Sejak keluar dari mobil, Putri masih saja mencerna setiap kata yang meluncur dari mulut Arga. Ia merasa bingung dengan kalimat tersebut.
Lamunan itu buyar ketika getaran ponsel terdengar tepat di sampingnya. Ketika tahu siapa yang memanggil, ia pun tanpa ragu langsung mengangkatnya.
"Halo."
"Hm." Putri menjawab dengan singkat.
"Gimana sekolahmu?"
"Sejak kapan anda peduli?"
"Kamu ini, ditanya serius malah menjawab ketus."
"To the point!"
Terdengar helaan nafas berat dari seberang sana. "Papa sudah mengirim uang ke rekeningmu. Jadi kamu tidak perlu khawatir untuk satu bulan ke depan."
"Sudah? Hanya itu?"
"Papa sedang banyak kerjaan. Papa tak ingin berdebat denganmu."
Telepon benar-benar diputus begitu saja secara sepihak dari sang papa. Putri kira, papanya itu ingin tahu kabar dirinya dan memutuskan ingin pulang ke rumah. Tapi dugaannya salah. Memang, sejak kapan papanya itu benar-benar peduli padanya lagi?
Tak lama dari itu, ponselnya kembali bergetar. Menandakan ada panggilan di sana. Lantas dengan segera Putri menggeser ikon hijau tersebut.
"Halo, sayang."
"Ya."
"Mama sudah mengirim uang ke rekeningmu, dan Mama juga mengirim hadiah untukmu di dalam kotak biru. Nanti akan ada kurir yang mengantar ke rumahmu."
"Itu aja?"
"Hari ini kerjaan mama sangat banyak, maafin Mama tidak bisa mengobrol lama di telepon. Lain waktu mengabarimu lagi, bye sayang."
Tut tut tut
Putri menghela nafasnya saat panggilan lagi-lagi diputus secara sepihak. Mereka benar-benar tak memberikan jeda untuknya bercakap dengan banyak.
Rasanya begitu sesak. Jika boleh egois, Putri ingin sekali mereka menunda semua pekerjaan itu dan bertemu dengannya. Menghubunginya lewat telepon saja sangat jarang, bahkan bisa dihitung dengan jari.
Sudah enam bulan mereka tidak menghubungi atau pun mengirim pesan padanya. Dan barusan, mereka baru saja menghubunginya kembali dari sekian lama. Mereka hanya memberitahu perihal kiriman uang, dan hal itu bukan yang Putri inginkan. Putri ingin kehadiran mereka di sini tanpa ada embel-embel apapun selain karena peduli. Tapi kenyataannya, mereka tak acuh akan hidupnya saat ini. Mungkin bagi mereka, dengan uang bisa melakukan segalanya dan seenaknya.
"Biasanya juga gak pernah telfon kalo kirim uang." Putri bergumam kesal seraya menatap ponselnya.
Lantas tubuhnya pun mulai ia rebahkan ke ranjang. Namun, baru saja ingin memejamkan mata tiba-tiba ada suara pintu yang diketuk. Putri pun mulai menuruni anak tangga dan melihat siapa yang mengganggu waktunya saat ini.
Ketika pintu itu dibuka, ada seorang pria paruh baya yang membawa sebuah barang, sepertinya itu kurir yang dibilang mamanya tadi. Putri menerimanya dan tak lupa mengucapkan kata terima kasih kepada kurir tersebut.
Setelah kurir itu pergi, Putri mulai menutup pintu kembali dan langsung masuk ke kamarnya. Ia manutup pintu kamar dan melempar kotak itu di sofa begitu saja. Tanpa peduli dan ingin tahu apa isi di dalamnya. Lebih baik meneruskan tidurnya yang tertunda dibandingkan harus melihat isi kotak itu.
***
Sejak kepulangannya dari rumah Putri, Arga tak henti-hentinya tersenyum seperti orang tidak waras.
Cintya, Ardian, juga Arsen yang kini tengah santai dengan televisi yang menyala, merasa heran dengan tingkah Arga yang aneh. Lagi pula, bagaimana bisa seorang Arga yang terkenal cuek dan selalu berwajah datar itu tiba-tiba jadi murah senyum seperti ini?
"Bang, lo sehat, 'kan?" tanya Arsen dengan raut bingungnya.
Arga hanya melirik Arsen sekilas. Ia mengabaikan ucapan Arsen begitu saja dan segera pergi menuju kamarnya.
"Pa, Ma, kalian merasa aneh gak sama bang Arga?"
"Abangmu itu emang aneh dari dulu, Sen." Ardian menjawab seraya terkekeh.
"Hush, sembarangan kamu, Pa! Hari ini abangmu emang aneh, Dek. Tapi mungkin dia abis kena rejeki nomplok."
"Bisa jadi, Ma. Atau jangan-jangan, abang lagi deket sama cewek? Yakin banget aku, ni. Soalnya gelagatnya kaya yang lagi falling in love." Arsen menjawab dengan nada yang antusias.
"Lagakmu udah kaya pakar cinta. Tapi itu gak apa-apa banget. Dia berhak bahagia tanpa larut dalam kesedihan yang lalu. Iya 'kan, Pa?"
"Iya. Biarin dia merasakan bahagia. Bukannya itu lebih baik dibandingkan liat dia kaya hari-hari biasanya?"
"Dan Mama berharap kebahagiaan ini bukan sementara. Mama pengen liat Arga kaya dulu lagi, bisa ceria tanpa harus nanggung beban kaya gini. Gara-gara satu perempuan, hidupnya seolah tak berarti."
"Mudah-mudahan aja omongan Arsen bener, Ma. Arsen do'ain, semoga abang bener-bener move on dari masa lalunya dan menemukan yang baru dengan versi yang baik."
Ardian dan Cintya mengangguk menyetujui dan mengaminkan ucapan Arsen dalam hati. Mereka ingin yang terbaik untuk Arga ke depannya.
________
Terima kasih ❤
KAMU SEDANG MEMBACA
Cold Girl (End)
RandomHidup dalam kukungan kesepian adalah kesehariannya selama ini. Tak ada kepastian dari kedua orang tuanya untuk datang bahkan memberi kasih sayang padanya. Sunyi, sepi, dan sedih. Seperti tak ada kebahagiaan yang nyata, begitu datar dan monoton. Sela...
