Putri, Vina, dan Keyla saat ini tengah asik mengobrol. Namun, pandangan mereka teralihkan ke area lapangan. Sepertinya di sana telah terjadi sesuatu.
Vina pun mulai bersuara karena ia penasaran dengan kejadian di lapangan. "Guys, itu bukannya Arga sama Flo, ya? Kok mereka kaya akrab gitu, si?"
"Iya, kenapa mereka bisa akrab gitu? Psdahal Flo 'kan anak baru. Entah kenapa Feeling gue tiba-tiba gak enak, deh." Keyla menjawab dengan dahi yang mengerut.
Sedangkan Putri kini tengah memikirkan ucapan kedua sahabatnya. Ia juga sama penasarannya dengan hubungan Arga dan Flowra.
"Kenapa mereka bisa deket? Sejak kapan? Sedangkan Flo itu anak baru. Atau mungkin, dia emang masa lalunya Arga? Arrghh, kenapa gue jadi mikirin mereka, si?" Putri bergumam dalam hati. Ia tidak seberani itu mengungkapkan isi hatinya pada kedua sahabatnya.
Vina dan Keyla masih terus memandang ke arah lapangan. Dengan mulut mereka yang terus mengoceh tanpa henti. Seakan mereka tengah menonton sebuah pertunjukan seru.
Jujur saja Putri jengah dengan kedua sahabatnya ini. Mereka terus saja membicarakan hal yang menurutnya tidak begitu penting. Apalagi ini berhubungan dengan masa lalu seseorang. "Kalian udah selesai merhatiin mereka?"
Vina menoleh ke arah Putri, ia meringis kala dirinya yang terus memerhatikan sosok Arga dan para sahabatnya di lapangan.
"Maaf, ya, Put. Kita malah ngomongin mereka yang entah apa permasalahannya. Kita balik ke kelas aja, deh, yuk!"
Dan mereka bertiga pun memilih pergi meninggalkan kantin menuju ruang kelas. Karena lima menit lagi bel masuk akan segera berbunyi. Saat di perjalanan, Putri ingin melipir dulu ke toilet. Kandung kemihnya sudah tak bisa ditahan.
"Gue ke toilet dulu, kalian duluan aja!"
Keyla menatap Putri dengan lekat. "Kita temenin aja, ya."
"Gak usah, takut lama. Kalian duluan aja! Nanti kalo ada guru dateng langsung hubungin gue."
Keyla pun pasrah akan ucapan dari Putri. Pada akhirnya Keyla pergi bersama Vina, meninggalkan Putri sendirian masuk ke toilet.
Saat ini Putri tengah berdiri di hadapan cermin. Kebetulan juga tidak ada siapa-siapa di sana.
"Kenapa gue jadi mikirin kejadian tadi? Lagi pula gue juga bukan siapa-siapanya Arga. Ck, kenapa juga jadi repot mikirin mereka?" Monolognya seraya menghadap cermin, menatap pantulannya sendiri dengan wajah yang terlihat bingung dan penasaran.
Putri memilih untuk membasuh wajahnya agar terlihat segar. Kemudian wajahnya dikeringkan dengan tisu yang sempat ia beli di kantin.
Karena merasa lebih baik, Putri segera beranjak dari toilet menuju kelas. Namun, saat baru saja keluar, Putri berpapasan dengan Flowra. Di sana ia melihat wajah Flowra yang merah karena habis menangis. Entah apa kejadian di lapangan tadi hingga membuat Flowra eperti itu. Putri hanya terus bertanya di dalam hati yang tidak tahu kapan akan mendapat jawaban.
***
Arga, Vino, Dion, dan David tengah duduk santai sambil bercakap ria di atas rooftop. Mereka bolos jam pelajaran karena merasa sudah tidak ada semangat lagi untuk belajar hari ini.
"Kenapa dia balik lagi coba?" Vino bertanya seraya menatap langit cerah dengan dahi mengerut.
David yang tepat berada di samping Arga bertanya seraya menatap lekat sahabatnya itu. "Lo beneran udah move on, 'kan?"
Helaan napas keluar begitu saja dari mulut Arga. "Udah, Dav."
"Lo yakin?"
"Hm."
KAMU SEDANG MEMBACA
Cold Girl (End)
AléatoireHidup dalam kukungan kesepian adalah kesehariannya selama ini. Tak ada kepastian dari kedua orang tuanya untuk datang bahkan memberi kasih sayang padanya. Sunyi, sepi, dan sedih. Seperti tak ada kebahagiaan yang nyata, begitu datar dan monoton. Sela...
