Halo!🙆
Semoga masih menunggu updatean cerita ini✨✨
Happy reading!💗
---
Jarum jam menunjukkan hampir pukul 7 malam. Zira menimbang-nimbang apakah malam ini ia akan pergi ke apartemen Alvaro atau tidak. Kejadian di kantin pagi tadi membuatnya tak ingin bertemu Alvaro untuk beberapa waktu.
Ia tahu, mungkin ia akan terkesan seperti tidak tahu diri karena jelas-jelas Alvaro sudah menolongnya tadi. Namun, karena Alvaro melakukan itu, ia sekarang harus menjadi bahan pembicaraan di Rajawali.
Pulang sekolah tadi, Zira tahu bahwa banyak sekali pasang mata yang menatapnya sepanjang ia melintasi koridor menuju ke gerbang. Ia tahu yang menjadi topik utamanya bukanlah ia yang menumpahkan minuman ke baju Nessa dan membuat gadis itu naik pitam, namun kehadiran sosok Alvaro sebagai penolong dirinya. Mungkin seisi sekolah bertanya-tanya mengapa Alvaro mau menolong gadis sepertinya.
Dan jujur, Zira juga bertanya demikian.
Namun apapun alasannya, tindakan Alvaro membuat Zira merasa kecil dan tidak berguna. Ia tidak mau cowok itu memandangnya sebagai gadis yang tak bisa apa-apa. Ia tidak mau seisi sekolah memandangnya sebagai gadis yang tidak bisa apa-apa.
Zira menatap buku biologi yang ada di dekapannya. Gadis itu menghembuskan nafas panjang. Ia mengingatkan dirinya sendiri, bahwa tanggung jawab tetaplah tanggung jawab. Ia sudah menerima tawaran dari kepala sekolah, yang artinya ia harus memenuhi tanggung jawabnya untuk mengajari Alvaro.
Setelah menghabiskan beberapa waktu untuk meyakinkan hatinya, pun gadis itu berjalan keluar dari apartemennya, mengunci pintu kemudian berjalan menuju ke apartemen Alvaro. Tangannya terulur untuk mengetuk pintu apartemen milik cowok itu. Tak butuh waktu lama untuk sang pemilik apartemen membuka pintu dan memberikan Zira akses untuk masuk tanpa mengatakan sepatah kata pun, seperti biasanya.
Seperti hari-hari sebelumnya, keduanya duduk di ruang tamu Alvaro. Begitu Zira menatap Alvaro, Zira kembali ragu. Fakta bahwa pertolongan yang Alvaro berikan tadi mungkin akan membuatnya mulai hari ini akan dipandang anak-anak sekolah sebagai sosok yang tidak mampu melindungi dirinya sendiri membuat perasaannya campur aduk.
Di satu sisi, ia tahu ia harus berterima kasih kepada Alvaro. Di sisi lain, Alvaro membuatnya merasa kecil dan tidak berguna di kantin tadi. Dan mungkin memang cowok itu memandangnya seperti itu.
"Kita udah membuang waktu lima menit, Cee," ucap Alvaro pada akhirnya, mengingatkan Zira bahwa mereka sudah melewatkan banyak waktu hanya dengan keheningan.
Zira mengangkat wajahnya, menatap balik Alvaro yang tengah menatapnya. "Kenapa?"
Alvaro mengernyit, menandakan kebingungan yang mengisi pikirannya.
"Kenapa lo nolongin gue tadi pagi di kantin? Kenapa lo harus ada disana? Kenapa..." Zira kehilangan kata karena emosi yang terlalu menggebu di dalam dadanya. "Lo merasa gue nggak bisa apa-apa?" Tanya Zira pada akhirnya.
"Kenapa lo nanya kayak gitu?" Alvaro balas bertanya.
"Karena lo, gue dipandang nggak bisa apa-apa sama anak-anak sekolah," jawab Zira dengan emosi yang jelas terselip di dalam suaranya.
Alvaro terengah, tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. "Gue memang sama sekali nggak mengharapkan kata terima kasih lo, namun bukan berarti lo bisa mencerca gue setelah apa yang gue lakukan terhadap lo."
"Gue nggak minta lo untuk bantuin gue!" balas Zira, untuk pertama kalinya berbicara dengan intonasi seperti ini dengan Alvaro. Ada marah dan sesak yang terus menekan dirinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lost [Completed]
Ficção Adolescente[BAHASA] unable to find one's way; not knowing one's whereabouts "Maybe, we can fix each other." *** Hidup Zira semula datar-datar saja. Kemudian suatu hari, kepala sekolah memintanya untuk mengajari Alvaro, murid paling badung yang nilainya menempa...
![Lost [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/151857175-64-k34562.jpg)