41 • Letting Go

1.9K 296 16
                                        

Halo🙆

Happy reading!✨

---

Arkan menatap hampa pada langit-langit kamarnya. Tadi, ia berinisiatif untuk menjemput Zira sepulang sekolah, sekaligus untuk melihat bagaimana keadaan gadis itu karena semalam, saat ia menelpon gadis itu, suara gadis itu terdengar serak dan parau, membuat Arkan tidak perlu bertanya untuk mengetahui bahwa gadis itu habis menangis.

Dan apa yang ia lihat siang tadi saat pertama kali melihat gadis itu di gerbang sekolah sangatlah buruk. Gadis itu jauh dari kata baik. Matanya memang tak begitu terlihat sembab, namun gadis itu terlihat begitu kosong, seakan baru saja kehilangan sebagian dirinya. Saat Arkan bertanya ada apa, butuh beberapa saat untuk Zira menjawab, "gue dan Alvaro. Kita... Udah selesai." Hanya itu. Zira tak berniat memberikan penjelasan lebih lanjut, namun Arkan pun juga tak membutuhkannya, karena kemungkinan besar, ia sudah tahu alasannya.

Seharusnya Arkan merasa senang sekarang. Alvaro mungkin sudah hancur seperti yang ia inginkan, dan mungkin juga ada sedikit kesempatan untuk dirinya mendapatkan Zira. Namun yang ia rasakan hanyalah... sakit. Ada rasa sakit yang bersemayam di dasar dadanya saat melihat Zira yang begitu terluka.

Dan jika Arkan boleh memilih, rasanya ia lebih rela membiarkan Alvaro bersama dengan Zira daripada harus melihat gadis itu seperti sekarang. Walau mungkin ia akan terdengar seperti tidak memikirkan Rafael, namun Arkan tidak sampai hati untuk melukai seseorang yang tidak ada sangkut-pautnya dengan apa yang terjadi antara dirinya dan Alvaro, terutama orang itu adalah Zira, gadis yang ia sayangi.

Arkan menghembuskan nafas perlahan, sebelum kemudian meraih kunci motor di meja belajarnya dan mengenakan jaket yang ia letakkan begitu saja di sandaran kursi belajarnya,

Ia berniat untuk menemui Zira, setidaknya, mencoba untuk membuat keadaan lebih baik.

Zira menatap pantulan bayangannya di cermin yang ada di kamarnya, kemudian menghirup nafas perlahan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Zira menatap pantulan bayangannya di cermin yang ada di kamarnya, kemudian menghirup nafas perlahan. Ia sudah lelah menangis, sudah terlalu lelah untuk memikirkan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin sampai kapanpun, tak akan ia dapatkan jawabannya.

Hari ini, ia sama sekali tidak melihat Alvaro; baik di apartemen maupun di sekolah. Seakan lelaki itu menghilang begitu saja. Namun, mungkin tidak melihat sosok pemuda itu adalah pilihan terbaik untuk sekarang.

Zira jelas kecewa dengan keputusan yang Alvaro ambil. Apa yang dilakukan Alvaro seakan menunjukkan bahwa cowok itu tidak lagi ingin mencoba. Bahwa setelah semuanya, cowok itu menyerah begitu saja.

Namun disisi lain, ia tidak ingin memaksa cowok itu. Ia tidak ingin memaksa Alvaro, saat laki-laki itu sendiri bahkan sudah memintanya untuk pergi.

Alvaro sudah memilih keputusannya, dan jika Alvaro ingin merubah keputusannya, Zira ingin agar cowok itu melakukannya karena keinginannya sendiri, bukan karena Zira yang memintanya.

Lost [Completed]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang