Arga Marvelous Efendi. Memiliki wajah tampan dengan otak yang cerdas. Namun, dari kesempuraan itu Arga tetap memiliki kekurangan, yakni minimnya ekspresi dengan sikap tak acuh.
Arga termasuk anak pertama dari dua bersaudara. Adiknya yang bernama Arsen Maxim Efendi, yang kini duduk di bangku SMP kelas 9. Sifat Arga dan Arsen ini berbanding terbalik, jika Arga yang cuek, tetapi Arsen sebaliknya. Penuh ceria dan sangat ramah dengan orang sekitar.
Memiliki kedua orang tua yang bernama, Ardian Fathur Efendi dan Cintya Elviona Maurin. Ardian memiliki perusahaan yang bisa dibilang tidak kecil dan banyak cabang di mana-mana. Dia juga termasuk pemilik yayasan dari sekolah SMA Angkasa. Sedangkan Cintya memiliki bisnis butik, yang sudah tidak perlu diragukan lagi hasil rancangannya.
***
Putri masih bergelung di dalam selimut meski saat ini jam sudah menunjukkan pukul 05:30 pagi.
Bi Inah yang sudah menyiapkan sarapan untuk Putri, kini mulai membangunkan Putri dan mengetuk pintu kamarnya berulang kali.
"Non, udah bangun?"
Putri yang mendengar itu segera mengerjapkan netranya dan mulai membiasa-i cahaya lampu. Putri juga menjawab sekenanya agar bi Inah tahu bahwa dirinya sudah bangun.
"Bibi udah siapin sarapan ya, Non. Nanti langsung ke meja makan aja." Bi Inah pun bergegas turun dan mulai mengerjakan pekerjaan rumah kembali. Hanya khusus membersihkan rumah saja tanpa memegang cucian dan tetek bengeknya, terlebih hanya ada Putri yang tinggal di rumah ini.
Usai membersihkan diri, Putri kini siap dengan setelan seragamnya. Dengan rambut dikuncir satu, juga wajah yang dibubuhi pelembab dan tabir surya agar terlihatlebih segar. Tangannya meraih tas yang berada di meja belajar dan menyampirkannya di pundak, kemudian ia mulai melangkah dan menuruni anak tangga dengan perlahan menuju area dapur.
"Pagi, Bi." Putri menyapa bi Inah yang saat ini tengah membereskan beberapa barang di dapur.
"Pagi, Non. Sarapan dulu atuh, sok!
"Iya, makasih. Bibi udah sarapan?"
"Udah, Non. Tenang aja, Bibi mah kalo soal makan nomor satu."
Putri tersenyum seraya menggelengkan kepalanya. Merasa lucu ketika bi Inah mengucap hal tersebut.
Karena tak ada lagi hal yang diperbincangkan, Putri pun segera melahap sarapannya dengan cepat. Ia tak mau mengulur waktu untuk berangkat ke sekolah.
Seusai sarapan, Putri mencuci bekas wadahnya dan ditata kembali ke tempat semula. Tak lama dari itu, dirinya segera bergegas pergi dan berpamitan pada bi Inah yang kini tengah menyiram tanaman di depan.
Kaki jenjangnya melangkah sampai di halte yang tak jauh dari rumah. Kini ia mulai menunggu bus di sana menuju ke sekolah.
Selama di dalam bus, Putri hanya diam seraya menatap jendela. Beruntung saat ini bus cukup senggang, maka ia tak harus bersinggungan dengan banyak orang juga tanpa harus berbagi kursi dengan yang lain. Sendiri lebih baik menurutnya.
Beberapa menit setelahnya, Putri sampai dan turun dari bus. Putri melangkah ke arah gerbang sekolah. Namun, ketika baru saja masuk ke dalam gerbang, tiba-tiba ada siswa yang menyenggol tubuhnya hingga membuatnya sedikit limbung. Beruntung tubuhnya bisa seimbang, jika tidak mungkin akan jatuh dan berujung malu nantinya.
"Tau cara jalan gak, si?!" Putri berujar dengan nada yang ketus.
Sang empu yang menyenggol tubuh Putri hanya diam seraya memasang wajah datar, seolah tak merasa bersalah sedikitpun.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cold Girl (End)
DiversosHidup dalam kukungan kesepian adalah kesehariannya selama ini. Tak ada kepastian dari kedua orang tuanya untuk datang bahkan memberi kasih sayang padanya. Sunyi, sepi, dan sedih. Seperti tak ada kebahagiaan yang nyata, begitu datar dan monoton. Sela...
