[BAHASA]
unable to find one's way; not knowing one's whereabouts
"Maybe, we can fix each other."
***
Hidup Zira semula datar-datar saja. Kemudian suatu hari, kepala sekolah memintanya untuk mengajari Alvaro, murid paling badung yang nilainya menempa...
"Banyak yang tak ku ahli Begitu pula menyambutmu pergi."
Nadin Amizah - Rumpang
Alvaro duduk di sisi kasurnya sejenak setelah selesai mandi dan berganti baju. Setelah menghabiskan waktu hampir sehari penuh di rumah sakit untuk menunggui Zira, akhirnya Alvaro memutuskan untuk pulang sebentar ke apartemennya.
Ia menghela nafas—panjang dan berat. Satu hari ini terasa bergulir begitu lama bagi Alvaro. Rasanya waktu seakan berhenti bergerak saat ia menunggu Zira di ruang ICU. Waktu seakan berhenti bergerak dan membiarkan Alvaro tenggelam dalam ketakutan yang tak berujung.
Ponsel Alvaro yang berada di atas kasur berdenting sekali. Jantung Alvaro berdebar keras saat meraih ponselnya dan membaca sederet huruf yang tertera disana.
Cee : Zira udah sadar
Tiga kata itu membuat Alvaro segera meraih kunci motornya, kemudian bergegas keluar dari apartemennya dan menuju ke tempat parkir apartemen, tak ingin membuang waktu untuk segera melajukan motornya menuju ke rumah sakit.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Alvaro berhenti di lorong ruang ICU tempat Zira berada. Ada Arkan dan Carel—yang baru tiba siang tadi, tengah duduk di depan ruangan itu.
"Dia mencari lo," kata Arkan singkat saat melihat sosok Alvaro. Mendengarnya, Alvaro perlahan menekan knop pintu, mendapati Bram yang tengah berdiri di sisi kasur putrinya sembari mengatakan sesuatu kepada anak bungsunya itu.
Bram mengangkat wajah dan menatap Alvaro. Seakan mengerti, pria itu kemudian berjalan keluar dari ruangan setelah mengusap surai hitam Zira sejenak. Alvaro tersenyum sopan kepada Bram saat pria itu berjalan melewatinya, yang dibalas oleh anggukan singkat. Begitu pintu ditutup, Alvaro perlahan berjalan mendekati Zira, meraih jemari gadis itu ke dalam genggaman, sedangkan satu tangannya yang lain mengusap pucuk kepala Zira lembut. Ada begitu banyak kata yang ingin Alvaro ucapkan, namun hanya satu kata yang kemudian ia suarakan, "Maaf."
Alvaro menatap wajah Zira yang terlihat pucat. Matanya terlihat begitu sayu dan lelah. "Maaf karena gue meminta lo pergi. Maaf karena gue sudah gagal menjaga lo. Maaf karena—"
"Alvaro," Zira menyela dengan suara pelan. "Gue baik-baik aja."
Lo berbohong. Alvaro ingin mengatakannya, namun ia membisu. Alvaro tahu gadis itu jauh dari kata baik-baik saja. Ada rasa sakit yang memancar dari sorot matanya. Namun seakan ingin meyakinkan Alvaro, gadis itu tersenyum. Ada sesuatu tentang senyum Zira yang membuat hati Alvaro terasa sakit.
Mata Zira kemudian memandang ke jendela besar yang berhadapan langsung dengan lorong tempat Bram, Carel dan Arkan menunggu. "Gue pernah bilang kalau gue akan melakukan apa saja agar keluarga gue bisa kembali seperti sedia kala," kata Zira, namun terdengar seperti lirihan karena dirinya yang tak bertenaga bahkan hanya untuk sekedar bersuara. "Mungkin ini jawabannya. Dengan kondisi gue yang seperti ini, Papa dan kak Carel bisa berkumpul lagi, gue bisa merasakan kasih sayang Papa. Gue kembali merasakan apa yang disebut rumah, walau rasanya tetap nggak utuh tanpa Mama."