat Zira tersenyum seperti itu. "Sering-sering senyum kayak gitu," kata Alvaro.
"Hh?" Zira mengerjapkan matanya, tampak terkejut dengan pernyataan tiba-tiba dari Alvaro.
"Lo harus sering senyum kayak gitu, Cee," Alvaro mengulangnya. "Such a pretty smile." Dan karena gue menyukainya.
Zira hanya mampu terdiam, merasakan wajahnya yang terasa panas karena ucapan Alvaro. "Thank you," lirih Zira tanpa berani menatap manik mata Alvaro.
Perempuan itu lalu membereskan buku-bukunya yang masih berserakkan di atas meja rendah di ruang tamu Alvaro. "Gue balik dulu. Oh iya, kalau ada materi ujian yang belum lo ngerti, bisa nanya ke gue, kok."
"Give me your phone."
Zira mengernyit, menyiratkan kebingungan yang mengisi kepalanya. Tapi gadis itu tidak berkata apa-apa dan memberikan ponselnya kepada Alvaro. Cowok itu meraihnya, kemudian mengetikkan sesuatu disana. Sesaat kemudian, ponsel Alvaro yang berada di atas meja berbunyi. Sederet angka yang merumpakan nomor handphone Zira muncul di layarnya. "Gue udah simpan nomor gue di ponsel lo," kata Alvaro sembari mengembalikan ponsel Zira kepada pemiliknya.
Zira tak mampu melakukan apapun selain mengangguk kaku. Entah kenapa, dadanya terlalu sering berdebar dengan keras malam ini. "Gue pulang." Hanya itu kalimat yang diucapkan Zira, sebelum gadis itu keluar dari apartemen Alvaro, dan tanpa sadar diiringi oleh tatapan dari cowok itu hingga Zira hilang di balik pintu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lost [Completed]
Novela Juvenil[BAHASA] unable to find one's way; not knowing one's whereabouts "Maybe, we can fix each other." *** Hidup Zira semula datar-datar saja. Kemudian suatu hari, kepala sekolah memintanya untuk mengajari Alvaro, murid paling badung yang nilainya menempa...
![Lost [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/151857175-64-k34562.jpg)