Saat ini mood Putri sedang baik. Meski awalnya ada sedikit insiden kala ia ditolak oleh pegawai resepsionis, dan kini juga ia justru malah didiami. Hal itu mampu membuat Putri biasa-biasa saja.
Bukan maksud Arga tak acuh pada kekasihnya itu, bukan. Hanya saja, ia ingin cepat menyelesaikan pekerjaannya, agar dirinya bisa jalan bersama kekasihnya. Putri pun juga sangat memaklumi hal tersebut.
Saat ini, Putri tengah menyeruput coffe latte yang sengaja Arga pesan kepada cleaning service tadi. Dari sofa, Putri tak berhenti menatap Arga yang masih sibuk dengan layar laptop dan banyak berkas di mejanya.
Sampai terdengar helaan nafas panjang dari mulut Arga. Ia menyandarkan tubuh, serta kepalanya di kursi. Ia sangat lelah, sungguh. Namun, ini juga demi keluarga dan kekasihnya, Putri. Karena, ia juga ingin sekali menjadikan Putri sebagai istrinya. Perusahaan sukses, kan, ia juga yang akan menikmati. Bahkan, bisa menurun hingga anaknya kelak, siapa tahu saja, kan?
Ketika Putri ingin menghampiri Arga ke meja kerjanya, Arga segera mencegahnya terlebih dahulu.
"Stop. Kamu diam, biar aku yang ke situ!" Perintah Arga pada Putri. Arga pun menghampiri Putri yang duduk di sofa panjang, dan mulai merebahkan dirinya di atas paha milik Putri.
Belum sempat Putri berbicara, lagi-lagi sudah keduluan oleh mulut milik Arga. "Sebentar aja, Ay. Lima menit. Abis itu baru bangunin aku."
Putri tak menjawab ucapan Arga. Ia tersenyum dan mulai mengelus surai hitam milik Arga dengan penuh kasih sayang. Hingga terdengar deru nafas Arga yang teratur. Kekasihnya ini memang benar-benar lelah. Ia jadi merasa bersalah, setelah menyusul Arga ke sini.
Tapi mau bagaimana lagi, toh sudah terlanjur juga. Lagi pula, dia memang benar-benar ingin menemui Arga di sini. Ia juga ingin tahu sekali, bagaimana ruangan kerja Arga.
***
Putri merasa kebas, lantaran sudah lebih dari lima menit Arga tertidur di pahanya. Beberapa kali ia membangunkan Arga, namun tak diindahkan oleh sang empu.
"Ga, bangun dong! Aku pegel loh ini." Kali ini, ia menepuk lengan Arga agak keras, supaya Arga cepat bangun.
Masih saja Arga tak terusik dengan tepukan Putri.
Putri menghela nafasnya, saat ia melihat Arga dari dekat seperti ini. Mengapa kekasihnya itu susah sekali untuk dibangunkan?
Ketika baru saja Putri ingin menjauhkan wajahnya, tiba-tiba ada benda kenyal yang menempel di bibirnya. Hanya sebuah kecupan, tapi itu dapat membuat Putri terkejut.
"Ish, Arga. Apa-apaan si kamu? Kamu sengaja kerjain aku, ya? Sebenernya daritadi kamu udah bangun, cuma kamunya aja yang ...."
Cup
"Biar kamu diem, gak berisik."
"Iseng, ya, kamu. Sekarang mainnya cium-cium segala," ucap Putri seraya mengerucutkan bibirnya lucu.
"Gak usah dimanyun-manyunin gitu, Ay. Masih kurang dua ciuman tadi?" Ketika Arga ingin mendekat ke wajah Putri kembali, segera saja Putri mendorong wajah Arga dengan telapak tangannya. Dan itu dapat membuat Arga terkekeh gemas. Arga pun mulai mengacak lembut rambut Putri.
Seusai itu, Arga menggenggam tangan Putri untuk menuju lobi bersama. Karena sore ini, mereka ingin melepas penat di luar kantor Arga.
***
Comic Cafè.
Begitu nama itu tertera di pintu masuk sebuah kafe.
Kini, Arga dan Putri sedang berada di kafe tersebut. Mereka seolah mengenang masa-masa SMA dulu.
Di mana, seorang Arga yang tiba-tiba mengajak Putri ke sebuah rooftop restoran, sehabis dari kafe ini. Dan ia yang mulai mengungkapkan, kalau dirinya ingin Putri selalu berada disisinya. Dan sampai pada akhirnya, mereka telah menjadi sepasang kekasih, hingga saat ini.
Pelayan segera datang setelah panggilan dari suara Arga. Putri dan Arga pun segera memilih menu makanan serta minuman untuk mereka pesan.
"Aku mau chicken steak pasta, waffle blueberry, ice coffe late," ucap Putri seraya menatap menu-menu yang tertera.
"Saya creamy carbonara, cheese blueberry, and ice caramel macchiato," ujar Arga menambahi.
"Baik, saya ulangi, ya. Satu chicken steak pasta dan satu creamy carbonara, waffle blueberry dan cheese blueberry, ice coffe latte dan ice caramel macchiato. Apa ada menu tambahan?"
"Cukup, Mbak, itu saja," jawab Putri pada pelayan tersebut.
"Baik, Mas, Mbak. Mohon ditunggu, ya." Kemudian, pelayan tersebut pun menghilang dari pandangan mereka.
Beberapa menit kemudian, pesanan mereka datang. Putri dan Arga tak lupa mengucapkan kata terima kasih kepada pelayan tersebut.
Dan mereka pun, mulai menikmati makanan tersebut dengan penuh khidmat.
Beberapa jam kemudian. Seusai makan dan mengobrol sebentar, Arga dan Putri memutuskan untuk pulang. Hari ini, cukup melelahkan bagi mereka. Namun, cukup membahagiakan juga bagi keduanya.
________
Terima kasih ❤
KAMU SEDANG MEMBACA
Cold Girl (End)
RandomHidup dalam kukungan kesepian adalah kesehariannya selama ini. Tak ada kepastian dari kedua orang tuanya untuk datang bahkan memberi kasih sayang padanya. Sunyi, sepi, dan sedih. Seperti tak ada kebahagiaan yang nyata, begitu datar dan monoton. Sela...
