38 • Permulaan [2]

1.5K 263 25
                                        

Halo🙌

Happy reading!✨

---

Langit sudah sepenuhnya gelap, menandakan malam sudah tiba. Udara terasa begitu dingin dan menusuk kulit lebih dari biasanya, memberi tanda bahwa hujan akan turun sebentar lagi.

Alvaro memarkirkan motornya di halaman luas yang ada di samping warung yang terletak di depan SMA Rajawali, warung yang biasanya ia datangi jika sedang bolos bersama Reno. Warung itu sudah tutup, membuat tidak ada penerangan di sekitar kecuali lampu remang-remang yang terpasang di depan warung itu. Alvaro menatap jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul 19.05.

Alvaro melihat ke sekelilingnya dan tidak menemukan keberadaan Arkan dimanapun. Di dalam hatinya, cowok itu masih menerka-nerka apa yang sebenarnya Arkan rencanakan. Alvaro tahu laki-laki itu tidak lagi bermain-main dengan dirinya.

Beberapa detik kemudian, Alvaro mampu mendengar bunyi raungan motor yang mendekat, disusul oleh cahaya dari lampu motor yang mampu ia lihat ujung jalan yang semakin lama semakin mendekat ke arahnya.

Tak lama kemudian, sang pengendara memasuki halaman kosong tempat Alvaro berdiri sekarang, memarkirkan motornya tak jauh dari motor Alvaro, kemudian membuka helmnya. Orang itu tak lain adalah Arkan.

"Gue tau lo akan datang," ucap Arkan setelah turun dari motornya. Cowok itu berdiri tepat di hadapan Alvaro, menyisakan jarak beberapa langkah di antara mereka berdua.

"Nggak usah basa-basi," sela Alvaro dingin. "Lo mau apa?"

"Let's straight to the point," balas Arkan. "Lepaskan Zira," sambungnya dengan wajah tenang, seakan-akan apa yang baru saja ia ucapkan bukanlah suatu hal yang besar.

Salah satu sudut bibir Alvaro terangkat. Cowok itu terliha tenang, namun dari sorot matanya, Arkan tahu cowok itu siap untuk menghabisi siapapun. "Hati-hati dengan kata-kata lo," ucap Alvaro. "Gue nggak akan berpikir dua kali untuk menghabisi lo sama seperti yang gue lakukan kepada kakak lo itu."

"Deep down inside your heart, you know you don't deserve her, don't you?" Tanya Arkan, mengabaikan ancaman yang baru saja Alvaro berikan kepadanya. Ada sesuatu dari pertanyaan Arkan yang menghantam Alvaro. Telak.

"Zira pantas mendapatkan yang lebih baik, bukan seseorang yang hampir membunuh orang lain dan sama sekali nggak merasa bersalah atas itu," tukas Arkan.

BRUK!

Di detik selanjutnya, Alvaro sudah menghantam sudut bibir Arkan dengan kepalan tangannya, membuat cowok itu mundur beberapa langkah dan hampir saja kehilangan keseimbangannya. "Tutup mulut lo, atau gue pastikan lo mati malam ini di tangan gue," ucap Alvaro dingin dengan mata yang menatap Arkan nyalang. Ketenangan yang biasanya ada pada diri Alvaro sirna. Rahang cowok itu mengeras, menandakan emosi yang sudah menguasai dirinya.

Arkan menyentuh sudut bibirnya dengan jemarinya, kemudian menatap darah yang melekat pada jari-jarinya. Cowok itu lalu tergelak pelan. "Lo marah karena kata-kata gue salah, atau justru karna lo takut mendengar kebenaran?"

Alvaro tidak ingin mengakuinya, bahkan kepada dirinya sendiri. Namun di dalam dirinya, cowok itu tahu ia baru saja menghajar Arkan karena jawaban yang kedua. Ia takut akan kebenaran yang Arkan katakan.

Bahwa dia tidak pantas mendapatkan Zira.

"Mungkin Zira menerima lo karna dia percaya bahwa lo adalah orang yang baik," kata Arkan dengan mata yang menatap Alvaro remeh. "Tapi gimana kalau dia tau yang sebenarnya? Gimana kalau dia tau, seorang Alvaro Pradipta nggak lebih dari seorang pengecut yang pernah hampir mengambil nyawa seseorang?"

Lost [Completed]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang