Hangat sekali, keluarga Kim sangat hangat.
"Mau telur gulungnya lagi Kookie?
Jungkook tersenyum, pipinya menggembung terisi penuh makanan. Ibu Kim meletakan sepotong telur di mangkuknya.
Memenuhi undangan makan malam keluarga Kim yang sangat terasa seperti rumah sendiri, mengajak serta Yoongi yang duduk disampingnya diselingi senyum canggung walau berkali-kali Ibu Kim meminta untuk menganggap mereka seperti sedang makan malam keluarga biasa.
Malam ini ulang tahun pernikahan orang tua Taehyung. Ayah Kim sengaja meminta anaknya mengundang sepasang kakak-adik ini untuk ikut serta dalam jamuan sederhana yang biasanya hanya diisi mereka bertiga, mengingat bagaimana kedekatan Jungkook dengan keluarga Kim.
"Terimakasih paman, bibi. "
"Sudahlah Yoon, tidak perlu terlalu formal" Ayah Kim tersenyum hangat, terasa hangat sampai hati.
Jika Jungkook dekat dengan Bunda maka Yoongi dekat dengan Ayah. Kehangatan keluarga Kim mengingatkannya pada ingatan manis keluarga lengkap yang sungguh ia dirindukan. Hingga sudut bibirnya terangkat. Menoleh memandang Jungkook yang tampak bahagia bertukar lelucon dengan putera tunggal keluarga Kim dihadapannya, saling menggoda hingga gelak tawa menggema.
"Kenapa Kakak tidak masuk sekolah dua hari kemarin?"
Taehyung yang terjebak dalam tawanya mendadak terdiam, raut wajahnya berubah datar dengan sorot mata menyendu.
"Kak?" Jungkook mengulang.
"Ah itu, Taehyung sedang kurang sehat Jungkook-ah. " Ibu Kim menyela, merasa suasana ruang makan menjadi hening seketika melihat bagaimana Taehyung menunduk dengan jari saling bertautan.
Jungkook terdiam mencerna apa yang dikatakan ibu dari sahabatnya ini, merasa sesuatu mengganjal. Tetapi Jungkook memilih mengangguk pelan, ia tak ingin merusak hangatnya makan malam acara penting keluarga bahagia ini.
"Sekali lagi terimakasih atas undangan dan hidangannya, Paman Bibi. " Yoongi membungkuk sopan, niatnya pamit. Malam mulai naik dan hal yang buruk jika Yoongi menyetir mobil dalam keadaan mengantuk.
Pasangan Paruh baya itu menganggu dengan senyum teduh, menepuk pundak Yoongi dan mengelus rambut Jungkook. "Sering-sering lah kemari, temani Tae. " pandangan keempatnya mengalih ke presensi lain di samping kepala keluarga Kim. Taehyung tersenyum manis hingga mata, pun Jungkook dan pasang mata yang lain.
Selepas makan malam, Taehyung menjadi pendiam.
Jungkook merasakannya, bahkan saat obrolan-obrolan ringan maupun berat tersampir tetapi Taehyung tetap acuh dan malah asik melamun. Pandangannya kosong, mungkin keadaan hatinya memburuk. Namun saat Jungkook bertanya, sahabatnya itu malah menggeleng dan tersenyum yang membuat Jungkook jengah.
Anak itu pikir mungkin ini bukan waktu yang baik untuk menanyakan keadaan Taehyung, maka Jungkook bungkam hingga mobil Yoongi menjauh dari gerbang rumah megah kediaman keluarga Kim.
"Melamunkan apa?" Jungkook sedikit terjengat, lalu menggeleng menanggapi pertanyaan Kakaknya.
"Mengantuk?" lagi Jungkook menggeleng, pandangannya terkunci disamping jendela mobil dengan rintik air hujan yang mengembun. "Keluarga Kak Taehyung hangat sekali ya kak?" Yoongi mengangguk seadanya.
"Rindu mereka?"
Pikiran Jungkook seperti melayang-layang melihat putaran film lawas diangannya, bagaimana wajah-wajah itu muncul dalam pandangan saat ia menutup kelopak indahnya, seperti kolase tua penuh kenangan bahagia.
"Kita bisa mengunjungi mereka besok. "
"Benarkah?" Jungkook terduduk tegak dengan mata berbinar, Lampu merah menyala dan mobil yang ditumpanginya berhenti.
Yoongi menatap tepat dibola mata bercahaya milik adiknya, benar-benar seperti kaca yang memantulkan cahaya lampu mobil ditambah remang lampu jalan. Sangat Indah.
"Ayah jatuh Cinta setiap hari saat melihat mata bunda. "
Kurva bibir Yoongi terangkat melengkung membentuk senyum. Sebelah tangannya menarik pedal rem dan mobil kembali berjalan dengan kecepatan sedang.
"Tentu, Kakak butuh piknik. Besok sekolah pulang cepat kan? "
Jungkook mengangguk antusias hingga poninya terayun, membuat hati Yoongi menghangat melihat tingkah menggemaskan kelinci bongsor--nya.
***
Jungkook mengikuti langkah lelaki didepannya, dalam sorot cahaya bulan ia bisa melihat walau tak sepenuhnya-- bagian belakang lelaki itu.
Entah mengapa Jungkook rasa punggung itu sangat tidak asing baginya. Dan entah mengapa ia ingin sekali mengikutinya.
Jungkook ingat ini jembatan disungai dekat sekolahnya, dalam gelap ia bisa melihat punggung itu berhenti dan mengalihkan wajahnya. Rambutnya sewarna karamel terkena hembusan angin, lelaki itu tersenyum. Namun Jungkook mematung dengan kaki gemetar hebat.
Perlahan lelaki kurus itu berjalan kedepan, hingga hampir menyentuh bibir jembatan--
"JANGAN!"[]
KAMU SEDANG MEMBACA
Dream Sight
Hayran Kurgu[ TrueFanficIndo April'19 reading list ] ------ Jungkook benci jika harus selalu melihat takdir seseorang. Chaptered Brothership YK - - - Story©SasyaW Cast©BTS bighit entertaiment, their parents Cover©CanvaXpinterest
