Halo💗
Happy reading!✨
---
Zira melangkahkan kakinya meninggalkan apartemennya dan berjalan menuju ke apartemen Alvaro yang hanya berjarak beberapa meter. Hari ini, ia sama sekali tidak bertemu dengan Alvaro padahal cowok itu sudah berjanji akan datang ke apartemennya, membuat gadis itu memilih untuk menyambangi apartemen cowok itu.
Zira mengetuk pintu apartemen Alvaro beberapa kali, namun sang pemilik apartemen tak kunjung muncul membuat Zira menebak bahwa cowok itu sedang tidak berada di apartemen. Ia baru saja akan mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Alvaro, saat terdengar bunyi dentingan lift disusul dengan kemunculan orang yang sedang ia cari dan sekarang tengah berjalan ke arahnya.
Zira cukup terkejut melihat sekujur tubuh Alvaro yang basah, rambutnya yang yang jatuh di kening dan meneteskan air yang mengalir ke dahinya, kemudian ke garis rahangnya. Saat cowok itu berjalan semakin dekat ke arahnya, Zira mampu menemukan sendu di dalam mata pemuda itu.
Cowok itu tidak terlihat baik.
Zira mengulurkan tangannya, menyapu air yang ada di pelipis Alvaro kemudian berkata, "Darimana sampai hujan-hujanan gini?"
Alvaro tidak menjawab, dan hanya menghela nafas yang panjang dan berat. Alvaro mengusap pipi Zira dengan jemarinya yang terasa begitu dingin, kemudian menatap mata gadis itu dalam-dalam. "Sleep in my apartment tonight?"
Zira mengerjapkan matanya, terkejut dengan pertanyaan Alvaro. Zira sempat berpikir cowok itu sedang dalam keadaan mabuk, namun tidak tercium bau alkohol dari tubuhnya sama sekali.
Sebelum Zira sempat bertanya, Alvaro sudah kembali bersuara. Katanya, "I just wanna spend my time with you tonight." Maybe for the last time. "Lo bisa tidur di kasur gue, dan gue akan tidur di sofa. Please?"
Zira tidak mengerti ada apa dengan Alvaro malam ini. Gadis itu hanua mengangguk, mengiyakan permintaan Alvaro. Cowok itu mengeluarkan kunci apartemennya, membuka pintu dan membiarkan Zira masuk terlebih dahulu sebelum ia ikut masuk ke dalam kemudian mengunci pintu kembali.
Alvaro masih enggan menjelaskan apapun kepada Zira. Cowok itu hanya mengusap surai hitam Zira sesaat sembari berucap, "tunggu disini sebentar, ya. Gue mandi dulu."
Zira mengangguk, membiarkan Alvaro masuk ke dalam kamarnya, meninggalkannya sendirian di ruang tengah. Zira duduk di sofa yang biasa ia duduki setiap kali mengajari Alvaro dulu.
Detik demi detik yang berlalu terasa berjalan begitu lama. Zira berulang kali menatap jam yang terpasang di dinding ruang tengah apartemen Alvaro, berharap waktu dapat bergulir lebih cepat.
Sekitar 15 menit kemudian, Alvaro keluar dari kamarnya. Penampilannya sudah terlihat lebih baik. Rambutnya masih terlihat lembab, dan ada bau sabun yang menguar saat Zira mengambil langkah untuk mendekati cowok itu.
"Mending lo tidur, gue udah beresin kamarnya," kata Alvaro.
Zira tidak menghiraukan kata-kata pemuda itu, dan hanya diam sembari menatap manik matanya. Ada sesuatu tentang cowok itu yang terlihat begitu sedih malam ini. Ada sebentuk kerapuhan yang Zira temukan di dalam matanya. "Lo kenapa?" Tanya Zira.
Alvaro menghela nafas panjang. "I'm okay, Cee. Lo istirahat sekarang."
Zira kembali mengabaikan kata-kata Alvaro. Yang gadis itu lakukan selanjutnya adalah berjinjit, kemudian meraih bibir Alvaro dengan bibirnya sendiri.
Secepat Zira memulainya, secepat itu juga ciuman tersebut berlangsung. Hanya sebuah kecupan singkat, namun mampu menimbulkan desiran hebat di dalam dada keduanya. Setelah menarik dirinya kembali, Zira melingkarkan kedua lengannya di pinggang Alvaro, kemudian menyandarkan kepalanya di dada pemuda itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lost [Completed]
Teen Fiction[BAHASA] unable to find one's way; not knowing one's whereabouts "Maybe, we can fix each other." *** Hidup Zira semula datar-datar saja. Kemudian suatu hari, kepala sekolah memintanya untuk mengajari Alvaro, murid paling badung yang nilainya menempa...
![Lost [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/151857175-64-k34562.jpg)