Selamat membaca...
Perkenalkan, namaku Shinta Naomi Junianatha. Kalian bisa memanggilku naomi. Umurku 15th, dan aku baru saja masuk ke sekolah menengah atas kelas satu. Tak ada yang special dari apa yang aku miliki selama ini. Aku hanya lah anak dari seorang wanita cantik yang memiliki karir sebagai seorang designer. Dia adalah jessica veranda, malaikat tak bersayap yang ku miliki di dunia ini. Sejak kecil hanya ada aku, dan bubi saja. Tidak ada laki-laki yang bisa ku panggil ayah selama 15th aku bersamanya. Setiap kali aku bertanya tentang sosok seorang ayah, bubi pasti terdiam. Entah apa yang membuat bubi tidak bisa menjawab pertanyaanku tentang keberadaan ayah kandungku sendiri. Semenjak itu lah, aku tidak lagi bertanya tentang ayah padanya.
Karena yang ku lihat, bubi adalah sosok ibu yang misterius namun penuh kasih sayang. Sepertinya, bubi banyak menyimpan cerita rahasia tentangku, dan dariku. Bicara tentang rahasia, aku teringat ketika kecil dulu bubi merahasiakan nama belakangku, *Junianatha!*
Junianatha adalah nama belakangku yang begitu dirahasiakan oleh bubi. Padahal menurutku itu biasa saja, dan aku berfikir jika nama belakangku itu hanya diambil dari bulan lahirku, yaitu bulan Juni.
Tapi, bubi bilang nama belakangku itu bukan hanya sekedar nama. Banyak cerita, dan rahasia di dalamnya. yang membuatku memiliki rasa penasaran ingin mengetahui kebenarannya selama ini. Selama 15th yang membuatku bungkam jika ada teman, atau bahkan guru yang bertanya huruf *J* di belakang namaku.
"Naomi" Oh my god bubi datang.
Aku segera menutup buku diary ku darinya.
"Kamu lagi apa?" tanya bubi padaku yang sedang berada di meja belajar.
Aku melihat ke arahnya yang berjalan menghampiriku.
"B-belajar lah, apa lagi" jawabku sesantai mungkin. karena aku tidak ingin bubi tau jika belakangan ini aku menulis diary tentang diriku.
"Udah selesai?" tanyanya lagi, dan aku mengangguk saja. Padahal aku tidak sedang belajar, hanya kebetulan saja buku pelajaranku berserakan di atas meja.
"Kalau gitu ikut bubi sebentar yuk ke bawah" ajaknya.
Karena tidak ingin bubi berlama-lama di kamarku, lalu melihat buku diaryku. Aku pun mengiyakan ajakannya, dan mengikutinya dari belakang.
"Emang di bawah ada apasih, sampai bunda ngajak aku turun" kataku.
Bubi tidak menjawab, ia malah tersenyum.
Sesampainya di bawah, atau lebih tepatnya di ruang tamu. Aku melihat seorang laki-laki yang tak ku kenal sedang duduk di sofa.
*apakah dia ayahku?* batinku yang selalu bertanya-tanya jika ada laki-laki yang bubi ajak ke rumah, dan diperkenalkannya padaku.
"Dia siapa bunda?" tanyaku pada bubi.
Bubi mendekatkanku pada laki-laki itu, dan ia sudah bersiap mengulurkan tangannya ke arahku.
"Naomi, kenalkan ini om marcel" ucap bubi yang mengenalkan kami.
Aku membalas uluran tangan om marcel, dan sedikit tersenyum padanya.
"Naomi"
"Marcel"balasnya.
Jika kuperhatikan, om marcel ini orang yang baik. Dan aku menyukai senyumannya.
"Om, siapanya bunda? Pacarnya ya?" celetukku kurang ajar, membuat bubi langsung menatapku tajam.
"Hehe piss!" kataku ke bubi sambil memberikan tanda damai ke arahnya.
Kulihat om marcel tertawa kecil ketika melihat kelakuanku pada bubi.
