28 • Morning

2.2K 344 30
                                        

Haiii💗

Tolong dibaca yah celotehan aku di akhir chapter ini😊

Happy reading!✨

---

Cowok yang mengenakan baju kaos hitan dilapisi kemeja flanel kotak-kotak berwarna merah yang tak lain adalah Reno melangkah santai menyusuri lorong yang membawanya ke apartemen Alvaro setelah keluar dari lift.

Hari ini hari sabtu yang artinya libur. Reno menyempatkan dirinya untuk menyambangi apartemen Alvaro, sekaligus untuk menjawab rasa penasarannya tentang Alvaro yang semalam pergi begitu saja dengan wajah yang begitu khawatir. Sesuatu yang tentu saja sangat bukan Alvaro.

Reno mengetuk pintu apartemen Alvaro beberapa kali, namun pintu tersebut tetap tertutup rapat. Reno kembali mengetuk pintu lebih keras membuat bunyi gaduh yang cukup kontras dengan kesunyian yang ada di lantai dua gedung apartemen Alvaro, karena waktu juga baru menujukkan pukul 08.00, masih terlalu awal untuk kebanyakan orang menjalani aktivitas terutama di hari libur.

Pada akhirnya, pintu apartemen Alvaro terbuka dan menampilkan wajah bangun tidur Alvaro. Cowok itu masih mengenakan pakaian yang ia gunakan di kelab semalam. "Happiest birthday, my friend," ucap Reno diikuti seringai di akhir kalimatnya.

"Apaan sih?" Tukas Alvaro, jelas kesal karena tidurnya terganggu dengan kedatangan Reno.

Namun Reno tak peduli, dan justru melangkah begitu saja melewati Alvaro dan duduk santai di sofa ruang tamu Alvaro. Alvaro menutup pintu apartemennya, lalu berniat kembali ke kamarnya sebelum satu seruan Reno membuatnya berbalik. "Eh, eh. Mau kemana lo?"

"Tidurlah," balas Alvaro. "Lo baru aja menganggu tidur gue yang baru berjalan tiga puluh menit. Gue juga nggak punya waktu untuk meladeni kedatangan lo yang pastinya nggak bertujuan."

Reno hanya mengangkat salah satu sudut bibirnya menanggapi ucapan Alvaro yang dengan jelas menunjukkan kekesalannya karena Reno telah menganggu tidurnya. "Santai, bos. Kedatangan gue kesini bertujuan kok. Eh, emang lo darimana sampai baru tidur setengah jam doang?"

"Apartemen Zira."

Mata Reno membulat. "Lo semaleman di apartemen dia? Jangan bilang---"

"Buang imajinasi kotor lo jauh-jauh," sela Alvaro. Ia memang baru pulang dari apartemen Zira sekitar pukul 07.00 tadi. Semalaman, ia hanya duduk di apartemen Zira, menjaga gadis itu seperti yang dijanjikannya. Alvaro baru merasa bisa pergi dari apartemen Zira saat hari sudah pagi.

Alvaro sempat meninggalkan bubur ayam yang cowok itu beli di meja makan apartemen Zira sebelum ia kembali ke apartemennya sendiri. Gadis itu belum bangun dari tidurnya saat Alvaro beranjak keluar dari apartemennya.

"Terus? Lo ngapain?" Tanya Reno. "Lo juga pergi buru-buru banget semalam."

Alvaro menghembuskan nafas panjang, sebelum melangkah menuju dapur untuk sekedar membuat segelas kopi, berharap rasa kantuknya bisa hilang setelahnya. Ia tahu ia tidak akan bisa kembali tidur dengan nyenyak sebelum meladeni pertanyaan demi pertanyaan Reno. "Dia punya masalah, dan dia nelfon gue. Jadi gue datang ke apartemennya."

Reno tak ingin bertanya lebih lanjut perihal masalah apa yang dihadapi Zira, karena Alvaro juga sepertinya enggan untuk membahasnya. "Semalam adalah pertama kalinya gue melihat lo sekhawatir itu. Ah, ralat, pertama kalinya gue melihat lo khawatir."

Alvaro mengaduk kopinya beberapa kali sebelum kemudian membawa cangkirnya ke ruang tamu, duduk di sofa yang berhadapan dengan Reno. Cowok itu menyesap kopinya sekali sebelum berkata, "gue juga nggak menyangka bisa merasa sekhawatir ini sama seseorang."

Lost [Completed]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang