Lama Cintya dan Putri saling berpelukan, hingga akhirnya terdengar suara berat dari belakang sofa. Lantas Putri dan Cintya pun segera melepaskan pelukan mereka.
"Kenapa matanya pada sembab gitu?" tanya Adrian seraya menatap Cintya dan Putri bergantian.
"Om." Putri segera mencium punggung tangan Adrian.
"Temannya Arga?" tanya Adrian seraya mengelus rambut Putri dengan lembut.
"Iya, Om."
Adrian tersenyum dan mengangguk. Kemudian atensinya beralih pada istrinya yang kini tengah mengelap sisa-sisa air mata di pipinya.
"Udah, jangan nangis lagi! Jelek tuh jadinya." Ardian berucap seraya mencubit pipi Cintya.
"Ish, sakit tau."
"Cup-cup, maaf kekencengan, ya. Abis gemesin." Adrian mengelus pipi bekas cubitnya itu dengan penuh lembut.
Putri yang melihat interaksi mereka berdua begitu iri. Ia ingin sekali mempunyai keluarga yang harmonis seperti Cintya dan Ardian. Tapi apalah daya, semua itu hanya sebuah harapan yang tidak akan pernah terealisasikan.
Saat Putri asik melamun, tiba-tiba terdengar suara derap langkah kaki dari anak tangga. Di sana ada Arga yang sudah memakai setelan santainya dengan rambut yang masih cukup basah.
"Abang, dari tadi tamu dianggurin, loh. Gimana, si?"
"Maaf, Ma. Aku abis mandi tadi."
"Ya udah, kalo gitu kita makan sama-sama, yuk! Mama masak banyak hari ini."
"Let's go, kita makan!" teriak Arsen dari balik punggung Arga.
"Berisik, nyet!"
"Bodo amat abangnya monyet!" Arsen menjulurkan lidahnya ke Arga. Ia meledek Arga karena abangnya itu menyebalkan.
Putri, Cintya, dan Ardian hanya menggelengkan kepala mereka saja melihat kelakuan kedua kakak-beradik tersebut yang asik bersiteru.
***
"Makasih untuk hari ini. Makasih banyak, karena gue bisa dipertemukan sama kedua orang tua dan adik lo. Seorang ibu yang sangat cantik, seorang ayah yang lembut, dan seorang pria remaja yang sangat ceria." Putri berujar seraya menatap Arga lekat.
Arga tersenyum dengan tangan yang mengusap lembut rambut Putri. "Sama-sama, Putri. Sekarang lo boleh dateng kapan pun ke rumah gue. Karena rumah gue selalu terbuka lebar buat lo." Jawaban Arga mampu membuat hati Putri menghangat.
Tanpa ingin berpaling, keduanya terus menatap satu sama lain dalam beberapa detik. Dan hal itu dapat membuat jantung mereka saling berpacu dengan cepat. Mereka seakan terhipnotis akan tatapan yang masih belum berakhir itu.
Tak
"Awsh. Lo ngapain, si, nyentil dahi gue, Ga!" Putri mengelus keningnya yang sakit akibat disentil oleh jari-jemari milik Arga.
Arga tersenyum miring ketika Putri berujar demikian. "Biar lo sadar. Abis natap guenya gitu banget. Nanti kalo gue khilaf cium lo gimana coba?"
Putri membulatkan matanya kala ucapan itu keluar dari mulut Arga. Jujur saja hal itu dapat membuatnya terkejut sekaligus salah tingkah.
Putri menampar lengan Arga cukup kencang. Namun, sang empu bukannya merasa sakit, justru malah tertawa.
"Ya udah, Ga, gue turun." Putri mulai membuka pintu dan menuruni mobil Arga.
Namun, ketika sebelah kaki Putri berpijak di tanah, Arga justru memanggilanya kembali.
"Putri." Putri pun segera menoleh menghadap Arga yang masih setia duduk di kemudinya.
"Kenapa?"
"Buenas noches, no olvides un hermoso sueño," ucap Arga dengan santai. Tanpa peduli bahwa Putri kebingungan atas bahasa yang ia ucapkan.
"Hah?"
Arga hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya atas respon Putri yang begitu menggemaskan.
Seusai percakapan singkat itu, Putri pun segera masuk ke dalam rumah dengan raut yang bingung. Meninggalkan seorang Arga yang masih saja tersenyum sendiri di dalam mobilnya.
________
Buenas noches, no olvides on hermoso sueño = Selamat malam, jangan lupa mimpi indah.
Terima kasih ❤
KAMU SEDANG MEMBACA
Cold Girl (End)
RandomHidup dalam kukungan kesepian adalah kesehariannya selama ini. Tak ada kepastian dari kedua orang tuanya untuk datang bahkan memberi kasih sayang padanya. Sunyi, sepi, dan sedih. Seperti tak ada kebahagiaan yang nyata, begitu datar dan monoton. Sela...
