Putri kini tengah membaca buku novelnya yang belum sempat ia selesaikan.
Sudah hampir satu setengah jam Putri membaca, sampai akhirnya ia menyelesaikannya juga. Kemudian ia menyimpan kembali buku itu ke rak, dimana banyak buku novel koleksinya di sana.
Ketika ia ingin kembali ke atas ranjang, tak sengaja netranya teralihkan ke arah sofa. Di mana ada sebuah kotak dengan pita berwarna biru.
Putri baru mengingatnya ketika kemarin mamanya mengirimi hadiah yang di titipkan seorang kurir.
Lalu putri pun mulai membuka kotak tersebut dengan perlahan. Ia menghela napasnya ketika kotak itu dibuka. Di sana terdapat gaun berwarna hitam polos yang indah, serta high heels berwarna hitam mengkilat. Di dalam sana juga terdapat sebuah note yang berisi,
To : Putri Natasya Wijaya
Bagaimana gaunnya bagus, kan? Itu hasil rancangan terbaik teman mama, loh. Jangan lupa di pakai! Oh iya, high heelsnya juga itu mama beli dari new york, semoga suka.
From : Mama
Kira-kira seperti itulah isi dari note tersebut. Putri mengemasi barang itu kembali ke dalam kotak dan menyimpannya di dalam lemari begitu saja.
Putri menatap kaca balkon dengan tatapan kosong. Memikirkan mereka hanya terus membuatnya terluka. Baik mama dan papa, mereka sama saja di mata Putri. Egois. Entah sudah berapa banyak Putri memendam rasa sakit dan kehancuran ini seorang diri, yang pasti ia lelah. Sangat lelah.
"Kalian jahat," monolog Putri seraya mengusap air matanya yang kini mulai mengalir hingga membasahi wajahnya.
***
Sehabis balapan, Arga mulai merasa lelah dan nyeri di sekujur tubuhnya. Luka akibat goresan tadi baru ia rasakan sekarang. Tubuhnya bersandar di sisi ranjang dengan kaki yang menjulur ke depan, ia akan mengobati lukanya sendiri yang sudah disiapkan oleh Arsen. Meski tadi adiknya itu berinisiatif membantu, akan tetapi Arga terus menolak.
Usai mengobati lukanya, Arga memilih naik ke atas ranjang dan mengistirahatkan tubuhnya di sana. Netranya menatap layar ponsel yang menampilkan wajah seorang gadis yang mampu membuatnya penasaran akhir-akhir ini. Tatapan matanya yang kosong, raut yang sendu, dan seakan memasang dinding pembatas pada semua orang.
Sikapnya yang tak acuh membuat siapa saja enggan mendekati. Namun, Arga tidak bisa menjauhinya dan justru semakin penasaran dengannya. Hatinya itu seolah tergerak untuk terus berada didekatnya walau hanya direspon dengan sikapnya yang dingin.
***
Putri terbangun dari tidurnya. Ia memilih untuk masuk ke kamar mandi guna mancuci wajah dan mengambil air wudhu. Seusai itu, dirinya mulai menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim.
Selesai shalat, Putri menuruni anak tangga menuju dapur. Ia menyantap roti tawar selai cokelat dengan segelas susu putih hangat.
Pagi ini Putri ingin mengisi kegiatannya dengan berlari di taman komplek perumahannya. Biasanya di hari minggu lumayan ramai pengunjung di sana.
Putri mamakai kaos abu-abu polos, celana legging hitam panjang, juga sepatu kets putih polos. Rambut panjangnya ia ikat menjadi satu supaya rapi.
Kakinya mulai melangkah keluar rumah memakai earphone. Ia pun mulai menuju ke taman dengan berjalan santai terlebih dahulu.
Ketika sampai di taman, Putri memulai pemanasan terlebih dahulu sebelum berlari, agar otot-ototnya tidak keram dan kaku. Usai itu dirinya mulai mengambil langkah untuk berlari mengitari taman tersebut.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cold Girl (End)
RandomHidup dalam kukungan kesepian adalah kesehariannya selama ini. Tak ada kepastian dari kedua orang tuanya untuk datang bahkan memberi kasih sayang padanya. Sunyi, sepi, dan sedih. Seperti tak ada kebahagiaan yang nyata, begitu datar dan monoton. Sela...
