11- Sanity

2.5K 345 20
                                        

Ketakutannya kembali Yoong,

Yoongi berjalan gontai melewati lorong remang rumah sakit. Pikirannya melayang, kosong pandang menerawang hingga batas yang ia bisa.  Hatinya berkecamuk risau.

Setelah terjebak di konversasi rumit dengan Seokjin dua hari lalu, sepenggal kalimat yang terlontar dari bibir Dokter muda itu terus terhiang didalam telinganya.

Apa yang harus aku lakukan kak?

Jungkook kembali kehilangan kendali. Kali ini lebih parah, hingga dengan berat hati Seokjin membawa adiknya ke ruang isolasi. 

Tetaplah bersamanya.

Tidak semudah yang dibayangkan, bukannya tenang Jungkook malah semakin tertekan. Merasa semakin dijauhkan dari dunia luar, dan kedua kakaknya sama sekali terlihat seperti tidak peduli dengan menyetujui segala yang disarankan dokter jiwa senior Seokjin. 

Aku takut..

Dibalik kaca besar, kedua iris Yoongi menangkap sosok ringkih adiknya. Menekuk lutut diujung ranjang dengan wajah yang dibiarkan hilang dibalik lipatan lengan. 

Wajahnya pucat, dan Yoongi sesak melihat keadaan seorang berharga dihidupnya seperti kehilangan rona. 

Apa keputusan kita menempatkan Jungkook di ruangan itu benar kak?

Yoongi merasakan dingin menembus kulit telapak tangannya kala bersentuhan dengan kaca besar dihadapannya. 

Seperti hangatnya hilang dibawa angin musim gugur yang akan segera berakhir tepat lima hari lagi. 

Aku tidak tahu, setidaknya kita menjauhkan ia dari hal-hal yang bisa menyakitinya. 

Tiga hari terakhir kejiwaan Jungkook semakin menggila. Ini titik rendah dimana ketakutannya kembali.

Dan Yoongi merasa bodoh karena tidak bisa melakukan apapun untuk itu.  Bahkan Seokjin membatasi ruang temu mereka berdua selama tiga hari ini. 

"Temui adikmu Yoong, "

Diluar rintik hujan kembali menyapa bumi, hanya gerimis kecil. Tidak sebesar badai dihatinya. Yoongi menghela nafas hingga menciptakan embun tipis dikaca besar hadapanya.

"Aku.. Merasa seperti tidak berguna. "

Mata kecilnya menerawang kedalam lagi-lagi pandangannya terpaku pada sosok dibalik kaca yang semakin menekuk lutut seperti mencari kehangatan didalamnya. "Berhenti mengatakan itu. Dulu bibi Juyoung adalah alasannya untuk bangkit bukan?"

"Sekarang jadikanlah dirimu alasannya untuk kembali berdiri, dengan tetap bersamanya dan melupakan segala pikiran bodoh tentang siapa yang berguna dan tidak berguna. "

Sesaknya semakin menjadi, hingga kepalan tangan disamping tubuh itu mengerat. Jalan-jalan diotaknya seketika buntu, tiba-tiba pikirannya kosong dan denyutan dikeningnya kembali terasa.

Seokjin sigap menahan tubuh Yoongi yang terhuyung kebelakang, dengan setengah nafas yang masih tertinggal di pangkal tenggorokannya helaan kecil keluar dari belah bibirnya yang nyaris sama. Kehilangan rona.

Tidak ada yang tidak terluka disini, Yoongi pun sama sakitnya. Melupakan jam tidur dan makan demi membagi perhatian atas tanggung jawabnya diperusahaan dan adiknya yang jelas diprioritaskan lebih dari apapun. Kedua tungkainya kembali menegak, sedikit memijat pangkal hidungnya sekedar menghilangkan denyutan yang sama sekali tidak pergi.

"Aku kedalam kak, "

"Jangan terlalu memaksakan diri, tubuhmu pun perlu istirahat. " Yoongi mengangguk tanpa membalikan tubuhnya, langkahnya sedikit gemetar tetapi Yoongi tetaplah Yoongi yang kemauannya setegar karang. Tak ingin dilihat lemah, karena yang perlu ia pentingkan adalah adiknya--Jungkooknya--lebih dari yang utama diantara pertama. 

Decitan pintu terbuka samar tertangkap rungunya, namun Jungkook hanya terpaku satu titik dalam pandangnya menuju keluar menatap bias cahaya dan rintik air lewat jendela yang dilapis tralis besi dihadapannya. 

Ruangan ini besar, tetapi hanya terdapat satu brangkar dan satu meja kecil dipojok ruangan.

Dari celah lipatan tangan Jungkook dapat melihat presensi Yoongi yang mendudukan diri dihadapannya. Tapi ia tidak peduli, sepasang mata bulat itu malah kembali tertuju satu titik dibalik tralis besi yang membatasi dirinya dengan dunia luar. Tidak mengerti apa yang menarik disana hanya saja ada sesuatu yang membuat pandangnya lagi-lagi terkunci.

Hening dibiarkan begitu saja, Yoongi sibuk dengan pikirannya pula Jungkook yang memang tidak punya satu niatanpun untuk memulai pembicaraan.

Sudut kecil dihatinya merasa kecewa. Yoongi benar-benar membiarkannya sendiri setelah sekian tahun mereka habiskan waktu dengan bersama-sama. Jungkook terlalu lelah untuk sekedar menangis dan memohon keadilan. Sekelumit pikiran buruk tentang kepedulian kakaknya yang terkikis, atau batas lelah Yoongi atas dirinya mulai bermunculan.



"Aku tidak gila kak, "

Yoongi tersentak, memandang tak percaya pada adiknya. Jungkook tetap dalam posisinya tidak sedikitpun menatap sang kakak.  Jujur Yoongi terheran, bagaimana Jungkook mengatakan suatu hal yang benar-benar membuatnya semakin merasa menjadi kakak terjahat? 

"Kenapa kakak membuangku kesini?"

Lagi-lagi Yoongi terkejut, bibirnya rapat tak kuasa mengatakan sesuatu bahkan hanya satu kata. Lidahnya kelu, wajahnya memanas dan hatinya terasa diremat. Jungkook menyuarakan hatinya. 

"Kakak lelah denganku ya?"

Lirih sekali, suara Jungkook memelan diakhir tetapi rasanya seperti belati yang dipertajam. Semakin dalam menusuk relung hati Yoongi. Yoongi seolah ditarik kembali pada kejadian diamana ia membuat keputusan secara sepihak dan tidak berpikir bagaimana perasaan Jungkook akan hal ini. Begitupula Seokjin yang masih bertahan berdiri tegak dibalik kaca besar, ia mendengar setiap kata yang terlontar dari Jungkook melalui audio yang memang terpasang disana.

Mereka merasa sangat egois. []

Dream SightTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang