22-Aku Mengetahuinya

1.3K 55 7
                                        

Albert PO'V

Ruang bawah tanah

"ADRI!! Cukup Adri, yang harus kita lakukan sekarang adalah menemukan Malik" Bentakku pada Adri yang dari tadi memukuli para bodyguard yang di perintahkan untuk menjaga Malik

"MALIIIIKKK!!!!!" Teriak Adri lantang

Dorrr... Dorrr.... Dorrr...

3 suara tembakan menumbangkan 3 bodyguard yang berasal dari pistol Adri

"Adri, apa yang lakukan hanya memperburuk keadaan" Ucapku lantang menarik lengan Adri kasar

Tanpa sepatah kata pun, Adri meninggalkan tempat ini, dan aku tidak tahu kemana Adri akan pergi

Adri PO'V

Rumah Adri

"Sial, Malik berhasil melarikan diri" Geramku yang kini berdiri di ruang mini barku

Author PO'V

Praaangg... Adri melemperkan semua botol anggur. Setelah Adri memporak-porak gandakan ruangan mini barnya, Adri pun langsung ke rumah sakit

Rumah sakit

Ceklek. Adri memasuki kamar inap Fadilah, karena Fadilah telah di pindahkan ke kamar inap. Adri memasuki kamar tersebut dengan keadaannya yang sangat berantakan

"Kak Adri, kenapa kak Adri berantakan?" Tanya Fadilah khawatir

"Bukan urusanmu" Jawab Adri dingin

Fadilah yang mengetahui sifat buruk Adri pun, akhirnya diam. Keheningan yang tercipta di ruang inap Fadilah, baik Fadilah, Adri, maupun bi Amor, tidak ada yang membuka suara.

Bi Amor sibuk mencuci buah anggur untuk Fadilah dan Fadilah sibuk membaca novel. Adri hanya berdiri di samping jendela dan menatap keluar dengan tatapan kosong.

"Apa dia mendatangimu?" Tanya Adri tiba-tiba

"Maksud kak Adri?" Tanya Fadilah balik, karena Fadilah tidak paham akan pertanyaan Adri dan tidak tahu, pertanyaan tersebut untuk siapa?.

"Apa dia mendatangimu, Fadilah?" Tanya Adri kembali, dan ternyata pertanyaan itu untuk Fadilah

"Siapa? Siapa yang kak Adri maksud? Siapa yang mendatangiku?" Tanya Fadilah bingung

"Hah, sudahlah, nggak usah kau pikirkan itu, kau istirahat saja" Jawab Adri dingin

"Hmm" jawab Fadilah

"Ini nak, buah anggurnya" Ucap bi Amor kemudian memberi Fadilah buah anggur

"Makasih bu" Ucap Fadilah tersenyum manis, dan bi Amor tersenyum lembut menanggapinya

Sesaat kemudian Adri duduk di sofa yang ada di ruang inap Fadilah *masih ingat kan, Fadilah di tempatkan di ruang vvip,

"Apa kak Adri punya masalah?" Tanya Fadilah membatin

"Kenapa kau mengganggu hidupku bangsat!!??" Tanya Adri berguman sambil menutup matanya dengan pergelangan tangannya

"Kalau sampai Fadilah terlibat dalam misi balas dendammu kepadaku, ku pastikan kau akan menyusul ibu dan pria brengsek itu" Sambung Adri membatin *Pria brengsek yang di maksud Adri adalah ayahnya sendiri

Flasback on

Adri PO'V

"Jangan duduk di situ" Jawab Fadilah cepat, namun pria itu sudah duduk terlebih dahulu dan Fadilah langsung membuang mukanya jutek

"Siapa pria itu?" Ucapku yang berada ruang perusahaanku. *Adri melihat kejadian tersebut lewat CCTV yang di pasang di ruang inap Fadilah tanpa ada yang mengetahuinya

"Maaf, Anda siapa?" Tanya bi Amor

"Aku?" Tanyanya pada bi Amor

"Aku adalah adik dari Adrian Yudriansa Colabs" Tambahnya memperkenalkan diri

"Jangan-jangan itu Raihan?" Tanyaku sendiri

"Adik dari Tuan Adri?" Tanya bi Amor heran, sementara Fadilah langsung membulatkan matanya tanpa melihat ke arah pria yang mengaku adik Adri

