Cukup lama Arga berlari di lapangan yang luas itu, hingga ia menyelesaikannya dengan baik. Arga mendaratkan bokongnya di bangku dengan seragam yang sudah dibuka sejak tadi, menyisakan kaos hitam polos yang mencetak tubuh atletisnya. Keringat bercucuran di tubuh Arga. Hal itu mampu membuat yang melihatnya seketika meleleh tak karuan.
"Anjir, Arga cool banget."
"Ya iyalah, gebetan gue itu."
"Lebih tepatnya, gebetan semua cewek-cewek SMA Angkasa."
"Ya ampun kak Arga, ganteng banget. Pengen gue lapin keringetnya, deh. Bikin gemes."
"Badannya sispack banget, Ya Allah. Gak kuku, gak nana."
Seperti itulah teriakan-teriakan mereka yang sangat mengganggu sekali di telinga Arga.
Dari kejauhan tanpa Arga ketahui, ada sepasang mata yang melihat ke arah lapangan dengan senyum lebar. Ia benar-benar tak sabar ingin sekali menghampiri Arga.
Saat melihat siswi yang lewat seraya membawa botol air mineral, orang itu segera menghentikan langkahnya. "Tunggu-tunggu! Boleh gue beli minumnya?"
"Tapi ...."
"Gue bayar lebih dari harga air ini."
Siswi itu pun melihat 1 lembar uang berwarna biru lantas mengangguk dan segera memberikan botol minumnya. Air hanya seharga empat ribu rupiah, jelas saja untung banyak baginya.
"Ini uangnya, lo nanti beli lagi aja."
"Tapi ini kebanyakan."
"Gak apa-apa, ambil aja. By the way, thanks, ya." Siswi kelas sepuluh itu pun pergi, meninggalkan siswi yang saat ini tengah menatap ke arah lapangan.
Siswi itu tersenyum dengan lebar seraya melangkah menghampiri seseorang yang ia rindukan selama ini.
***
"Kantin, yuk!" ajak Dion pada Vino dan David.
"Si Arga ada di lapangan, ni. Telat tuh anak." Vino menjawab seraya membaca pesan yang di kirim oleh Arga.
"Serius?"
"Ini dia chat gue."
"Vid, ayo ke lapangan dulu, samperin si Arga!" Vino mengajak David yang masih terdiam di bangkunya.
"Iya."
Usai itu, mereka pun melangkah keluar kelas menuju lapangan, di mana ada Arga yang tengah beristirahat dari lelahnya menjalani hukuman.
Saat di koridor, mereka tak sengaja bertemu dengan Putri, Keyla, dan Vina.
"Hai, Kak." Vina menyapa dengan senyum riangnya.
"Hai, Vin. Mau pada ke kantin?"
"Iya, ni. Kalian mau ke mana?"
"Mau nyusul Arga ke lapangan."
"Oh, pantesan di sana banyak orang yang teriak-teriak gitu. Ternyata ada Kak Arga, toh."
"Biasa, telat masuk dia. Paling abis di hukum lari tadi."
"Em, gitu. Oh iya, kita ke kantin duluan, ya. Udah laper banget soalnya." Pamit Vina pada David, Dion, dan Vino. Tentu mereka mengiyakan ucapan Vina dan mempersilahkan pergi ke kantin terlebih dahulu. Sampai akhirnya mereka berpisah di koridor.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cold Girl (End)
De TodoHidup dalam kukungan kesepian adalah kesehariannya selama ini. Tak ada kepastian dari kedua orang tuanya untuk datang bahkan memberi kasih sayang padanya. Sunyi, sepi, dan sedih. Seperti tak ada kebahagiaan yang nyata, begitu datar dan monoton. Sela...
