Setelah bel pulang berbunyi, Arga berjalan dengan cepat keluar kelas dengan langkah yang lebar. Ia berniat untuk menjenguk Putri ke Rumah Sakit. Ia juga sudah berpesan pada sahabatnya tadi saat di kantin, untuk ke Rumah Sakit seusai pulang sekolah.
Dion, David, dan Vino beriringan keluar kelas, menuju kelas Vina dan Keyla. Mereka berniat untuk menjenguk Putri bersama.
***
Beberapa menit kemudian, Arga telah sampai di Rumah Sakit. Ia segera menuju ruang rawat yang Putri tempati. Ketika ia membuka pintu, ia dikejutkan dengan keadaan Putri yang kini sudah sadar.
Putri tengah terduduk, seraya berbincang bersama pria paruh baya yang ada di samping ranjangnya. Ia sudah duga, pasti ayahnya itu benar-benar menepati janji untuk menjenguk Putri.
"Assalamu'alaikum," ucap Arga dan segera mencium punggung tangan Wijaya, selaku ayah dari Putri.
"Wa'alaikumssalam," jawab Wijaya dan Putri bersamaan.
"Kamu yang kemarin jawab telepon Putri, ya?" Wijaya bertanya seraya menatap Arga dengan tersenyum.
"Iya, Om. Kebetulan saya melihat hp Putri yang berdering, dan tertera nama Papa di sana, jadi saya dengan sigap mengangkatnya. Maaf jika saya lancang."
"Kamu gak lancang sama sekali, Nak. Beruntung ada kamu yang selalu jagain Putri, saya bersyukur untuk itu. Makasih, ya. Saya juga tau, kamu itu ... pacar Putri, 'kan?"
"Om, itu ... kita belum ...."
"Arga ini emang pacar Putri, Pa." Putri memotong ucapan Arga begitu saja.
Arga yang mendengar hal itu cukup terkejut. Dengan Putri yang berbicara seperti itu, mampu membuat hatinya membuncah tak karuan.
"Gak usah canggung gitu, santai saja dengan saya. Saya tau, dari tatapan mata kamu aja udah terjawab. Tersirat akan cinta dan kerinduan yang mendalam. Kalo gitu, Om gak mau ganggu. Kalian ngobrol-ngobrol dulu aja. Om keluar dulu, ya." Wijaya pemit keluar seraya menepuk pundak Arga.
Putri dan Arga masih sama-sama terdiam. Arga yang menatap Putri lekat, sementara Putri menunduk malu. Ia merasa bingung ingin berbicara apa.
Setelah lima menit kemudian, Arga pun mulai membuka suaranya.
"Put, liat aku!" ucap Arga seraya menatap lekat Putri.
"Aku rindu banget sama kamu. Aku kangen suara kamu. Aku kangen pipi kamu yang merah kaya tomat. Maafin aku, ya, karena aku belom bisa jadi cowok yang baik buat kamu. Kamu tau, aku hampir frustrasi saat kamu belom sadarkan diri. Rasanya, aku ingin menggantikan posisi kamu di sini." Arga berujar seraya menggenggam telapak tangan Putri dan menciumnya berkali-kali.
"Sst, udah, Ga, kamu gak salah. Ini memang udah takdir, kamu gak bisa nyalahin takdir. Toh, sekarang aku udah sadar, 'kan? Aku udah bisa liat kamu, aku udah bisa bicara sama kamu, jangan kaya gitu, ya. Asal kamu tau, saat aku koma dan kamu yang ajak aku bicara itu, sebenernya aku bisa dengar dengan jelas. Tapi sayangnya aku gak bisa bergerak, aku gak bisa merespon lebih, tubuhku rasanya kaku. Aku ingin buka mata aja susah, aku juga hampir mau menyerah kemarin. Aku juga sempat berpikir, bahwa aku udah gak berguna di dunia ini, karena keluarga aku gak ada yang peduli sama aku." Putri menghela napasnya sebentar. Setelah itu, ia mulai kembali membuka suaranya.
"Tapi ternyata aku salah. Kamu, keluarga kamu, sahabat kita, selalu jenguk aku. Saat kamu berpamitan tadi pagi berangkat sekolah, aku dikejutkan oleh seseorang yang harumnya sangat aku kenali, seseorang yang aku rindukan selama ini. Iya, dia papaku. Makasih banyak juga, Ga, kamu udah mau menyadarkan papa. Coba aja kalo kamu gak angkat telepon itu, mungkin dia gak akan tau kondisi aku sekarang. Dan mungkin juga, aku gak akan tau kalau dia meninggalkan aku karena alasan yang belum sempat dia ceritakan. Aku masih menunggu alasan itu."
