Malam indah dengan langit gelap penuh bintang. Di bawah temaramnya lampu, ada Putri yang sedang duduk di balkon dengan raut yang sendu. Otaknya kembali mengingat kembali di masa indah kala itu.
Tanpa sadar, bulir air keluar dari netra yang sejak tadi diam memandang langit. Sebuah ucap tanpa suara diiringi do'a di dalamnya. Harapan yang tidak mungkin bisa terwujud kembali.
Karena merasa lelah berdebat dengan pikirannya, Putri segera masuk ke dalam dan menutup pintu balkon kamarnya. Tubuhnya mulai menaiki ranjang dan tenggelam di sana hingga matanya terpejam dengan erat.
***
Putri sudah siap dengan seragam lengkapnya. Wajahnya cukup segar dibandingkan tadi. Setelah itu, Putri bergegas menuruni menuju meja makan.
Sarapan pagi ini hanya roti tawar dengan selai cokelat juga susu putih hangat. Biasanya jika ada bi Inah, dirinya lebih memilih sarapan nasi. Jadi sekarang ia sarapan seadanya. Pun jika harus membuatnya sekarang sangat tidak cukup waktunya.
Saat sampai di sekolah, Putri langsung melangkah menuju kelas dan mendaratkan bokongnya di bangku. Kemudian dirinya menelungkupkan wajah di atas meja pada kedua tangannya.
Sampai akhirnya bel masuk pun berbunyi, dan Putri pun terbangun dengan nyawa yang belum sepenuhnya terkumpul. Bahkan matanya menyipit untuk membiasa-i cahaya yang masuk.
"Lo pules banget, Put. Apa lo gak tidur semalem? Mata lo juga keliatan sembab gitu, lo abis nangis?" tanya Vina sambil menatap Putri khawatir. Di antara Putri dan Keyla, Vina lah yang terlihat paling khawatir juga sedikit cengeng. Terlebih jika menyangkut pada orang yang di sayangnya. Jika terjadi sesuatu di antara mereka, pasti Vina akan langsung banyak bertanya.
"Gue gak apa-apa. Gue juga tidur semalem, cuma mungkin karena kecapean aja ngerjain tugas."
"Serius? Kalo lo ada apa-apa, lo bisa cerita sama gue atau Keyla."
"Iya, Put. Lo itu jangan sungkan sama kita berdua. Kita siap bantu kalo lo emang bener-bener lagi ada masalah. Kita ini sahabat, 'kan?" Keyla ikut berbicara seraya tersenyum dengan tulus.
"Gue gak apa-apa, beneran. Kalian gak perlu khawatir sama gue. Maybe kalo gue emang ada masalah, gue gak akan sungkan buat cerita ke kalian. Makasih, ya, udah peduli sama gue." Putri memilih menutupi masalahnya dari mereka berdua. Ia merasa belum siap untuk mengungkapkan semua isi hatinya.
Tapi Putri bersyukur, memiliki sahabat yang sangat baik seperti Vina dan Keyla. Adanya mereka, Putri seakan lupa dengan semua masalah yang dihadapinya. Meskipun ia tahu ini hal yang salah, tetapi ia tidak ingin kedua sahabatnya itu ikut terbebani masalahnya yang rumit.
***
Arga dan teman sekelasnya sedang ada di lapangan, karena saat ini tengah kedapatan jam pelajaran olahraga. Tetapi guru pengajar tak hadir di sana. Maka mereka bebas melakukan kegiatan masing-masing tanpa terlibat olahraga serius.
Bel stirahat berbunyi, mereka yang berada di lapangan bergegas keluar pergi menuju kantin. Arga dan ketiga sahabatnya pun melakukan hal yang sama, terlebih sejak tadi mereka bermain sepak bola tanpa kenal lelah.
Saat sampai di kantin, Arga dan ketiga sahabatnya tidak sengaja berpapasan dengan Putri, Vina, juga Keyla.
Dion dan Vino, bahkan tak sungkan memberikan gombalan receh pada Vina. Ada David yang memerhatikan Keyla yang diam-diam tersipu malu. Sementara Arga dan Putri, mereka hanya diam tanpa terlibat percakapan apapun.
Karena merasa tidak ada hal penting yang mereka lakukan, Putri sendiri memutuskan untuk mencari tempat duduk yang langsung disusul oleh kedua sahabatnya.
Arga pun melalukan hal yang sama dan duduk di tempat hak paten milik mereka jika di kantin.
Vina menatap kedua sahabatnya terutama pada Keyla. Ia ingin mengatakan sesuatu yang mampu membuat otaknya terus berpikir dengan bingung.
"Em, gue mau ngomong sesuatu."
Keyla yang menangkap Vina kebingungan pun lantas menatap sahabatnya dengan lekat. Ia juga tak lupa tersenyum dengan tulus seraya mengangguk memastikan.
"Gue agak heran sama Dion. Ah, lebih tepatnya gue yang heran sama diri gue. Aneh gak, si, kalo gue sedikit salting sama dia? Kaya ini tuh, gak sesui prediksi gue. Otak gue dari tadi mikir ini mulu, Key. Dan celoteha dia bikin gue mau liat dia terus. Apa ini tanda kalo gue lagi falling in love?"
"Itu gak aneh sama sekali, Vin. Lagian siapa si yang gak salting kalo di gombalin gitu? Apalagi ini Dion, cowok populer SMA Angkasa dan punya tampang ganteng. Kalo lo ngerasa kaya gitu, ya gak masalah. Tapi, lo jangan terlalu berharap sama perilaku Dion yang kaya gini. Gue cuma gak mau kalo dia cuma main-main sama lo. Perasaan lo, cukup lo aja yang tau. Jangan lo perlihatkan gelagat lo ini ke Dion, nanti dia besar kepala. Intinya sekarang, lo cukup yakinin diri lo sampe mana perasaan itu ada. Oke?"
"Tapi gue kaya berharap banget dong sama dia, Key." Vina berujar seraya mengetuk jarinya ke meja.
"Gue pun kalo jadi elo, ya gitu. Siapa yang gak mau berharap sama orang yang buat kita jatuh cinta, hm? Intinya lo harus tau juga, Dion serius atau enggak sama lo. Gue pengen tau sampe mana dia deketin lo kaya tadi. Karena ini pertama kalinya dia terang-terangan ngegoda cewek, dan itu lo, Vin."
Vina merasa lega karena sudah mengutarakan isi hatinya pada Keyla. Memang hanya Keyla yang bisa memberikan nasihat dan menjadi pendengar yang baik.
"Makasih, Key. Lo tuh emang sahabat gue yang paling ngerti kalo urusan kaya gini," ujar Vina dengan kekehan yang keluar dari mulutnya.
"Iya, sama-sama Vina."
Putri yang mendengarkan celotehan sahabatnya itu hanya diam seraya menyantap makannya. Ia menyetujui dengan apa yang diucap oleh Keyla. Jika Dion memang tulus dengan Vina, pasti dia akan buktiin setiap ucapannya itu. Tapi jika itu hanya kepalsuan, Putri tak akan tinggal diam. Ia menyayangi mereka berdua. Jika mereka tersakiti, ia pun akan merasakan hal yang sama. Untuk itu Putri tidak akan membiarkan orang-orang di luar sana menyakiti kedua sahabatnya.
________
Thanks ❤
KAMU SEDANG MEMBACA
Cold Girl (End)
RandomHidup dalam kukungan kesepian adalah kesehariannya selama ini. Tak ada kepastian dari kedua orang tuanya untuk datang bahkan memberi kasih sayang padanya. Sunyi, sepi, dan sedih. Seperti tak ada kebahagiaan yang nyata, begitu datar dan monoton. Sela...
