Chapter 27

1.2K 51 0
                                        

Arga, David, Vino, dan Dion kini mulai melangkah menuju area parkir. Mereka dititah untuk segera ke sana oleh Vina dan Keyla karena khawatir dengan Putri yang mereka biarkan pergi bersama Flowra.

"Putri mana?" tanya Arga saat mereka sudah sampai di parkiran.

"Itu dia, Ga. Dia ikut sama Flowra. Gue gak tau apa yang mereka mau bicarain, dan feeling gue gak enak. Akhir-akhir ini kami tau perlakuan Flo gak baik sama Putri, dan juga Flo gak mungkin ajak Putri pergi gitu aja tanpa sebab. Gue takut terjadi apa-apa sama Putri, Ga. Gue rasa ... ini juga ada hubungannya sama lo." Keyla menjelaskan pada Arga dengan raut yang cemas.

"Gue bakalan lacak nomor hp-nya, gue juga minta bantuan kalian. Dan lo berdua gak usah ikut, langsung balik aja ke rumah!"

"Enggak-enggak, gak bisa gitu. Kita berdua harus ikut. Gue gak mau, ya, saat sahabat gue lagi kesusahan gini tapi gue malah enak-enakan di rumah." Vina tak terima kala Arga menitahnya untuk kembali ke rumah.

"Ya udah, terserah kalian."

Sampai akhirnya, mereka pun pergi meninggalkan kawasan sekolah. Mereka sempat menepi guna mencari dan melacak letak Putri berada.

***

"Turun!" perintah Flowra pada Putri.

"Hm."

"Ayo masuk!"

"Kok bicarainnya di tempat kaya gini? Lo mau jebak gue?" tanya Putri dengan raut yang bingung.

Tak ada jawaban lagi dari Flowra, dan Putri juga masih saja mengikuti arah ke mana Flowra berjalan. Kini mereka berada di sebuah ruangan yang penuh dengan kayu dan debu. Terdapat satu kursi dan tali tambang di dalamnya. Pertanyaan Putri, untuk apa mereka ke sini kalau hanya ingin membicarakan sesuatu? Kenapa tidak di tempat yang lebih baik saja? Apa dirinya benar-benar dijebak oleh Flowra?

Putri pun berbalik ke arah Flowra yang berdiri didekat pintu masuk. Matanya membulat kala ada dua orang laki-laki dengan tampilan seram dan berbadan kekar layaknya seorang preman di sana. Jujur saja ia takut. Ia pun mencoba menstabilkan ketakutannya dengan raut yang datar.

"Apa maksud dari semua ini?"

"Ikat dia!" Perintah Flowra pada kedua preman tersebut.

"FLO, APA-APAAN INI? LO GILA, HAH! LEPASIN GUE!" teriak Putri dengan tubuh yang meronta-ronta minta dilepaskan.

Setelah mengikat Putri, kedua preman itu pun keluar atas perintah Flowra. Kemudian Flowra pun menghampiri Putri yang duduk di kursi dengan tangan dan kaki diikat cukup kencang.

"Mau lo apa, Flo?"

"Uh, santai dong. Bahkan gue belum bermain-main sama lo."

Flowra memegang sebuah kain dan langsung mengikatnya ke mulut Putri. Putri yang diperlakukan seperti itu hanya bisa menggeram dan meronta minta dilepaskan.

"Lo mau minta gue lepasin? Gue harus kasih kejutan dulu buat lo, baru lo bisa gue bebasin."

Perlahan, jari-jemari Flowra bermain di setiap lekuk wajah Putri. Lalu beralih ke kepala dan mengelusnya dengan pelan. Setelah itu, dirinya langsung menjambaknya tanpa perasaan.

Putri merasa kesakitan saat rambutnya ditarik begitu saja. Yang ia lakukan hanyalah menggeram dalam ikatan kain di mulutnya.

"Sakit? Bahkan ini belum seberapa. Masih banyak kejutan yang lainnya, bitch!"

Cold Girl (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang