"Hai, Indonesia ...
"Akhirnya gue bisa kembali setelah sekian lama. Dan gue bakalan nemuin orang yang udah buat gue bisa balik lagi ke sini ...
"I'm back baby."
Tak lama kemudian dering di ponsel miliknya pun berbunyi.
"..."
"Halo, Ma."
"..."
"Iya, ini aku udah di Bandara. Siapa yang jemput?"
"..."
"Oke."
Beberapa menit kemudian, jemputannya datang. Mereka saling melemparkan senyum dibalik kaca mata cokelat milik salah satunya.
"Hai, sayang." Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dan glamour itu menghampiri putrinya yang kini sudah kembali ke tanah air.
"Hai, Ma, aku kangen banget. Papa mana?" ujarnya seraya berpelukan pada sang mama.
"Mama juga kangen sama kamu. Papa gak bisa ikut karena ada meeting di kantor. Gak bisa di tunda dan gak bisa ditinggal juga. Jadi cuma Mama aja yang jemput kamu."
"Oh. Ya udah, kita pulang, yuk, Ma! Aku cape banget dan kangen sama kasur."
"Pak, tolong angkut barang-barangnya ke mobil, ya."
"Siap, Nya." Sampai akhirnya, mereka melenggang pergi menjauhi kawasan Bandara
***
"Key," panggil Vina pada Keyla.
"Apa?"
"Anter gue ke toilet yuk! Kebelet, ni."
"Pake dianter segala. Sendiri emangnya kenapa, si?"
"Ish, ayo dong, Key, temenin gue! Mau, ya, ya, ya." Vina berujar seraya memasang wajah melasnya.
Keyla memutar bola matanya malas. Ia tahu sekali bahwa Vina akan terus merengek jika tidak dituruti. "Iya-iya, ayo!"
Vina pun mulai memanggil guru pengajar di depan untuk izin ke toilet bersama Keyla. Ketika sudah diberi izin, mereka pun keluar dari kelas menuju toilet bersama.
Ketika di toilet, Keyla menunggu Vina dan bersandar di sisi wastafel. Untung saja toilet sepi, jadi ia tak perlu menyingkir dari wastafel dengan cermin yang menjadi pelengkapnya.
Usai membuang hajatnya, Vina pun memutuskan untuk pergi dengan Keyla yang berada di sampingnya. Baru saja mereka sampai ke kelas, suara bel tanda istirahat pun berbunyi. Dan itu mampu membuat mereka menghela napas lega.
"Sekian pelajaran untuk hari ini, terima kasih semua." Guru tersebut mengakhiri pelajarannya dan tak lupa dengan senyuman yang tersungging dari bibir mungilnya itu.
"Iya, Bu. Terima kasih kembali," jawab semua murid dengan serempak.
"Key, Put, kantin gak?"
"Kantin, dong." Keyla menjawab dengan lugas.
"Gue gak ikut, ya. Gue mau di sini aja."
"Mau nitip sesuatu?"
"Gak usah, makasih. Gue lagi gak pengen makan apa-apa."
"Ya udah kalo gitu. Gue sama Vina ke kantin, ya."
"Iya."
Keyla dan Vina pun pergi ke kantin bersama. Sedangkan Putri tetap diam di kelas dengan tangan yang kini meraih ponselnya di kolong meja.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cold Girl (End)
DiversosHidup dalam kukungan kesepian adalah kesehariannya selama ini. Tak ada kepastian dari kedua orang tuanya untuk datang bahkan memberi kasih sayang padanya. Sunyi, sepi, dan sedih. Seperti tak ada kebahagiaan yang nyata, begitu datar dan monoton. Sela...