"Memangnya kalau om ini pacarnya bunda, kenapa?" tanya om marcel padaku.
"Ya gapapa sih" jawabku sedikit kikuk.
Om marcel kembali tertawa kecil mendengar jawabanku. Sementara bubi menatap malas ke arah om marcel di sampingnya.
"Haha om cuma bercanda kok. Om sama bunda kamu ini engga pacaran. Kita itu sepupuan, dan bunda kamu ini adik sepupunya om" jelas om marcel padaku.
Aku mengangguk mengerti dengan penjelasannya. Tapi, kenapa baru ini bubi mengenalkan sepupunya padaku. 15th aku hidup bersamanya, bubi begitu tertutup tentang keluarga yang dimilikinya. Termasuk ayah, kakek nenek yang aku tidak tau mereka siapa dan ada dimana sekarang.
Atau barangkali aku bisa cari tau siapa mereka selama ini melalui om marcel.
"Apa yang sedang kamu pikirkan naomi?" tanya om marcel kepadaku yang terlihat melamun.
"Engga om. Naomi cuma seneng aja, akhirnya naomi punya om kaya om marcel yang ganteeeeeeng banget!" jawabku jujur, yang memang begitu senang bisa mempunyai anggota keluarga selain bubi yang aku punya selama ini.
"Om juga senang bisa lihat kamu sudah tumbuh besar, dan menjadi gadis cantik seperti bunda kamu ini" ucapnya, membuatku tersipu malu.
"Boleh naomi peluk om?" ijinku kepada om marcel yang justru lebih dulu menarikku ke dalam pelukannya. Aku membalas pelukannya padaku yang begitu erat. Seperti inikah rasanya pelukan seorang ayah kepada anaknya? Yang selama 15th tidak pernah aku rasakan.
"Kamu boleh peluk om sepuasnya naomi" katanya kepadaku, dan membelai kepalaku lembut.
"Om, boleh gak naomi minta sesuatu sama om?" kataku, sambil mendongak ke atas menatap wajahnya yang tampan.
"Tentu boleh, kamu mau minta apa?" tanyanya padaku.
Aku kembali menatapnya, lalu ganti menatap bubi yang sedari tadi hanya menjadi penonton antara aku dan om marcel.
"Boleh gak naomi panggil om itu ayah(?)" jawabku yang meminta ijin padanya untukku panggil ayah.
Tanpa kuduga, ternyata om marcel menyetujui permintaanku.
"Tentu boleh naomi. Om justru senang kalau kamu memanggil om itu ayah. Tapi-" ucapnya menggantung, membuatku menatapnya penasaran.
"Tapi apa om?"
"Tapi, om lebih senang kalau kamu panggil om itu Daddy" jawabnya.
"Daddy?" ulangku
"Iya, daddy!"
Aku tersenyum, lalu kembali memeluknya erat.
"Makasih ya, udah ijinin naomi panggil om itu daddy" terimakasihku padanya.
"Iya, sama-sama" balas om marcel yang lagi-lagi mengusap kepalaku.
"Hmm...mentang-mentang udah punya daddy. Bubi dianggurin nih" ucap bubi yang sedari tadi hanya menjadi penonton dramaku dengan om marcel. Emm..bukan, maksudku daddy haha.
Aku segera melepaskan pelukanku pada daddy, lalu ganti memeluk bubi.
"Bunda, boleh kan naomi panggil om marcel itu daddy?" Tanyaku pada bubi yang tak lupa untuk meminta ijin padanya.
Aku mendongak melihat wajahnya ke atas, dan melihat bubi tersenyum.
"Boleh. Tapi ada syaratnya" kata bubi.
Aku menaikan sebelah alisku ketika bubi memberiku syarat.
"Apa?"
"Jangan panggil bubi dengan sebutan bunda lagi" ucapnya padaku.
Aku tersenyum, lalu menatapnya.
"Ok. Tapi naomi cuma mau panggil bubi di depan daddy aja" kataku
"Tapi-"
"Ssstt!" aku memberi isyarat pada bubi untuk diam, dan mengikuti apa yang ku bilang.
"Gak ada tapi-tapian. Bubi harus mau, dan gak ada penolakan!" kataku sedikit memaksa.
'Memaksa?' Huh! Aku tidak peduli.
"Dasar curang!" Katanya, dan lagi-lagi aku tidak peduli.
Aku melepaskan pelukanku pada bubi, lalu kembali memeluk daddy.
"Daddy laper gak?" Tanyaku pada daddy. Sekaligus menghindari bubi yang terlihat ingin protes padaku.
"Laper banget nih!" Jawab daddy sambil menepuk perutnya.
Aku tertawa kecil, lalu membawa daddy ke ruang makan.
"Daddy mau makan apa? Nanti biar bubi yang masakin" kataku, ketika sudah sampai di ruang makan bersama daddy. Dan ku lihat bubi menyusul dengan ekspresi kagetnya. Mungkin kaget karena mendengar ucapanku tadi pada daddy.
"Loh kok bubi yang masakin, kamu dong yang masakin buat daddy" kata daddy padaku.
Aku menggelengkan kepala padanya, sambil memasang wajah sedihku karena aku yang memang tidak bisa memasak seperti bubi. Terakhir kali aku masak sendiri sewaktu bubi keluar kota, dan itu pun gosong. Padahal aku hanya memasak telur dadar yang selalu bubi buatkan untukku saat makan malam.
"Dia gak bisa masak kak. Anak gadis tapi masak telur dadar aja gosong" ucap bubi pada daddy. Lalu melirik ke arahku dengan sedikit meledek.
Aku hanya diam, dan tidak membalas bubi yang sudah meledekku. Karena yang bubi katakan memang benar, kalau aku tidak bisa memasak. Bahkan aku suka salah memberikan campuran antara garam, dan gula ke dalam telur yang akan ku masak.
"Terus anak daddy yang cantik ini bisa nya apa?" Tanya daddy padaku.
"Aku bis-"
"Bisanya nangis, marah-marah, dan buat bubi nya kesel terus" sela bubi yang membuatku kesal mendengarnya.
Aku langsung bersendekap dada, dan membuang arah pandangku dari bubi.
"Udah-udah jangan ngambek gitu sama bubi kamu. Sekarang naomi ikut daddy nonton tv aja yuk, sambil nunggu bubi masak buat daddy. Gimana?" Ajak daddy padaku.
Aku langsung mengangguk cepat dengan ajakan daddy, dan aku yang juga malas melihat bubi karena sudah membuatku kesal.
"Ya udah yuk. Ve, kita tinggal dulu ya. Yang enak masaknya" ucap daddy pada bubi, yang kulihat ia menatapku kesal.
*hahaha emang enak* batinku tertawa melihat bubi yang kesal.
Sesampainya aku, dan daddy di ruang tamu yang memang sudah disediakan tv led oleh bubi. Kami langsung menyalakan acara tv kartun langgananku, yaitu spongebob.
"Kamu suka banget spongebob?" Tanya daddy yang membuatku langsung mengangguk cepat.
"Tapi, aku nggak suka warnanya" kataku, membuat daddy menatapku penuh tanya.
"Kenapa?"
"Jelek. Lebih bagus warna ungu. Naomi berharap spongebob bisa berubah warna jadi ungu" jawabku, yang membuat daddy tertawa.
Aku menatapnya sambil mengangkat sebelah alisku. Ada yang salah?
"Daddy sama aja kaya bubi. Emangnya salah kalo aku berharap spongebob bisa berubah warna jadi ungu!" aku sedikit memanyunkan bibir tanda kesal padanya.
Seketika daddy menarikku ke dalam pelukannya.
"Ya gak ada yang salah sih. Tapi-" ucapnya menggantung, sambil menatapku.
"Tapi apa?" Tanyaku
"Tapi itu gak mungkin sayang. Lagi pula kenapa kamu masih nonton kartun sih? Kamu kan udah besar, bukan anak kecil lagi" jawab daddy yang lagi-lagi membuatku kesal karena ucapannya.
"Daddy nyebelin!" Ucapku yang langsung berlalu pergi darinya menuju kamarku di lantai dua.
Sesampainya di kamar, aku mengunci pintu. Lalu menjatuhkan tubuhku ke atas kasur. Rasanya hari ini aku sudah lelah sekali ingin memejamkan mata.
"Tidur ah, ngantuk!" Kataku yang mulai memejamkan mata, dan mengakhiri drama hari ini dikehidupanku.
***
"Naomi mana kak?" Tanya ve yang menyusul marcel, dan naomi di ruang tamu. Tapi, sesampainya ve disana tidak melihat adanya naomi.
"Kayanya dia ke kamar. Ngambek sama aku" jawab marcel.
Ve menghampiri marcel, lalu duduk di sampingnya.
"Ngambek kenapa?" Tanya ve
"Karena spongebob" jawab marcel, yang membuat ve langsung cepat paham kenapa dengan naomi.
"Udah kak gpp. Biarin aja" kata ve.
Marcel hanya mengangguk, lalu menyesap teh buatan ve sebelumnya.
"Oh ya ve. Sebenarnya, panggilan naomi ke kamu itu apa sih? Bunda atau bubi? Dan kenapa kamu gak suka waktu naomi panggil kamu itu bunda?" Tanya marcel, yang sedikit bingung dengan panggilan ve di rumah.
"Sebenarnya, panggilan naomi ke aku sejak kecil itu bubi. Tapi, semenjak 3th belakangan ini naomi udah gak lagi panggil aku bubi. Dan aku gak tau kenapa dia seperti itu. Aku juga gak suka dipanggil bunda karena terkesan ibu-ibu banget. Meskipun sebenarnya, bunda itu hanya singkatan dari bubi veranda" jawab ve, membuat marcel menggeleng kepala mendengarnya.
"Ya ampun ve, aku pikir kenapa" kata marcel, yang kembali menyesap teh miliknya.
Sampai akhirnya keadaan hening, lalu beberapa detik kemudian ve mencium sesuatu.
"Kak" panggil ve
"Apa?" Jawab marcel yang sedikit sibuk dengan ponselnya.
"Cium bau sesuatu gak?" Tanya ve sambil mengendus sekitarnya.
Marcel pun ikut mengendus seperti yang ve lakukan.
"Iya. Kaya bau gosong" jawab marcel.
Seketika ve teringat sesuatu
"KAK!"
"APA?!"
"Ve lupa lagi goreng ayam! Wuaaaaaaaaaaa ayam ve gosong!!!" Panik ve sambil berteriak, dan berlari ke arah dapur.
Marcel yang kaget pun melempar asal ponselnya, lalu ikut berlari ke dapur menyusul ve.
Sesampainya ve, dan marcel di dapur. Keduanya melihat penampakan yang memilukan dari ayam yang ve goreng.
"Yah gosong!"
"Yah item!"
Keduanya pun tertawa bersama melihat ayam yang ve angkat dari penggorengannya gosong, bahkan tak berbentuk seperti ayam.
"Upin, ipin marah tuh ve liat ayam gorengnya gosong gara-gara kamu" kata marcel yang meledek, membuat ve tertawa mendengarnya.
"Hahahaha kaka bisa aja" balas ve sambil menepuk bahu marcel.
Lagi-lagi keduanya pun kembali tertawa, dan masih dengan ayam gosong yang ada di tangan ve.
KAMU SEDANG MEMBACA
I love you, bunda [END]
Kısa Hikaye"Dia milikku, bukan milikmu!" Cerita ini mengandung unsur dewasa.
![I love you, bunda [END]](https://img.wattpad.com/cover/157120878-64-k88927.jpg)