Halo!💓💓
Lagi nggak ingin banyak bacot
Happy reading!✨
---
Reno pernah bilang, bahwa Alvaro adalah orang dengan rasa peduli paling kecil yang pernah cowok itu temui. Alvaro hampir tidak pernah ingin tahu tentang urusan orang lain, juga tak ingin orang lain tahu urusannya.
Reno bukanlah orang pertama yang melihatnya sebagai sosok seperti itu. Semua orang yang mengenal Alvaro akan memandangnya sebagai sosok yang tak berempati. Alvaro tidak berniat membantahnya, bahkan cenderung menyetujuinya.
Sampai sore tadi, Alvaro mulai meragukannya.
Awalnya, Alvaro merasa otaknya membutuhkan asupan kafein karena masalah yang memenuhi kepalanya. Pun cowok itu memilih singgah ke salah satu kedai kopi yang sering ia lewati setiap pulang sekolah. Saat memasuki kedai, tanpa sengaja netra Alvaro menangkap sosok familiar yang tengah duduk di salah satu meja yang berada di sisi jendela besar.
Ada sedikit dari diri Alvaro yang ingin menghampiri gadis itu, namun Alvaro mengurungkan niatnya, memilih untuk memesankan kopi untuk gadis itu---yang sampai sekarang Alvaro tidak tahu alasan ia melakukannya---kemudian berlalu dengan satu cup kopi di tangannya untuk dirinya sendiri.
"Gimana kopi yang gue pesan?" Tanyanya.
Zira mengernyitkan dahinya sebentar, sebelum rasa terkejut menguasai dirinya. "H-hah?"
"Kopi yang gue pesan untuk lo," ulang Alvaro, walau Zira sebenarnya sudah mendengarnya dengan sangat jelas, hanya saja tidak mempercayai apa yang baru saja ia keluar dari bibir cowok itu. "I-itu dari lo?"
Alvaro mengangguk tanpa suara.
"Nggg..." Zira masih bingung, tak tahu harus menjawab apa. "Makasih," katanya kaku.
Tanpa sadar, ada senyum samar yang bermain di wajah Alvaro.
Can i tell her that she looks cute?
"Anggap itu sebagai permintaan maaf gue untuk yang semalam," kata Alvaro.
"Gue sama sekali nggak mempermasalahkannya---"
"But i do," sela Alvaro, membuat Zira terdiam. Cowok itu menghela nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. "Let's not talk about it," ucapnya, menunjukkan ketidakinginan untuk membahas apa terjadi kemarin.
Zira mengangguk, menuruti keinginan Alvaro yang tak ingin membahas apa yang terjadi kemarin, walau sejujurnya, terlalu banyak tanda tanya di dalam kepalanya. Zira baru akan memulai mengajari Alvaro saat panggilan masuk di ponsel cowok itu menginterupsinya.
Alvaro meraih ponselnya yang berada di atas meja. Ekspresinya jelas berubah saat menatap apa yang tertera disana. Sedetik kemudian, Alvaro kembali meletakkan ponselnya dengan kasar. "Ayo lanjut."
"Tapi telfonnya?"
"Nggak penting."
Panggilan yang sempat memecahkan keheningan tadi akhirnya berhenti. Namun selang beberapa saat, ponsel Alvaro kembali berdering. Zira mampu melihat rahang Alvaro yang mengeras, tampak menahan emosi.
Cowok itu tetap mengabaikannya, sampai untuk kedua kalinya, panggilan tersebut berakhir.
Terlalu banyak pertanyaan yang bermain di kepala Zira, tanpa bisa perempuan itu lontarkan. Lebih tepatnya, tak berani perempuan itu lontarkan.
"Lo mau nanya apa?" Tanya Alvaro, menyadari bahwa Zira seperti ingin menanyakan sesuatu, namun ada sesuatu yang menahan gadis itu melakukannya.
"Hh? E-enggak, kok."
KAMU SEDANG MEMBACA
Lost [Completed]
Novela Juvenil[BAHASA] unable to find one's way; not knowing one's whereabouts "Maybe, we can fix each other." *** Hidup Zira semula datar-datar saja. Kemudian suatu hari, kepala sekolah memintanya untuk mengajari Alvaro, murid paling badung yang nilainya menempa...
![Lost [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/151857175-64-k34562.jpg)