Arga menuju meja makan dengan seragam yang sudah rapi. Pagi ini menyambutnya dengan indah. Untuk itu ia merasa senang bukan main saat terbangun dari tidurnya yang lelap semalam.
"Tumben pagi gini udah rapi?" ucap Cintya menatap Arga.
"Pengen aja, Ma. Moodnya lagi bagus, ni."
"Bang, gue bareng lo, ya. Gue lagi males bawa motor." Arsen berujar di sela makan roti tawarnya.
"Gak, gue mau jemput orang dulu."
"Siapa?"
Arga hanya diam tak membalas pertanyaan dari Arsen. Seusai sarapan, ia pun segera pamit pergi.
"Mah, Pa, berangkat. Assalamu'alaikum," Arga berpamitan pada kedua orang tuanya seraya mencium punggung tangan mereka.
"Hati-hati, Bang, wa'alaikumssalam." Cintya membalas ucapan Arga seraya berteriak karena melihat Arga yang sudah keluar dari pintu rumah.
"Udah, Dek, kamu berangkat sendiri aja. Kalo gak mau nyetir sendiri, Papa yang antar, mau? Tapi pulangnya nanti kamu naik angkot." Ardian berujar dengan nada yang jenaka dan menyebalkan jika dilihat oleh Arsen
"Enggak, deh, Pa. Aku naik motor aja."
"Ya udah. Dihabisin dulu itu sarapannya, Dek!" ucap Cintya.
Arsen pun kembali menghabiskan sarapannya yang tertunda.
***
Putri yang baru selesai dengan sarapannya, dikejutkan dengan suara deruman motor di depan rumah. Ia pun segera meraih kunci mobil, lalu keluar pintu utama dan tak lupa menguncinya.
Putri melihat siapa yang datang pagi ini hingga membuatnya terkejut. Langkahnya menghampiri orang tersebut dengan helaan napas keluar dari mulutnya.
"Ngapain?" tanya Putri pada laki-laki dengan seragam lengkapnya.
"Jemput lo," jawab laki-laki itu seraya membuka helm full facenya.
"Gak usah, makasih. Gue bawa mobil."
"Bareng gue aja. Simpen kunci mobil lo!"
"Ck, maksa."
"Please!"
Putri terkesiap dengan nada memohon laki-laki itu. Ia jadi tak enak menolak ajakannya.
Putri pun mengiyakan ajakan itu dan langsung naik ke atas motor. Tak lupa ia membawa helm miliknya yang tersimpan rapi di garasi, lalu mulai memakainya.
Selama di perjalanan, mereka hanya diam tanpa ada yang membuka percakapan. Hanya ada suara kendaraan yang berlalu lalang di sekitar mereka.
Saat sampai di parkiran sekolah, semua menatap mereka dengan raut yang berbeda-beda.
Mereka bingung dan terkejut, karena merasa bahwa siswi tak acuh seperti Putri, mau berboncengan dengan most wanted yang terkenal dingin itu. Mereka bahkan tak terlihat akrab selama ini.
Arga dan Putri, selaku pembicaraan para murid-murid pagi ini, segera berjalan beriringan menuju kelas masing-masing. Namun, ketika sampai di koridor, masih ada saja orang yang berbisik-bisik karena kedekatan mereka. Ada tatapan iri atau pun kesal, tetapi mereka menghiraukan itu semua.
Sampai di depan kelas Putri, Arga masih setia mendampinginya.
"Makasih atas tumpangannya." Putri berujar seraya menatap Arga lekat.
"Iya, sama-sama."
Ketika Putri ingin masuk kelas, tiba-tiba saja Arga menahan pergelangan tangan Putri. Sehingga membuat Putri membalikkan kembali tubuhnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cold Girl (End)
AléatoireHidup dalam kukungan kesepian adalah kesehariannya selama ini. Tak ada kepastian dari kedua orang tuanya untuk datang bahkan memberi kasih sayang padanya. Sunyi, sepi, dan sedih. Seperti tak ada kebahagiaan yang nyata, begitu datar dan monoton. Sela...