"Arga. Aku sayang sama kamu, aku gak mau pisah sama kamu. Kamu itu orang pertama yang bisa buat aku terbuka dan bersikap seperti diri aku yang aku kenal dulu. Makasih banyak Arga." Putri mengungkapkan hal itu semua dengan air mata yang mengalir dengan deras. Arga pun membawa Putri ke dalam dekapan hangatnya.
Pelukan ini, pelukan yang amat Putri sukai. Pelukan yang begitu nyaman. Pelukan yang selalu Putri rindukan.
Mereka terlarut akan pelukan itu. Menyalurkan rasa rindu yang selama ini mereka rasakan. Siapa pun tahu, bahwa mereka sama-sama saling mencintai dan menyayangi.
Arga membisikkan sesuatu ke telinga Putri. "Jadi, sekarang kita resmi pacaran?" ucapnya disela pelukannya.
Putri yang mendengar itu mengangguk mantap dan menjawab, "Iya, kita pacaran." Arga langsung melepas pelukan itu dan menatap wajah Putri kembali. "So, will you be my girlfriend?" tembak Arga dengan spontan.
Putri tersenyum dan menjawab, "Yes, I will." Dan mereka pun kembali berpelukan. Rasa senang begitu membuncah dari hati keduanya.
Tanpa mereka sadari, dibalik pintu yang terbuka, ada sahabat mereka serta Wijaya yang sejak tadi menonton adegan berpelukan tersebut. Mereka memilih diam agar tidak mengganggu kedua remaja yang kini tengah di mabuk rindu dan asmara.
***
Kini semua sudah berkumpul di ruang rawat inap Putri. Di sana ada David, Vino, Dion, Vina, dan Keyla, serta Wijaya yang sudah kembali.
"Makasih, ya, kalian udah mau jenguk," ujar Putri pada semua yang hadir di ruang rawat inapnya.
"Iya, Put. Gue kangen banget tau sama lo. Liat lo yang gak sadar-sadar, bikin gue kesel dan ngerasa bodoh jadi sahabat," ungkap Vina pada Putri.
"Apa, si, Vin, lo gak boleh ngomong gitu! Ini tuh udah takdir, gue juga udah gak apa-apa. Liat, gue udah sehat sekarang."
"Put, kangen pake banget." Keyla berujar seraya memeluk Putri, kemudian di susul Vina dan kini mereka saling berpelukan untuk menyalurkan rasa rindu.
Wijaya yang melihat hal itu sangat senang dan bahagia. Selama ia tak ada, ternyata masih banyak orang yang sayang dengan putrinya. Ia merasa bodoh, karena telah lama meninggalkan putri semata wayangnya begitu saja.
"Terima kasih, karena kalian sudah selalu bersama Putri. Saya merasa sangat bersalah. Banyak hal yang saya lewatkan bersama dengan Putri. Sekali lagi terima kasih banyak." Wijaya mengungkapkan hal tersebut dengan tulus pada mereka semua. Tahu bahwa mereka ialah anak-anak baik dan dapat saling melindungi.
"Iya, Om, sama-sama. Kita juga gak sepenuhnya ada untuk Putri. Dia itu mandiri, dia bisa menghadapi masalah sebesar itu seorang diri. Kalau aja dia gak cerita, mungkin kita gak akan pernah tau sama masalah yang dia hadapi selama ini. Ya 'kan, Key?"
"Iya bener, Om. Dia bisa semandiri itu untuk menghadapi masalah besarnya. Kalau saya, mungkin gak akan sanggup. Sekarang Om jangan menyalahkan diri Om sendiri. Ada istilah akan indah pada waktunya, dan sekaranglah waktu kebahagiaan Putri bersama Om. Jadi, jangan menyia-nyiakan waktu yang indah ini, Om. Masih banyak waktu untuk memperbaiki keadaan yang sebelumnya sempat rusak."
Suasana di ruangan ini berubah menjadi penuh haru dan bahagia. Hati mereka lega, satu persatu masalah sudah terselesaikan. Tak ada lagi rasa khawatir untuk meninggalkan atau ditinggalkan.
Mereka berbincang diselingi dengan canda dan tawa. Tak lupa ditemani dengan banyak camilan yang dibelikan oleh Wijaya tadi pagi.
________
Terima kasih ❤
KAMU SEDANG MEMBACA
Cold Girl (End)
RandomHidup dalam kukungan kesepian adalah kesehariannya selama ini. Tak ada kepastian dari kedua orang tuanya untuk datang bahkan memberi kasih sayang padanya. Sunyi, sepi, dan sedih. Seperti tak ada kebahagiaan yang nyata, begitu datar dan monoton. Sela...
