DI TAMAN BELAKANG sekolah itu.. masih hening. Baik Laras maupun Trian, tak ada yang memulai pembicaraan. Laras yang duduk di bangku taman dan Trian yang berdiri menyender pada pohon besar serta melipatkan kedua tangannya di depan dengan masih terus menatap Laras.
Laras yang risih akhirnya menghembuskan napas gusar.
"Kenapa kamu liatin aku?" Tak ada panggilan nama. Trian menyayangkan hal itu.
"Kamu dan Arayan-"
"IYA!" Belum sempat Trian melanjutkan ucapannya. Laras telah menyelanya.
"Hmm, aku tidak tahu maksudmu berkata 'iya'. Bisa jelaskan.. agar aku tak salah paham." Trian mencoba membujuk Laras agar gadis itu mau menjelaskan sesuatu yang terjadi padanya dan Arayan.
Tiba-tiba tamu tak diundang datang menghampiri keduanya. Arayan, lelaki itu duduk di samping Laras. Tepatnya, berada di tengah-tengah Laras dan Trian.
"Ngapain lo disini?" Trian menatap tak suka pada Arayan yang seenaknya mengganggu introgasinya pada Laras.
"Nemenin cewek gue lah!" Tak mau kalah. Arayan dengan berani menjawab.
Arayan menatap Laras yang kini menampilkan raut wajah terkejutnya. Kemudian, ia berusaha menetralkan ekspresinya untuk mengikuti alur permainan Arayan.
"..." Trian membisu di tempatnya. Bak terjatuh dari lantai yang paling tinggi dan menghempaskan diri di kerasnya tanah. Begitulah, gambaran perasaannya kini.
"S-selamat kalau gitu. Gue.. gue ikut seneng lihat Laras seneng." Trian berusaha biasa saja. Walau tak dapat di pungkiri bahwa hatinya sedang hancur.
"Gue duluan." Trian beranjak. Laras pun hanya dapat menatap punggung Trian yang lama-lama mengecil di pandangannya.
Seusai kepergian Trian. Arayan tersadar bahwa sedari tadi tangannya menggenggam tangan Laras. Ia pun melepasnya. Laras menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan menarik napas karena berada di antara keduanya membuat udara di sekitarnya menipis.
"Sorry, Ras." Ucap Arayan seusai melepaskan tangan Laras.
"Ekhmm..Arayan, maaf soal ucapan Laras ke Trian tadi. Laras tahu, Arayan menguping sedari tadi."
Saat berbincang, mata Laras menangkap sosok bayangan pria yang tergambar jelas di samping tembok. Siapa dia?
"Iya, gak masalah." Arayan mengulas senyumnya.
"Dengan cara itu, lo bisa lihat 'kan?" Arayan melanjutkan perkataannya yang disambut dengan raut bingung yang tercetak jelas di wajah Laras.
"L-lihat apa, Arayan?"
"Ck!" Arayan berdecak kesal. Laras tidak peka!
"Trian itu sayang sama lo! Lo gak peka, sih!" Laras mendelik mendengarkan ucapan Arayan.
Sejenak ia berpikir. Dari ekspresi Trian tadi, memang menunjukkan bahwa lelaki itu sedang menahan amarahnya. Tapi, perasaan? Siapa yang tahu?
"Mana mungkin.." Laras tak percaya diri mengklaim bahwa Trian juga merasakan hal yang sama sepertinya.
"Lo cuman cukup buka mata lo, Ras."
"Bahwa.. persahabatan antara laki-laki dan perempuan itu mustahil. Tak pernah ada."
"Jika, salah satunya tidak ada yang terjatuh dalam sebuah perasaan.."
"..yang disebut Cinta."
***
KAMU SEDANG MEMBACA
LarasTrian [Completed]
Ficção AdolescenteCerita ringan, insya'allah seringan kapas. Ehe Mengisahkan dua insan yang merajut persahabatan sejak lama. 10 Tahun. Terlalu mainstream, kalau jatuh cinta sama sahabat sendiri. Relakah mereka mengganti label 'sahabat' dengan 'pacar'? Ini loh! Kalima...
![LarasTrian [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/180625256-64-k119976.jpg)