Happy Reading!
'Dimana rumah nenekmu? Kebetulan saya sedang dibandung. Saya mau menjenguk nenekmu.'
Kata - kata itu terus terngiang di kepala Sita yang tengah membeku menatap layar ponsel yang sudah mati. Sesaat ia melamun, mencoba meyakinkan diri bahwa ia tengah bermimpi. Tapi, kenyataan tidak begitu. Ia tidak sedang bermimpi.
"Oh Tuhan!" Sita meremas rambutnya frustasi.
Sama sekali tidak tahu harus berbuat apa. Berbohong memang bukan keahliannya. Kali ini tamat sudah, ia pasti akan berakhir. Apa yang harus ia lakukan? Mengatakan yang sebenarnya? Atau kembali berbohong?
Sita kembali membuka ponselnya. Mencari nama Hendra sebelum menghentikan niatnya. Tidak bisa. Ia tidak bisa menghubungi Hendra sekarang. Karena seingatnya Hendra bahkan lupa untuk menghubunginya jam 10. Tapi..
Ponselnya mati.
Tidak punya banyak waktu, Sita akhirnya menekan nomer yang pertama kali terlintas di kepalanya.
**
Mahesa menunggu dengan tenang di mobilnya. Sebelah tangannya mengetuk - ngetuk setir mobil, sementara yang lain memegang ponsel miliknya. Berharap balasan segera masuk. Namun, tidak ada tanda - tanda balasan setelah begitu lama ia menunggu. Membuatnya yakin jika Sita telah berbohong mengenai neneknya.
Bayangan akan Sita dan Hendra menghabiskan malam bersama, membuat Mahesa kesal. Ia tidak mengerti kenapa dirinya bisa begitu tidak senang. Bahkan ia sadar dirinya sudah gila karena memutuskan untuk pergi ke Bandung secara tiba - tiba.
Tubuhnya bergerak tanpa bisa ia cegah. Saat sadar, Mahesa telah membawa dirinya menuju bandung. Karena sudah terlanjur, kenapa ia tidak sekalian meyakinkan dirinya?
Ia hanya perlu tau bahwa Sita tidak menghabiskan waktunya bersama Hendra. Tidak. Pikiran itu benar - benar menganggunya. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa benar kata Anna? Dia menyukai Sita?
Sialan.
Mahesa tidak bisa menunggu lebih lama. Sudah hampir 1 jam ia menunggu balasan Sita dan tidak bisa lebih lama lagi. Ia harus memastikan sendiri jika wanita itu tidak berbohong dan bersama pria itu.
"Dimana kau?" Suara Mahesa terdengar hampir seperti seruan saat akhirnya Sita menjawab panggilannya.
Butuh beberapa detik untuk Mahesa bisa bernafas lega setelah mengetahui Sita berada di rumah neneknya. Namun, ia harus memastikannya. Bisa saja Sita berbohong.
"Dimana rumah nenekmu? Aku akan kesana. Tidak, aku akan tetap datang. Kirimkan aku lokasinya. Sekarang." Ujar Mahesa yang terdengar seperti perintah.
Ia lalu menunggu Sita mengirimkan lokasi rumah sang nenek sebelum kembali mengemudikan mobilnya.
Tidak butuh lama bagi Mahesa menemukan lokasi rumah nenek Sita, karena kebetulan posisinya berada di dekat daerah tersebut. Ia membeli buah tangan lebih dulu sebelum menuju rumah nenek Sita. Jalanannya terbilang cukup sulit, karena harus memasuki gang kecil yang untungnya masih bisa dilewati mobilnya. Menemukan nomor rumah yang sesuai, Mahesa terdiam. Terlihat bingung harus memarkirkan mobil dimana.
Akhirnya, ia menghubungi Sita.
"Halo? Kamu dimana? Saya sudah di depan." Ujar Mahesa.
'Saya dibelakang bapak.' Jawab Sita yang membuat Mahesa menatap kaca spionnya dan menemukan sosok Sita di belakang mobilnya.
Wanita itu berdiri dengan sebuah plastik belanja di lengannya. Menunggu Mahesa menjawab kembali dan akhirnya berjalan menuju jendela mobilnya.
Terlihat Sita mematikan ponselnya dan mengetuk jendela mobil Mahesa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Marsita & Mahesa
RomansaMarsita Aysha Yusuf Wanita berusia 22 Tahun, bertubuh gemuk, dengan penampilan biasa, memiliki kepintaran standar, belum memiliki pengalaman pacaran satu kalipun. Hidup Sita awalnya begitu damai, hingga ia dipertemukan dengan seorang pria arogan yg...
