LARAS POV
AKU mencintai Trian. Entah, apa yang membuatku menyimpan rasa gila terhadap sahabatku itu. Pasalnya, kami bersahabat tidak dalam kurun waktu satu dua tahun. Melainkan, sepuluh tahun lamanya.
Tapi, aku tak tahu.. mengapa baru tahun ini aku menyadari rasaku terhadap Trian?
Aku menghela napas dan berjalan menuju pada sekumpulan anak-anak kecil yang tengah asyik spelling nama-nama buah dalam bahasa inggris bersama Arayan.
Iya. Arayan, si ketua Tatib super tertib dan tegas itu. Dia menjelma menjadi sosok yang ceria dan ramah tatkala bersama anak-anak kecil itu.
"Apple!"
"Apple!" Anak-anak itu berseru kompak menirukan Arayan, walau mereka tidak begitu fasih dalam melafalkannya.
"Watermelon!"
"Watermelon!" Lagi, mereka berseru hingga Arayan menyadari kehadiranku.
"Eh, Ras.. gue kira lo nggak datang." Arayan menghampiriku dan menarik pelan pergelangan tanganku.
"Perkenalkan ini namanya Kak Laras. Dia teman Kakak." Arayan tersenyum begitu manis pada anak-anak kecil yang usianya kira-kira mulai dari 3 hingga 5 tahunan.
"Haloo!" Seruku sambil melambaikan tangan.
"Hai!!" Mereka serempak menjawab, membuat hatiku menghangat.
"How are you?"
"I'am fine. And you?" Mereka menanyaiku balik.
"I'am fine too thank you."
Aku pun membantu Arayan untuk proses belajar mengajar bersama adik-adik kecil itu. Aku merasa sangat senang. Setidaknya, kesenanganku tidak hanya bersama Trian. Arayan pun juga ikut menjadi pelengkap.
Arayan sahabatku.
"Laras nggak nyangka kalau Arayan bisa seperti itu." Aku menunjukkan kekehan geliku pada Arayan yang memberiku kaleng minuman bersoda yang telah dibukannya.
"Makasih." Aku menerima minuman dingin itu.
"Gue setiap satu bulan sekali.. selalu kumpul sama anak-anak itu. Setiap hari minggu di minggu terakhir tepatnya." Jelas Arayan, aku hanya mengangguk-angguk.
📩 Arayan : Ras, nanti lo bisa nggak ke Taman Lampion. Pagi, sekitar jam 9 pagi.
Begitulah pesan singkat Arayan yang membuatku melakukan kegiatan di hari libur ini. Meninggalkan kisahku dengan Trian yang sedari kemarin belum mengabariku.
Huh! Kemana dia?
Saat aku hendak membuka knop pintu kamarku, ponsel yang sedari tadi digenggamanku bergetar.
Trian is mine♡ is calling📞
"Halo-" Belum sempat aku melontarkan amarahku.
Trian menyahutnya terlebih dahulu, "Ras, aku di luar." Aku pun celingukan.
Dan berjalan ke arah pintu rumahku. Begitu terbuka, sosok Trian sudah berdiri di sana. Lelaki itu berpakaian rapih. Mengenakan celana bahan kain berwarna cream dan hem berwarna putih polos. Rambutnya nampak klimis.
Aku menghadiahinya dengan tatapan cemberut andalanku, "Siapa, ya?"
Seketika, Trian tertawa. Aku masih tetap mempertahankan raut wajahku.
"Masa depannya, Laras." Dengan santainya dia menjawab dan tersenyum begitu manis. Ingin sekali aku menendangnya.
"Ada apa!!? Masih inget sama Laras?"
"Aku bahkan gak bisa lupain kamu, Ras." Trian terkekeh pelan. Kemudian, mengulurkan tangannya mengusap lembut rambutku.
"Aku kemarin pergi kerumah nenek. Rumahnya di pedesaan cukup terpencil. Susah sinyal, Ras."
"Alesan!" Aku menatapnya tajam, berusaha mencari kebohongan di matanya. Namun, nihil. Ia jujur.
"Ya udah. Sebagai tanda maaf aku karena nggak ngabarin kamu, yang kayaknya udah khawatir setengah mati." Lagi-lagi Trian mengusap pucuk kepalaku. Aku kesal. Hei!
"Yuk! Nonton." Trian menarik tangan kananku menuju motornya yang terparkir di luar gerbang rumahku.
"Gak mau!"
"Terus maunya apa?"
"..." Aku menggeleng dan melipat kedua tanganku di depan dada. Bersedekap.
"Maunya apa, hm? Makan? Aku dengar-dengar, ada tempat makan kekinian dan instagramable di sekitar Taman Kota." Aku masih mempertahankan kegengsianku. Walau sebenarnya aku ingin kesanaa.
"Menunya enak-enak, Ras."
"Kayak kamu pernah kesana aja!" Aku kesal dengannya yang sok itu.
"Yaaa.. kemarin sepupuku kesana. Cerita ke aku. Katanya di sana jual makanan super pedas. Kayak seblak, mie-"
"Ya udah, ayo!" Aku menepikan sejenak rasa gengsiku. Perutku sepertinya butuh makanan enak hari ini.
Trian pun mengenakan helmnya dan menyalakan motornya. Tak lupa, ia juga memberiku sebuah helm. Aku memakainya dan naik di jok belakang motor Trian.
Begitulah, kisahku dan Trian. Pertengkaran kecil memang kerap terjadi. Sebuah hubungan tanpa pertengkaran itu, rasanya hambar. Bak sayur tanpa garam.
"Kalau urusan makanan aja.. langsung ngambeknya pending." Trian bergumam.
"Ngomong apa? Yang keras! Laras nggak dengar." Aku mencubit pinggang Trian.
Salah siapa bergumam tentang aku yang ngambek. Padahal Trian yang salah. Meskipun, Trian nggak salah. Dia tetap bersalah! Cewek selalu benar. Ingat!
Haha.
Tidak lucu. Namun, berhasil membuat kesalku hilang. Bahagiaku datang dan resahku reda bahkan nyaris lenyap.
Sekian, kisah indahku bersama Trian. Trian dan aku selamanya bersama. Aamiin.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
LarasTrian [Completed]
Teen FictionCerita ringan, insya'allah seringan kapas. Ehe Mengisahkan dua insan yang merajut persahabatan sejak lama. 10 Tahun. Terlalu mainstream, kalau jatuh cinta sama sahabat sendiri. Relakah mereka mengganti label 'sahabat' dengan 'pacar'? Ini loh! Kalima...
![LarasTrian [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/180625256-64-k119976.jpg)