19 • Rasa yang Sama

2.2K 396 10
                                        

Halo💓🙆

Happy reading!✨

---

"Lo coba kerjain latihan soal ini," ucap Zira, menunjuk 10 nomor soal di dalam buku tebal berisi soal-soal latihan untuk ujian nasional. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Alvaro meraih buku dan pulpen milik Zira, lalu mulai mengerjakannya.

Malam ini, Zira kembali melakukan tugasnya untuk mengajari Alvaro setelah dua hari terakhir ia absen melakukannya karena cowok itu yang menghilang tanpa kabar. Sejujurnya, Zira masih merasa canggung dengan apa yang terjadi di perpustakaan pagi tadi.

Setelah beberapa hari menghilang begitu saja, Alvaro datang dengan sebuah pertanyaan yang berada di luar dugaan Zira. Zira bahkan sedari tadi menghindari kontak mata dengan Alvaro dan hanya berbicara secukupnya. Gadis itu rasanya ingin cepat-cepat keluar dari kecanggungan yang menyelimuti dirinya disini dan segera kembali ke apartemennya.

Menit demi menit berlalu. Pikiran Zira teralih saat Alvaro menyodorkannya buku yang sudah penuh dengan tulisan tangan cowok itu. Zira menghabiskan beberapa saatnya untuk membacanya, lalu menganggukan kepalanya. "Jawaban lo benar semua."

Diam-diam, Zira menghembuskan nafas panjang karena ia bisa segera pulang ke apartemennya kembali. Gadis itu membereskan buku-bukunya dan menumpuknya lalu mendekapnya dengan tangan kirinya.

"Gue balik, ya. Kita lanjut besok." Mungkin karena sibuk dengan pikirannya sendiri, Alvaro tidak sadar bahwa Zira sudah selesai membereskan buku-bukunya yang semula berserakkan dan sudah berdiri, bersiap-siap untuk pulang.

Alvaro hanya mengangguk tanpa mengatakan sepatah kata pun, membiarkan Zira melangkah menuju ke pintu keluar.

Zira menggerakan kakinya menuju pintu, namun saat ia menekan knop pintu dan membukanya, gadis itu langsung segera menutupnya kembali dengan debaran jantung yang berkejaran.

Kakak laki-lakinya, Carel, tengah berdiri di depan pintu apartemennya sekarang.

Zira mencengkram erat gagang pintu apartemen Alvaro. Bagaimana pertemuan terakhir dirinya dan Kakak laki-lakinya itu membuat Carel sekarang berada di dalam daftar orang yang tidak ingin Zira temui. Setidaknya untuk sekarang.

Bagaimana kekecewaan dan kemarahan di sorot mata Carel, juga bagaimana Kakaknya yang tidak menunjukkan rasa mengerti sama sekali hanya membuat Zira semakin terluka. Semua itu menyadarkan Zira pada satu hal; semuanya sudah tidak sama lagi. Carel yang Zira harapkan menjadi orang yang mampu memahami dirinya justru bersikap seperti yang lain, menganggap Zira hanyalah anak pembangkang yang tak mampu menerima apa yang telah terjadi.

"Lo... ada apa?" Alvaro muncul, awalnya ingin melemparkan pertanyaan perihal mengapa Zira belum kunjung pulang ke apartemennya, namun ia berakhir dengan menanyakan apa yang terjadi.

"Gue bisa disini sebentar?" Tanya Zira.

Alvaro mengangguk, membiarkan gadis itu berada di dalam apartemennya lebih lama, walau Alvaro sendiri tidak tahu alasannya apa.

Samar-samar, Alvaro dan Zira mendengar suara laki-laki yang menyerukan nama Zira dengan suara ketukan pada pintu yang menyertai. Lorong apartemen yang sepi membuat mereka mampu mendengarnya lebih jelas.

"Kakak gue. Carel," jawab Zira, menjawab pertanyaan yang bermain di kepala Alvaro tanpa sempat cowok itu suarakan.

"Kenapa nggak lo temuin?"

Lost [Completed]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang