Putri sudah siap dengan seragam lengkapnya. Ia membereskan tempat tidur terlebih dahulu dan mengecek kembali buku pelajaran yang sudah ia siapkan semalam.
Putri mencuci tangannya sebentar dan mulai berkutat pada cermin. Ia memoles wajahnya dengan pelembab, tabir surya, dan memakai bedak secara tipis-tipis. Tak ketinggalan dengan lip balm yang memenuhi bibirnya. Kemudian rambutnya ia kuncir satu ala ponytail.
Dirasa sudah selesai, Putri mulai melangkah keluar menuju dapur untuk sarapan. Ia mengambil dua lembar roti tawar dengan taburan selai stroberi, minumnya sudah pasti susu cokelat hangat. Usai sarapan, Putri pun keluar rumah menuju halte yang kebetulan angkot mendarat di sana. Tentu Putri segera menaikinya dengan cepat.
Beberapa menit kemudian, Putri pun sampai di sekolah. Di sana suasananya sepi karena kebetulan masih pagi.
***
"By the way, lo diajakin tanding, Ga. Lo mau terima?" tanya David pada Arga yang sejak tadi diam seraya memainkan ponselnya.
"Terima."
"Lo yakin? Lawan kali ini Reno, dan dia licik banget, Ga."
"Ngeraguin gue?" Arga menatap David seolah meyakinkan bahwa dirinya bisa.
"Bukan gitu maksud gue. Gue yakin lo pasti menang. Tapi karena ini Reno, lo harus hati-hati. Dia orang yang sulit nerima kekalahan, Ga."
"Lo tenang aja, serahin sama gue."
Dion juga Vino sejak tadi hanya menyimak saja pembicaraan David dan Arga. Mereka berdua sudah tidak meragukan lagi bagaimana hebatnya Arga saat di arena balap. Mereka juga tahu betapa liciknya Reno lawan Arga kali ini. Namun, jika Arga sudah mengatakan demikian, tidak ada lagi yang bisa melarangnya. Karena jika ada yang menantang, Arga dengan sukarela dan penuh keyakinan menerimanya. Istilahnya lo jual, gue beli.
***
Vino dan Dion, kini sedang berada di kantin membeli makanan dan minuman untuk mereka. Sedangkan Arga dan David, tengah bermain basket di lapangan outdoor.
Saat langkahnya yang baru saja ingin keluar dari area kantin, Vino dan Dion tak sengaja bertemu dengan Keyla juga Vina yang kini menuju ke area kantin. Mereka sempat berbincang sebentar di sana. Keyla dan Vina juga merespon dengan baik.
"Pantesan di lapangan tadi rame banget, gak taunya ada kak Arga sama kak David di sana. Oh iya, kita mau pesen makanan dulu kalo gitu, udah laper juga soalnya." Vina berucap seraya berpamitan pada Dion dan Vino.
"Tunggu, kalian cuma berdua? Tumben?"
"Oh, Putri lagi di taman belakang. Lagi males ke kantin katanya."
Setelah itu, Dion dan Vino pun pergi ke lapangan seraya membawa jajanan mereka. Begitupun Keyla dan Vina yang kembali melangkah menuju stand makanan di kantin.
Teriakan demi teriakan terdengar dari mulut para siswi dengan nyaring. Mereka menyaksikan kedua cowok populer bermain basket dengan lihai dan dengan gaya keren mereka. Sampai David selesai pun teriakan itu masih riuh, sehingga membuat Arga risih dengan teriakan mereka. Sangat berisik menurutnya.
Arga masih mendrible bola dan memasukinya ke dalam ring. Ia merasa belum lelah sama sekali meski keringat sudah bercucuran di sekujur tubuhnya yang hanya dibaluti kaos putih polos. Seragam miliknya ia tanggalkan di bangku sisi lapangan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cold Girl (End)
De TodoHidup dalam kukungan kesepian adalah kesehariannya selama ini. Tak ada kepastian dari kedua orang tuanya untuk datang bahkan memberi kasih sayang padanya. Sunyi, sepi, dan sedih. Seperti tak ada kebahagiaan yang nyata, begitu datar dan monoton. Sela...
