Halo!🙆
Maaf untuk updatean yang super lama ini.
Well,
Happy reading!✨
---
Matahari sudah bangun dari peraduannya. Ada kicauan burung yang terdengar menandakan pagi yang datang. Hari ini hari minggu, membuat kebanyakan orang memilih untuk tetap bergelung di balik selimut mereka daripada harus beraktivitas, memanfaatkan hari minggu ini sebagai hari untuk beristirahat dari kepenatan.
Semalaman, Alvaro tidak tidur. Lebih tepatnya, ia tidak bisa. Ia menghabiskan berjam-berjam di kamarnya hanya untuk mengamati Zira yang terlelap, sebelum kemudian keluar dari kamar, dan merokok hingga pagi menjelang.
Alvaro pikir, ia akan membaik, setidaknya sedikit. Namun ternyata tidak. Rasa sakitnya masih sama.
Cowok itu mematikan rokoknya, disusul dengan bunyi gagang pintu kamarnya yang ditekan. Sesaat kemudian, Zira muncul dari dalam kamarnya. Rambutnya tergerai di bahu begitu saja, dan ada senyum yang merekah di wajahnya. "Pagi," sapanya.
Alvaro mengusap puncak kepala Zira begitu gadis itu berhenti dan berdiri disisinya. "Ayo masuk, disini dingin," katanya. Dan memang benar, karena udara terasa begitu dingin menusuk kulit, sisa hujan deras yang turun semalam.
Zira menuruti kata-kata Alvaro. Gadis itu masuk ke dalam apartemen, diikuti oleh Alvaro yang berada di belakangnya.
"Mau sarapan?"
Zira menggeleng. "Belum lapar."
"How about some tea?"
Kali ini, Zira menyetujuinya. Gadis itu mengekori Alvaro menuju ke dapur, duduk di meja bar sembari menunggu Alvaro membuatkan dirinya segelas teh.
Gadis itu menatap punggung Alvaro yang memang membelakanginya, kemudian membuang nafas pelan. Cowok itu masih terlihat sedih seperti semalam, padahal Zira berharap Alvaro sudah kembali menjadi Alvaro yang biasanya saat ia terbangun pagi ini.
Dan Alvaro terlihat tidak berniat untuk mengatakan apapun kepada dirinya.
Selang beberapa saat kemudian, Alvaro duduk di sisinya dengan membawa dua gelaa teh. Zira meraih secangkir teh yang kemudian terasa hangat di telapak tangannya. Ada sunyi sejenak, sebelum akhirnya Zira menoleh, lalu katanya, "masih belum mau cerita?"
Untuk beberapa alasan, ada sebuah pukulan keras di dalam dada Alvaro saat mendengar pertanyaan Zira. Gadis ini adalah kelemahannya. Dan yang ingin Alvaro lakukan sekarang ini adalah membawa gadis itu ke dalam rengkuhan paling erat yang ia miliki, membisikkan semua kata yang mampu mengutarakan seberapa besar Alvaro mencintainya. Tapi yang ia lakukan hanyalah terdiam membisu di tempatnya.
Alvaro ingin memulainya, namun ia terlalu takut untuk melakukannya. Ia terlalu takut untuk melihat Zira membalikkan badannya dan pergi meninggalkannya setelah ini.
Pun pada akhirnya, Alvaro berkata, "I don't deserve you." Zira terpaku mendengar kata-kata Alvaro. "Dari awal gue udah mikirin ini, bahwa perempuan seperti lo, pantas mendapatkan yang jauh lebih baik daripada gue."
Zira tidak mengerti mengapa Alvaro tiba-tiba mengatakan ini semua kepadanya. Ia mampu menemukan rasa sedih, marah, kecewa dan takut di dalam mata lelaki itu.
"Gue... Nggak ngerti."
"Gue nggak seharusnya meminta lo untuk menjadi pacar gue, Cee. Nggak seharusnya gue---"
"Jadi lo menyesali apa yang kita punya?" Zira menyela, dan Alvaro mampu menemukan rasa kecewa di dalam suara Zira.
Ini yang Alvaro takuti, bahwa Zira akan terluka karena keputusannya. "Cee," Alvaro menyentuh lengan Zira, "bukan itu maksud gue."
KAMU SEDANG MEMBACA
Lost [Completed]
Teen Fiction[BAHASA] unable to find one's way; not knowing one's whereabouts "Maybe, we can fix each other." *** Hidup Zira semula datar-datar saja. Kemudian suatu hari, kepala sekolah memintanya untuk mengajari Alvaro, murid paling badung yang nilainya menempa...
![Lost [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/151857175-64-k34562.jpg)