Halo🙆
Arkan udah lama nggak muncul nih
Buat yang kangen Arkan sabar sabar dulu ya😂
Happy reading!✨
---
Zira duduk di meja makan di apartemennya ditemanu oleh Alvaro yang duduk di sebelahnya. Segelas air putih yang tersisa setengah gelas berada di genggaman gadis itu.
Keadaan Zira sekarang sudah lebih baik, walau matanya masih terlihat sembab. Gadis itu menunduk, tak sekalipun mengangkat wajahnya untuk menatap Alvaro yang tengah menatapnya.
Diam-diam, tanpa berniat mengatakannya langsung kepada Alvaro, Zira masih mengingat bagaimana hangatnya rengkuhan Alvaro tadi. Bagaimana cowok itu mengusap rambut dan punggungnya dengan lembut. Untuk beberapa alasan, Zira merasa lebih baik di dalam dekapan cowok itu.
"Maaf udah buat lo repot-repot kesini," lirih Zira, masih enggan mengangkat wajahnya. "Makasih juga udah mau datang."
"It's okay," kata Alvaro. "Gue nggak keberatan sama sekali."
Alvaro mengatakan yang sebenarnya. Cowok itu sama sekali tidak keberatan Zira menelponnya dan membuat ia datang kesini. Ia justru merasa... Bahagia. Mungkin karena fakta bahwa Zira ternyata mengingat dirinya dalam keadaan seperti ini.
Entah apa yang melintasi kepala Zira saat berlirih, "gue kangen Mama." Alvaro terdiam, tak mampu mengatakan apapun. "Gue sangat kangen Mama," ulang Zira, seakan menegaskan betapa ia merindukan Ibunya itu.
Kalimat yang baru saja diucapkan Zira adalah kalimat yang tak diduga oleh Alvaro. Zira tak mampu menyembunyikan lukanya saat mengatakan kalimat tersebut.
Setelahnya adalah hening, sebelum Alvaro pada akhirnya bersuara. "Cee," panggilnya. "Lo bisa cerita apapun ke gue."
Zira pada akhirnya mengangkat wajahnya, menatap balik Alvaro. Cowok itu bersungguh-sungguh mengatakannya, membuat Zira meyakinkan dirinya untuk bercerita kepada Alvaro.
"Gue...," kata Zira menggantung, bingung harus memulai ceritanya darimana. "Gue tadi pulang ke rumah sama kak Carel." Alvaro tak mengatakan apapun, memberikan isyarat bahwa ia bersedia mendengarkan apapun yang akan Zira katakan selanjutnya.
Zira menyentuh bibir gelas dengan jari telunjuknya. "Gue ketemu sama Papa, dan istri barunya. Istri yang dia nikahi nggak lama setelah Mama meninggal karena kecelakaan."
Alvaro, untuk kesekian kalinya, kehilangan kata mendengar cerita Zira. Ia tidak tahu keadaan keluarga Zira selama ini jauh dari kata baik, sama seperti apa yang dialami dirinya. Sekarang Alvaro paham mengapa Zira bisa mengerti apa yang ia rasakan selama ini.
"Papa sempat minta maaf," ucap Zira kemudian tersenyum ketir. "Tapi gue tau, Papa nggak benar-benar merasa bersalah. Permintaan maaf itu hanya untuk membuat Kak Carel dan Istrinya mikir kalau Papa masih peduli sama gue, walau kenyatannya enggak."
Zira menggigit bibirnya, sekuat tenaga menahan tangisnya. "Papa sama sekali nggak peduli," lirih Zira, hampir berbisik. "Bahkan, Papa udah berhubungan sama istri barunya itu semenjak Mama masih hidup."
Zira mencengkram erat gelas yang ada ditangannya. "Dia udah membohongi gue, kak Carel, terlebih Mama."
Air mata Zira jatuh membasahi pipi Zira, namun dengan cepat gadis itu menghapusnya. "Ini alasan kenapa gue pindah ke apartemen, sendirian. Gue nggak bisa terus tinggal di tengah-tengah orang yang nggak bisa lagi gue sebut keluarga. Semuanya udah berubah di detik pertama Mama pergi."
Untuk beberapa saat, Alvaro tak melakukan apapun, walau jika ia bisa jujur, ia ingin membawa Zira ke dalam rengkuhannya, sekali lagi. Ada bagian hatinya yang terasa sakit melihat Zira dengan kondisi seperti ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lost [Completed]
Teen Fiction[BAHASA] unable to find one's way; not knowing one's whereabouts "Maybe, we can fix each other." *** Hidup Zira semula datar-datar saja. Kemudian suatu hari, kepala sekolah memintanya untuk mengajari Alvaro, murid paling badung yang nilainya menempa...
![Lost [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/151857175-64-k34562.jpg)