"Maaf Tuan, Tuan Adri tidak memiliki adik, bahkan dia sebatang kara, dia hanya memliki Fadilah, namun sebelumnya dia menganggap Tuan Albert sebagai kakaknya" Terang bi Amor

"Tidak memiliki adik?" Tanyanya dengan nada mengejek

"Dia memiliki adik kandung, tapi sayang adiknya meninggal karena di perkosa oleh ayah tirinya" Tambahnya

"Sial, apa dia mau menjelek-jelekkanku?" Tanyaku geram

"Apa?" Kaget bi Amor

"Hei cantik, kamu yakin mau bertahan dengan Adri?, Ingat, Adri adalah The Leader of Mafia, dan dia dari keluarga yang tidak baik-baik, tidak separti keluargamu" Hasutnya pada Fadilah

"Cih, pria brengsek" Geramku jijik

"Kalau dia bukan dari keluarga yang baik-baik, maka kamu juga dari keluarga yang tidak baik-baik. Maka dari itu, lebih kamu pergi dari sini, dan jangan datang lagi, bahkan menemuiku lagi, karena aku tidak suka apabila ada orang yang menjelek-jelekkan keluargaku" Ucap Fadilah berani, dan mengusir pria tersebut

"Heh, ternyata Fadilah memang benar-benar sensitif bila mengenai masalah keluarganya" Ucap Adri dengan tersenyum kecut

"Keluargamu?, Apa kamu menganggap Adri sebagai keluargamu?" Tanya pria tersebut

"Iya, tapi aku tidak menganggap kak Adri sebagai keluargaku, tapi dia adalah keluargaku, karena dia suami sahku di mata negara dan di mata agama" Jawab Fadilah lantang

"Heh, ternyata Fadilah juga mengakuiku, tapi pada kenyataannya, Fadilah selalu minta cerai, apa aku harus memperlakukan Fadilah selayaknya isrti?" Tanyaku sendiri

"Heh, aku ingin lihat, sampai kapan kau akan bertahan dengan pria brengsek seperti Adri" Ejek pria tersebut, kemudian berdiri

"Kau" Geram Fadilah. Sesaat kemudian, Fadilah langsung mencabut jarum infusnya tanpa memperdulikan darah keluar dan menampar lelaki tersebut karena sudah mengatakan bahwa aku adalah pria brengsek.

Aku langsung membulatkan mataku, aku sangat tidak percaya akan apa yang Fadilah lakukan

"KELUAR KAU DARI SINI ORANG ASING!!!" Teriak Fadilah lantang

"AKU TIDAK SUKA APABILA ADA ORANG YANG MENGEJEK KELUARGAKU, MENGHINANYA, BAHKAN MENYAKITINYA" Tambah Fadilah

"Santai aja cantik, tapi aku pastikan, kau bakal berlutut di kakiku untuk menjadikanmu milikku" Ucapnya tenang

"Cih, menjijikkan kau Raihan" Ucapku jijik dan geram

"Dan aku langsung menjadikanmu milikku saat itu juga, sayang" Tambahnya

"Brengsek!!" Geramku pada Raihan

Fadilah hendak menamparnya kembali, namun di tahan oleh bi Amor.

"Tolong Anda pergi dari sini sekarang, atau saya panggil satpam" Ancam bi Amor.

"Oke, aku akan pergi, tapi ingat kata-kataku itu, Fadilah Yulianda" Ucapnya dan menekan nama Fadilah Yulianda

Setelah orang itu pergi, bi Amor memanggil dokter untuk menangani Fadilah karna Fadilah langsung pucat dan sesaat kemudian Fadilah pun pingsan

"Fadilah" Ucapku khawatir yang melihat Fadilah pingsan. Sesaat kemudian, bi Amor menelponku, dan aku menganggap tidak terjadi apa-apa walaupun, aku ingin sekali membunuh Raihan sekarang juga. Namun, sebelumnya aku ke apertemen kak Albert, aku ke apertemen kak Albert, bukan berarti aku tidak khawatir dengan Fadilah, namun aku harus tetap bersikap biasa saja seolah-olah, tidak ada yang terjadi













Bersambung

Farmasi dan CEOCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang