42 • Bertahan

2K 306 19
                                        

Halo🙆

Semoga kalian masih semangat menunggu cerita ini.

Happy reading!✨

---

Tirai air yang begitu deras mulai turun membasahi bumi, membuat malam ini terasa begitu dingin. Namun Arkan punya alasan sendiri kenapa malam ini terasa sangat dingin; tak lain karena seorang gadis yang sekarang tengah terbaring di dalam ruang operasi.

Zira.

Keretakan pada tulang rusuk dan kehilangan banyak darah, juga hantaman keras pada kepalanya membuat operasi menjadi satu-satunya pilihan untuk menyelamatkan Zira.

Arkan hanya mampu terpaku dan bersandar di dinding rumah sakit yang terasa begitu dingin. Ia tak henti-hentinya merapalkan seutas doa di dalam hatinya. Di kursi besi yang ada di depan ruang operasi, ada Bram dan istrinya yang menunggu disana sejak beberapa saat lalu. Wajah pria itu tampak begitu kalut dan takut, bahkan Arkan mampu melihat air mata yang menggenang di pelupuk matanya.

Tadi, ada seorang petugas medis yang memberikan dirinya ponsel Zira yang layarnya sudah retak, namun masih dalam kondisi menyala. Pihak rumah sakit meminta Arkan untuk menghubungi keluarga Zira agar tindakan operasi dapat disetujui dan dijalankan. Saat Arkan membuka ponsel gadis itu, hanya ada tiga kontak yang gadis itu miliki di dalam ponselnya; Dirinya, Alvaro dan Carel.

Dari beberapa cerita Zira, Arkan tahu bahwa Carel adalah kakak laki-laki gadis itu, membuat dirinya memutuskan untuk mengabarinya. Masih terngiang di dalam kepala Arkan bagaimana suara Carel yang terdengar bergetar saat bertanya lebih lanjut soal apa yang terjadi dengan adiknya. 15 menit kemudian setelah panggilan tersebut berakhir, seorang pria yang Arkan yakini sebagai Ayah Zira datang bersama seorang wanita berusia 30-an, Arkan yakin bahwa mereka dikabari oleh Carel.

Arkan sempat mendengar sepenggal obrolan antara dokter yang sekarang tengah mengoperasi Zira dan Bram. Katanya, kemungkinan keberhasilan operasi adalah 50:50, mengingat kondisi Zira yang seperti sekarang ini.

Arkan menghela nafas. Panjang. Pemuda itu memejamkan matanya, kemudian kembali menatap layar ponsel Zira yang ada ditangannya, membaca berulang-ulang sebaris nama yang terletak di urutan paling pertama daftar kontak Zira.

Alvaro.

Ada keraguan dalam diri Arkan untuk menghubungi Alvaro, namun ia tahu ia harus melakukannya. Pada akhirnya, setelah berpikir apa yang harus di lakukannya, Arkan memilih menghubungi kontak itu. Alvaro berhak tahu apa yang terjadi, dan lebih dari itu semua, Arkan yakin Zira ingin melihat sosok pemuda itu di sisinya jika nanti gadis itu sudah terbangun.

Alvaro menjawab panggilan tersebut di nada sambung terakhir. Ada sebentuk rasa sedih dan ragu yang mampu ditangkap oleh Arkan saat Alvaro berkata, "Halo."

Arkan terdiam untuk sesaat, sebelum kemudian katanya, "Ini gue, Arkan."

"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Lost [Completed]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang