Chapter 3

2.7K 109 0
                                        

Pagi tengah menyambut seorang Arga yang kini sudah siap dengan seragam sekolahnya. Kakinya melangkah menuruni anak tangga menuju meja makan guna sarapan bersama dengan mama, papa, serta adik satu-satunya.

Selama makan, tidak ada yang membuka suara sedikitpun. Mereka makan dengan diam dan penuh khidmat. Usai makan, Arga langsung pergi dan berpamitan pada Ardian dan Cintya untuk berangkat ke sekolah.

"Ma, Pa, aku pamit." Arga berucap seraya mencium punggung tangan Ardian juga Cintya.

"Sen, gue duluan."

Arga berpamitan pada mereka semua dan tak lupa mengucap salam sebelum menaiki motornya. Setelah itu Arga melenggang pergi dari kawasan rumah.

Ketika di perjalanan menuju sekolah, Arga tidak sengaja bertemu dengan Putri yang kini tengah menunggu angkutan umum seperti biasa di depan halte komplek perumahan mereka. Karena penasaran, akhirnya Arga memberhentikan laju motornya di tempat Putri yang saat ini tengah berdiri dengan raut yang gusar.

"Naik atau lo telat!"

"Gak usah, makasih." Putri tahu jika Arga yang datang meski helm itu masih berada di atas kepalanya.

"Jam segini bus atau angkot jarang lewat. Liat jam lo!" Perintah Arga dan langsung dituruti oleh Putri.

Tahu apa reaksi Putri? Jelas, Putri terkejut karena hari sudah semakin siang untuk ke sekolah. Hanya tersisa waktu 15 menit lagi untuk mencapai ke sana. Dan jika masih menunggu angkutan umum lewat, entah kapan ia akan sampai.

Setelah bergelut dengan pikirannya sendiri, akhirnya Putri menerima ajakan Arga. Daripada terlambat, lebih baik bersama Arga meski sebagian dari hatinya tak ingin.

Beberapa menit kemudian, mereka sampai dengan cepat. Tak ada drama terlambat dan hukuman. Putri pun segera turun ketika mereka sudah sampai gerbang depan.

"Parkir masih di dalem, ngapain turun?"

"Males. By the way thanks."

Putri malas mendebat lagi dan memilih meninggalkan Arga yang masih terdiam di atas motornya.

"See, lo menarik." Arga berujar dalam hati seraya menatap Putri yang berjalan cepat di depan sana.

***

Saat sampai di kelas, Putri disambut heboh oleh Vina. Di sana Vina menarik tangan Putri dan langsung menyeretnya duduk.

"Lo tadi berangkat barengan sama si Arga. Apa kalian janjian?"

"Enggak."

"Ish, Putri. Ceritain dong kenapa lo bisa bersngkat bareng dia."

"Gak penting."

Vina memberengut sebal karena respon Putri yang seperti biasa. Bahkan dengan santainya Putri menyumpal telinganya dengan earphone dan membuka buku novel kesukaannya.

Karena tak ada respon apapun dari Putri, akhirnya Vina pindah duduk ke depan kembali.

"Hai." Keyla berujar saat baru saja datang ke kelas.

"Tumben baru dateng?"

"Iya, ni, telat bangun tadi. Kena macet pula di jalan, untung belum telat."

Vina pun menganggukkan kepalanya mengerti. Ia tidak ingin banyak bicara lagi, karena masih cukup kesal dengan respon Putri yang tadi. Padahal Vina sudah merencanakan untuk menjodohkan Putri dengan Arga, siapa tahu mereka cocok. Tetapi respon Putri tak sesuai harapan.

Cold Girl (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang