BAB XXXVI

469 35 0
                                        

EMOSI Trian memuncak ketika membaca sebaris pesan dari Arayan itu. Hatinya tak rela. Jika Arayan menyatakan dirinya akan menjadikan Laras sebagai kekasihnya.

Trian pun berusaha menghubungi Arayan dengan meraih jaket. Tak ada jawaban apapun dari Arayan. Trian mengenakan jaketnya dengan asal.

Dia berjalan cepat menuju garasi rumahnya dan memilih motor sebagai pengantarnya untuk menggagalkan rencana Arayan malam ini.

"Brengs*k!" Umpatnya sebelum menaikki motornya.

Trian melajukan motornya membelah jalanan malam itu. Sedikit ramai dari hari biasanya, karena memang malamnya para muda-mudi. Tak perduli dengan beberapa klakson.

Trian mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi karena dia mahir tentu saja kepercayaan dirinya meningkat. Ia akan selamat sampai tujuan.

Rumah Laras.

Trian mengetuk pintu rumah Laras dan mengucapkan salam. Dua kali ketukan salamnya terabaikan, Trian mulai gusar. Saat ia akan pergi, tiba-tiba pintu terbuka dan menampakkan sosok lelaki paruh baya yang diketahui Trian. Bapak Laras.

Trian pun menyalimi tangan Bapak Laras dan meminta maaf karena telah mengganggunya malam ini.

"Laras ada, Pak?"

"Loh.. Laras nggak bilang kamu. Dia tadi pergi bersama Arayan. Sekitar 1 jam yang lalu."

"Apa!!?" Arayan semakin gusar.

***

Sementara itu. Di tempat lain, Laras sedang menunggu kelanjutan dari kalimat Arayan yang menggantung.

"Bisa gantiin Trian di hati lo." Arayan tersenyum tulus.

Laras membelalakkan matanya. Arayan tersenyum adalah sesuatu yang berbahaya. Jika, Arayan tersenyum dengan tulus maka ini berarti serius. Laras tak ingin.. ia tak bisa.

"Hahahha.." Laras berusaha untuk tertawa. Walau ia sebenarnya tak sedang tertawa sungguhan kali ini.

"Ras, kenapa ketawa?" Arayan mengembalikan raut wajahnya menjadi mode garang.

"Eh...enggak. Arayan lucu."

"Lucunya dimana?"

"..." Laras tak bisa menjawab.

Laras beripikir keras untuk mencari topik perbincangan, agar Arayan tidak memburunya dengan pertanyaan-pertanyaan yang memojokkan dirinya yang tadi tertawa kencang.

"Lo mikirin apa?" Arayan membuat Laras tersentak.

"Gue serius, Ras." Lanjut Arayan. Laras tahu maksud lelaki itu. Tapi, hatinya.. masih sepenuhnya untuk Trian seorang.

"Lo mau 'kan?"

"M-mau apa?" Gugup Laras karena melihat Arayan yang menatapnya dengan tatapan serius.

"Mau ngelupain Trian dan membuka hati lo buat gue."

***

LarasTrian [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang