Sekembalinya dari kafe, Putri dikejutkan oleh sebuah mobil asing yang terparkir indah di halaman rumahnya. Putri pun segera membuka pintu utama dan menutupnya kembali. Saat melewati sofa ruang tamu, ia dibuat terkejut akan kedatangan seseorang yang selama ini ia harapkan.
Orang itu menoleh menghadap Putri seraya tersenyum. "Hai sayang, apa kabar?" ucapnya sambil melangkah menghampiri Putri yang terdiam.
"Mamah." Putri berujar pelan dengan tubuh membeku.
"Kamu kenapa, hm?"
Putri mengikuti langkah mama dengan tatapan terkejutnya. Entah apa tujuan sang mama berkunjung ke rumah ini.
"Kenapa Mama bisa di sini?"
"Ada yang mau Mama bicarakan sama kamu."
"Mau bicara soal apa?"
"Mama mau ajak kamu ke Jerman."
Putri yang mendengar itu terkejut, tentu saja. Putri menatap mamanya dengan lekat, menyelami bola mata hitam pekat persis seperti dirinya.
"Kamu mau 'kan tinggal bareng sama Mama dan keluarga baru kita di Jerman?"
"Kita? Mereka bukan keluargaku, tapi keluarga Mama."
"Oke, keluarga Mama. Tapi kamu mau, ya, ikut Mama dan papa baru kamu di Jerman? Kamu bakalan punya kakak, loh, di sana. Namamya Kenald Fernandez, dia udah kuliah semester empat. Pasti nanti kamu seneng setelah bertemu dia, soalnya Ken orangnya friendly banget. Kamu mau 'kan ikut Mama?"
"Aku gak bisa ikut Mama."
"Kenapa? Apa alasannya? Kamu bisa nerusin sekolah di sana dan melakukan apapun sesuka kamu."
"Segampang itu, ya, Mama mau ambil aku ke Jerman?"
"Ya ... memangnya kenapa? Mama gak salah ambil langkah ini."
"Salah, Ma, salah banget. Kenapa gampang banget Mama bilang kaya gitu ke aku dan seolah ngatur aku untuk pergi dari rumah ini? Selama bertahun-tahun aku nunggu kehadiran Mama atau pun Papa, gak ada satupun yang hadir nemuin aku. Kalian begitu egois, lebih mementingkan sebuah pekerjaan dan uang. Apa kalian pernah berpikir kalau kalian masih punya anak dan aku masih butuh kalian? Apa Mama pernah tau tentang keadaan aku? Soal sekolah aku? Enggak 'kan? Aku gak akan bisa ninggalin rumah ini dan sekolah aku gitu aja, Ma. Di sini, masih ada orang-orang aku sayang. Jadi jangan harap bahwa Mama bisa membawa aku pergi ke Jerman."
"Apa-apaan kamu? Kenapa jadi kaya gitu? Pokoknya kamu harus ikut sama Mama ke Jerman. Kamu akan meneruskan sekolah di sana, kita bangun keluarga baru. Mama yakin kamu bahagia, karena di sana ada Kenald yang mengawasi kamu. Kalau di sini Mama tidak bisa memantau kamu dengan baik."
"Oh, jadi Mama manfaatin anak Mama yang baru itu supaya dia bisa pantau aku? Menyedihkan banget, ya, aku ini."
"Mama bukan manfaatin dia, Mama gak mungkin ngurus kamu setiap hari karena Mama juga sibuk dengan kerjaan. Mama belum bisa berhenti dari kerjaan itu, jadi kamu di rumah sama kakak tiri kamu nantinya."
Putri menatap sinis mamanya. Ia merasa tak ada bedanya mau di sini atau pun di sana.
"Sama aja, Ma. Mau aku di sini atau di sana, sama-sama gak menguntungkan buat aku. Inget ini, Ma! Aku cuma butuh sosok Ibu yang bisa melihat perkembangan anaknya di rumah. Bukan cuma memikirkan pekerjaan dan uang aja."
"Keras kepala! Masih untung Mama mau ambil kamu dari rumah hina ini."
Putri tak tahan lagi dengan ucapan mamanya. Ia pun berujar kembali dengan nada yang membentak. "STOP, MA!"
Putri menghela napasnya dan menetralkan segala emosinya yang tertahan sejak tadi. "Lebih baik Mama keluar! Percuma Mama bujuk aku buat pergi dari sini, aku gak akan pernah mau untuk ikut sama Mama ke Jerman, sampai kapan pun. Jadi Mama boleh pergi sekarang!" Putri berujar dingin dan dengan nada yang tegas.
"Oke, Mama akan pergi. Tapi ingat, Mama gak akan mau kirim uang lagi ke rekening kamu. Hubungan kita cukup sampai di sini. Gak habis pikir sama otak kamu yang dangkal."
"Terserah, aku gak peduli."
"Kamu yakin tidak menyesal dengan itu?"
"Tidak akan pernah."
Kemudian, Airin pun pergi dari rumah Putri dan menutupnya dengan keras. Hingga menimbulkan suara yang nyaring.
Putri memejamkan matanya sebentar, kemudian menatap daun pintu yang tertutup dengan sendu. Lalu kakinya melangkah menuju kamar dan menutup pintu itu cukup keras. Tubuhnya segera ia hempaskan ke ranjang dan menangis dibalik bantal miliknya.
Apa ini takdirnya yang tidak bisa bahagia bersama keluarganya? Putri masih mengingat dengan kata-kata tadi, bahwa mamanya sendiri tidak mau menganggapnya ada. Kehidupannya sudah hancur, mengapa di tambah hancur lagi? Kehadiran Mamanya benar-benar malapetaka untuknya. Dia mengatakan suatu hal yang seharusnya tak keluar dari mulut seorang Ibu. Rasanya Putri ingin menenggelamkan saja ke tengah laut, agar ia bisa bebas terbawa air dan membawanya ke mana pun yang ia mau.
Hingga akhirnya Putri pun terlelap dalam keadaan yang benar-benar kacau. Sebagian barangnya tergeletak di lantai kamarnya, begitu pun selimut tebalnya yang sudah berada di karpet berbulu di bawah ranjang. Bahkan seragamnya masih melekat di tubuhnya dengan rambut yang cukup berantakan. Benar-banar hari sial dan lelahnya seorang Putri.
________
Terima kasih ❤
KAMU SEDANG MEMBACA
Cold Girl (End)
De TodoHidup dalam kukungan kesepian adalah kesehariannya selama ini. Tak ada kepastian dari kedua orang tuanya untuk datang bahkan memberi kasih sayang padanya. Sunyi, sepi, dan sedih. Seperti tak ada kebahagiaan yang nyata, begitu datar dan monoton. Sela...
