Putri, Vina, dan Keyla sudah berada di kafe seberang sekolah. Mereka duduk di sisi dekat kaca dengan pesanan yang sudah tersedia di meja. Kini mereka memilih untuk makan terlebih dahulu baru setelahnya bercerita.
Beberapa menit kemudian, mereka telah menghabiskan makanan tersebut. Hingga akhirnya Putri memulai suatu pembicaraan.
"Gue mau cerita ke kalian soal keberadaan orang tua gue."
Vina yang mendengar itu langsung senang, dengan antusias ia menjawab. "Orang tua lo 'kan ke luar negeri. Apa mereka sekarang udah balik? Berarti kita bisa ketemu mereka, dong. Gue penasaran tau."
Keyla yang mengerti situasi segera menegur Vina. "Vin, tolong diem dulu!"
"Iya-iya, maaf," sesal Vina pada Keyla dan Putri.
"Gue mau cerita ke kalian tentang keadaan gue dan keluarga gue yang sebenernya. Sebelumnya, gue mau minta maaf ke kalian kalo yang gue lakuin selama ini salah. Dan kalian cukup dengerin apa yang gue bakal jelasin. Oke?" Vina dan Keyla pun menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
Mengalirlah cerita itu dari mulut Putri. Dari perceraian kedua orang tuanya, tentang dirinya yang sudah lama ditinggal sejak kecil oleh mereka, tentang bagaimana kehidupan yang ia jalani selama bertahun-tahun tanpa bimbingan dan kasih sayang kedua orang tuanya. Hingga air matanya mengalir begitu saja dengan deras tanpa ada yang menghalangi.
Vina dan keyla yang mendengar hal itu pun sangat prihatin dengan keadaan Putri. Mereka tidak pernah tahu, jika Putri yang terkenal dingin dan tak acuh itu ternyata memiliki masalah seberat ini. Mereka merasa bukan sahabat yang baik selama ini.
"Puput, maafin gue, ya. Gue bener-bener gak tau kalo lu punya masalah kaya gini." Vina berujar dengan air mata mengalir juga napas yang tersendat akibat cerita yang mampu membuatnya sesak.
"Iya, Put, maafin gue juga. Gue merasa bukan sahabat yang baik buat lo. Karena selama ini gue gak pernah tau tentang lo dan keluarga lo." Keyla menitikan air matanya dengan hidung yang sudah memerah.
"Ini bukan salah kalian, ini salah gue. Selama ini gue selalu bersembunyi tanpa mau berbagi keluh kesah ke kalian. Karena gue gak mau kalo kalian ikut terbebani sama masalah gue."
"Put, dengerin gue, ya! Lo salah kalo berpikir kaya gitu. Gue sama Vina gak pernah ngerasa terbebani sama sekali. Justru kita berdua akan berusaha selalu ada buat lo. Kami berdua bakalan seneng kalo lo ingin berbagi keluh kesah. Selama ini lo pinter banget nyembunyiin apapun ke kami. Dan sekarang, jangan ada yang di tutup-tutupin lagi! Gue mau lo lebih terbuka sama gue atau pun Vina. Kita 'kan sahabat, jadi udah seharusnya kaya gitu."
"Sahabat itu, selalu ada di saat susah maupun senang. Jadi gue mohon sama lo, jangan pernah ragu untuk cerita apapun masalah lo ke kami berdua. Karena gue sama Keyla akan berusaha selalu ada buat lo. So, we are best friend's forever," ujar Vina dengan penuh semangat di akhir kalimatnya.
Dan kini mereka saling berpelukan. Menumpahkan segala beban dan air mata bersama. Tidak peduli dengan orang-orang di sekitar mereka yang melihatnya, yang penting mereka bahagia sekarang.
Putri benar-benar merasa lega ketika sudah bercerita dan menumpahkan segala yang ada di otaknya pada kedua sahabatnya. Ia sangat beruntung mempunyai sahabat seperti Keyla dan Vina. Putri mengira, mereka akan menjauhinya saat tahu keadaan Putri dan keluarganya. Tapi ternyata mereka tidak seperti itu. Justru mereka senang ketika dirinya saat ini sudah mau lebih terbuka dengan mereka.
Selesai melepas pelukan itu, mereka saling menatap satu sama lain dan diakhiri dengan suara tawa bersama. Putri jadi tahu, bahwa mereka benar-benar tulus padanya.
***
Usai pulang sekolah, Arga segera membersihkan diri karena bau keringat akibat bermain basket saat tadi di sekolah. Setelahnya, ia turun bersamaan dengan Arsen yang baru saja keluar kamar.
Mereka turun dengan langkah yang lebar menuju area dapur. Di sana ada Cintya yang tengah membereskan wadah bekas adonan kue.
"Lagi buat apa, Ma?" tanya Arsen seraya menuangkan air ke dalam gelas.
"Brownies sama cheese cake."
"Buat siapa?" Kali ini Arga ikut nimbrung.
"Buat kita, dong, masa buat orang lain."
Arga mengangguk paham, setelahnya ia juga Arsen sibuk menyantap makanan yang tersaji di meja.
Usai makan, Arga mencuci bekas makan mereka dan Arsen membereskan meja makan tersebut.
Kemudian Arsen memilih pamit ke kamar kembali guna melanjutkan tugasnya yang belum selesai. Sementara Arga, memilih diam seraya mengamati Cintya yang berkutat di depan oven.
"Ma."
"Kenapa, Bang?"
"Em, kalo aku bawa cewek ke sini, boleh?"
Cintya tak langsung menjawab, melainkan memerhatikan Arga dari bawah hingga ke atas. Ia menatap Arga lekat seraya tersenyum dengan lebar. Tak lupa tangannya mendarat di pipi kiri Arga dengan sebuah cubitan gemas.
"Ma, Arga butuh jawaban!"
Cintya tertawa kecil ketika Arga menuntut jawaban tetapi dengan nada yang manja.
"Lucu banget anak orang."
"Ck, Ma ... serius. Gimana sama pertanyaan Arga tadi?"
"Ya ampun, Abang. Jelas Mama izinin 'lah kalo kamu mau bawa cewe ke sini. Lagian sejak kapan, si, Mama larang-larang kamu bawa cewek ke rumah ini? Selama perempuan itu baik Mama pasti izinin, dan dengan senang hati juga Mama bakalan sambut. Siapa yang mau ke sini emangnya? Namanya siapa?"
"Ini masih jadi ra-ha-si-a." Arga berujar seraya berbisik ke telinga Cintya. Kemudian kakinya pun melangkah pergi menuju kamar kembali.
Cintya menggelengkan kepalanya seraya tersenyum geli melihat tingkah putranya yang seperti itu.
________
Terima kasih ❤
KAMU SEDANG MEMBACA
Cold Girl (End)
RastgeleHidup dalam kukungan kesepian adalah kesehariannya selama ini. Tak ada kepastian dari kedua orang tuanya untuk datang bahkan memberi kasih sayang padanya. Sunyi, sepi, dan sedih. Seperti tak ada kebahagiaan yang nyata, begitu datar dan monoton. Sela...
